Showing posts with label Cerpen Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Cinta. Show all posts

Karena Hujan Mempertemukan Kita




Karena Hujan Mempertemukan Kita
Siang itu langit tampak gelap. Sepertinya tak lama lagi hujan akan turun dengan deras. Terbukti dengan suara gemuruh yang menggelegar, disertai kilat putih yang menyambar di belakang bukit. Angