Showing posts with label Kisah Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Kisah Hikmah. Show all posts

Bagiku Mereka Permata Surga

Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat pucuk batang bambu menari dengan lemah gemulai. Gesekan-gesekannya menimbulkan melodi khas desa yang menyejukkan. Sayup-sayup terdengar suara tetangga yang saling bertegur sapa. Mungkin hanya obrolan ringan, sebelum melanjutkan langkah menuju ladang untuk bercocok tanam. Meluangkan waktu sejenak agar tali persaudaraan senantiasa terjaga.

Aku termenung mengamati sekitar, rumah kecil sederhana yang masih berdinding kayu di beberapa sisi, atap dari seng yang mulai lapuk termakan usia, dan rayap-rayap kecil yang menggerogoti kayu-kayu penopang pintu. Tak ada air PDAM, harus menimba untuk memenuhi ember penampungan di kamar mandi. Dibelakang tanah luas berisi tanaman cabai yang mulai mengering terkena hama, atau beberapa pohon bayam yang tumbuh subur di dekat kandang tak berpenghuni.

Sangat sederhana, namun terasa begitu nyaman untuk dihuni, karena cinta dan keharmonisan yang mendominasi di setiap ruang di gubuk ini. Ayat-ayat suci yang setiap hari terlantun, membawa kesejukan yang berbeda, di tengah panasnya hawa desa di penghujung kota Cilacap ini. Pulang adalah hal yang selalu kurindukan. Karena disinilah sumber kebahagiaan, setiap obrolan senantiasa berpautan dengan KeEsaan Allah SWT. Charger iman, dari nasehat-nasehat tulus yang senantiasa kedua orangtua berikan.

Terkadang terselip keinginan untuk membawa mereka hijrah ke Bandung, dimana kini aku dan suami menetap, karena selama tiga tahun tinggal disini, Bapak belum memiliki pekerjaan yang tetap, berusaha menanam ini itu, namun belum juga membuahkan hasil. Alhamdulillahnya, sayur mayur yang ditanam bisa dimasak ketika lumbung mulai menipis. Tetapi beliau tidak menyerah, tetap berusaha merawat tanam-tanaman itu. Menyiram berpetak-petak tanah, menimba berember-ember di sumur, dan dengan sangat telaten melihat perkembangan tanaman tersebut. Di usia senjanya beliau tetap bersemangat, berkahi usianya yaa Allah, jadikanlah kedua orangtuaku ahli surga. aamiin 😢

Atau Ibu yang setiap hari berjualan di warung, adakalanya dalam seminggu tidak ada satupun dagangannya yang laku. Kalaupun laku takkan lebih dari 50.000 dalam seminggu.
"Rezeki Allah yang atur, tugas kita hanya menyempurnakan ikhtiar." selalu itu yang Beliau katakan, tak ada keluh kesah, setiap episode kehidupan bisa dinikmati. Dalam lapang maupun sempit, dalam suka ataupun duka.

***

Pernah suatu ketika kuutarakan pendapat agar sekeluarga hijrah ke Bandung, tapi jawaban beliau sungguh menohok.

"Kalau hanya memikirkan dunia, pasti ada keinginan untuk hidup yang lebih baik. Yaa meskipun disini hidup serba berkecukupan, tetapi bisa banyak berdakwah. Rasulullah SAW saja sampai menggunakan batu untuk menahan rasa laparnya, kita belum ada apa-apanya. Masih bisa makan, meski harus gali tutup lubang. Masa mau menyerah? Kita belum ada apa-apanya loh di banding dengan Rasulullah. Bapak dan Ibu memiliki cita-cita, bisa berdakwah lebih luas, membangkitkan semangat umat untuk terus belajar, mengenalkan nilai-nilai Ketauhidan. Mungkin saat-saat inilah, Allah mengabulkan doa-doa Ibu dulu. Dulu saat Ibu sibuk membuat kue, terbersit keinginan suatu saat nanti ingin fokus belajar dan berdakwah, dan Allah mengabulkan permintaan itu, sambil jaga warung Ibu bisa fokus membaca, mendengarkan kajian-kajian, sehingga ibu mempunyai bekal ilmu untuk menyampaikan. Begitupun Bapak, semangat belajar dan mengajarkannya begitu tinggi di sini."

Dan aku hanya terdiam. Malu. Tak bisa berucap apapun. Sekaligus bahagia memiliki orangtua yang begitu bersemangat dalam menuntut ilmu. Memiliki orangtua yang sabar mendampingi putranya yang di uji dengan penyakit skrizofernia selama belasan tahun. Dan sampai sekarang pun beliau yang setia mendampingi kakak berobat setiap bulan, berangkat pagi pulang petang, dengan ongkos yang lumayan mahal. Sejak kakak masih sering mengamuk, hingga kini menjadi penghafal Al-Qur'an. Dan apa hikmahnya...??? Setiap kalimat yang terucap dari lisannya selalu syarat akan makna. Ibu bukan seorang sarjana, namun pengetahuannya begitu luas, dan nasehatnya sangat membekas.

Mereka berdua adalah inspirasiku, orang-orang kebanggaanku. Nasehat demi nasehat yang senantiasa mereka utarakan mampu menguatkanku, dengan kalimat-kalimat yang sangat sederhana namun syarat akan makna. Bersua dengan mereka adalah waktu yang ditunggu-tunggu, ketulusan doa mereka terasa menggetarkan kalbuku.

Yaa Rabb, jadikanlah kedua orangtuaku penghuni surgaMu, kumpulkanlah kami di JannahMu. Semoga lelah perjuangan mereka menjadi penggugur dosa, semoga kesabarannya menjadi pemberat amal kebaikannya, Yaa Allah yang Maha Penyembuh, sembuhkanlah kakak hamba, Sehatkan keluarga hamba, dan bukakanlah hikmah di setiap kejadian yang kami temui. Aamiin

Rumah Seribu Cinta

"Apa kamu tidak malu melakukan semua ini?" tanyaku pada gadis kecil yang tengah sibuk mencari paku-paku bekas. "Lihatlah teman-temanmu pergi sekolah menuntut ilmu, sedangkan kamu pagi-pagi sudah mencari rongsokan..."

"Kenapa harus malu?" jawabnya masih asyik memainkan magnet bekas di sebuah parit kecil di desanya. Sesekali senyumnya mengembang ketika magnet berhasil menarik sebuah paku atau serpihan besi. Dengan antusias dia memasukannya ke kantong plastik yang sudah ia persiapkan.

"Kamu tidak sekolah...?"

"Kata Ibu tahun depan... Karena di sekolahku yang dulu aku terlalu bandel, sering membuat Ibu khawatir..."jawabnya dengan polos. " Kamu tau kak, aku senang menjelajah dan serba ingin tau, karena dulu sekolahku sangat jauh, langkah kakiku pun semakin jauh. Aku sering pergi ke hutan mencari buah kecil yang menurutku sangat enak. Tak perduli meskipun itu terletak di tepi jurang, itulah yang membuat Ibuku khawatir..."

"Hanya untuk sebuah buah kecil yang menurutmu enak, kamu sampai masuk hutan begitu. Kenapa kamu tidak meminta ke Ibu?"

Ia terdiam, kemudian menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Ibu tak punya uang, Aku jarang mendapatkan uang saku, kasihan Ibu...Bisa makan saja sudah Alhamdulillah..." wajahnya berubah menjadi sedih. "Aku mencari rongsokan, mengumpulkan cengkeh dan mengeringkannya untuk dijual, agar aku bisa jajan..."

Kini aku yang terdiam, gadis sekecil itu sudah merasakan getirnya kehidupan. Namanya Viona, ia anak ke empat dari lima bersaudara. Saat ini keluarganya memang tengah diuji dengan kesulitan ekonomi, Peternakan Ayahnya bangkrut, dan hingga sekarang orangtuanya belum memiliki pekerjaan yang tetap.

*  *  *

Sudah lama aku memperhatikan kehidupan keluarga Viona, bukan bermaksud untuk memata-matai, namun mencari sebuah pelajaran hidup dari keluarga kecil itu. Meskipun kehidupan mereka kekurangan dalam urusan harta, keluarga mereka terlihat begitu harmonis. Tak pernah terdengar keluhan dari mereka. Bahkan Viona dan ketiga kakaknya selalu berprestasi di sekolah. Yah... sebelum keluar, ia mendapatkan rangking pertama di kelasnya dengan nilai yang sempurna, begitu juga ketiga kakaknya.

Dari cerita Ibunya, Beliau sengaja mengeluarkan Viona karena beliau takut, ia sering pergi jauh sendirian, bahkan dia pernah pergi ke asrama teman sebangkunya yang beragama Katolik. Dan sempat juga meminta pindah agama agar dia bisa merayakan Hari Natal. Polosnya gadis kecil itu...

Semenjak Viona berhenti sekolah, setiap pagi dia memungut cengkeh yang berserakan di kebun bawah rumahnya. Dengan telaten dia memungut satu demi satu, mengeringkannya sampai benar-benar kering, dan menjualnya di sebuah warung yang ada di desanya. Sekilo cengkeh kering dihargai Rp 5.000,-. Untuk mendapatkan sekilo cengkeh kering saja ia harus mengumpulkan cengkeh selama sebulan. Dia begitu telaten. Atau ketika dia mencari rongsokan, dia mempunyai cara yang begitu kreatif, dia menggunakan magnet yang ditali menggunakan tali rafia, sehingga lebih memudahkan dia mencari paku bekas, tak perlu lagi harus mencebur ke parit. Ketika kutanya dari mana ide itu, dia mengatakan dari buku. Bukankah itu materi pelajaran kelas IV SD...???Tapi dia sudah mengetahuinya...

Ternyata di keluarga Viona memang dibiasakan membaca buku, Ibunya begitu telaten menemani ke-empat anaknya belajar, bahkan menjelaskan apa yang anak-anaknya tidak ketahui. Sang Ibu selalu meluangkan waktunya untuk belajar bersama. Viona dan ketiga kakaknya juga rajin pergi mengaji, tak mengherankan mereka begitu lancar membaca Ayat-ayat suci.

*  *  *

12 Tahun kemudian disaat aku kembali ke desa itu, kudengar satu demi satu keluarga Viona telah meraih kesuksesannya. Namun ternyata, ujianbkembali datang, kakak pertamanya yang super cerdas, dan puitis menderita penyakit Skrizofernia, sebuah penyakit yang mengganggu kesehatan jiwanya. Tapi yang membuatku heran, tetap saja suasana keluarga itu adem ayem. Seolah-olah keluarga mereka baik-baik saja.

Padahal menurut cerita tetangga, kalau sedang kambuh. Sang kakak sampai mengamuk dan membanting barang-barang yang ada disekitarnya. Nah, untuk meredam setiap hari harus minum obat. Setiap bulan harus berobat, dan sekali pengobatan juga lumayan. Hemmttt, perjuangan banget disela-sela kesulitan yang tengah menimpa.

Iseng kucoba bertanya kepada Ibunya, apa resep yang membuat keempat putra-putrinya kuat menghadapi ujian kekurangan harta yang mungkin aku sendiri tak mampu melaluinya. Bahkan pernah suatu ketika, kakak ketiganya tidak bersekolah karena tidak memiliki uang transport. Sedih dengernya. But, you know, di SMA Terfavorit itu, sang kakak menjadi anak kesayangan guru dan teman-temannya, karena prestasi dan kemampuannya dalam berorganisasi. Dan sekarang, beliau menjadi salah satu orang penting di sebuah perusahaan besar di Indonesia.

Viona sendiri tinggal di panti asuhan agar tetap bisa bersekolah. Dan dia tetap menjadi anak yang unik, jarang belajar, hobi jualan, namun sampai kelas XII selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Bisa mengikuti berbagai lomba lagi. Sedangkan kakak perempuannya, menjadi Bendahara di salah satu SD Muhammadiyah terbesar di Yogyakarta. Ternyata perjuangan mereka membuahkan hasil yang membanggakan. Jujur aku iri, hidupku serba berkecukupan, sehingga aku lupa untuk berjuang lebih keras. Proses memang tak pernah menghianati hasil.

Beliau mengatakan, "Semua yang terjadi dalam kehidupan keluarga saya sudah tertulis di Yaumul Mahfudz. Dan di Al-Qur'an sudah sangat jelas dituliskan bahwa Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan hambaNya. Keyakinan itulah yang saya tanamkan kepada anak-anak. Dan memberikan pengertian kepada mereka, jadikanlah hal-hal yang tidak mereka sukai menjadi motivasi untuk meraih prestasi."

"Memang menananmkan nilai-nilai itu tidak mudah, seringkali mereka ngedrop karena ejekan teman-teman sebayanya, namun semua itu kembali lagi kepada kita sebagai orangtua, bisa atau tidak membangkitkan semangat mereka. Untuk bisa melakukan itu, kita sebagai orang tua juga memerlukan ilmu untuk bisa membimbing dan mengarahkan mereka. Intinya kita sebagai orang tua harus menjadi Tauladan terlebih dahulu..."

Nyesss... Subhanallah, kata-kata Beliau begitu menyejukkan hati. Membuatku semakin tertarik untuk semakin banyak bertanya. "Sekarang Ibu mulai sibuk dengan pekerjaan yang Ibu geluti, lalu bagaimana Ibu bisa mendapatkan ilmu baru tiap harinya?" Yaa, sekarang Ibu dan Bapak membuka usaha kue kecil-kecilan. Cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sang Ibu tersenyum, "Belajar tidak harus dengan duduk dan membaca buku, apalagi sekarang teknologi semakin maju. Ibu tetap bekerja sembari mendengarkan radio motivasi, apabila ada hal-hal yang penting, Ibu menyatatnya. Jadi sebelum memulai pekerjaan siapkan kertas kecil saja untuk mencatat ilmu baru, dan ketika pekerjaan sudah longgar, Ibu menyempatkan diri mengembangkan inti-inti ilmu tadi dalam catatan khusus dan sharing dengan anak-anak setelah selesai mengaji setiap harinya. Jadi mereka selalu memiliki motivasi baru tiap harinya. Dan untuk anak-anak yang diluar kota pun sama, saya sering mengirimkan kata-kata atau motivasi-motivasi positiv untuk menyemangati mereka..."

Dalam hati aku berazzam, suatu hari nanti aku akan menjadi ibu yang hebat, dan ibu yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Beliau memang tidak begitu dikenal, namun bagiku keluarga ini sangat menginspirasi. Viona sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang tengah berjuang menggapai mimpinya, tergantikan dengan Bayu, anak Bungsu yang kecerdasan akademiknya mulai terlihat.

Semua yang terjadi mengandung hikmah, namun tak selalu kita bisa mengambil dan mengumpulkannya. Rumah sederhana ini begitu nyaman untuk kusinggahi, di rumah sederhana ini kepahitan menjadi pemacu semangat, di sini mimpi-mimpi besar diceritakan, di rumah ini pula cinta begitu terasa. Dan aku sering menyebutnya "Rumah Seribu Cinta"


Adverstisement

Adversitement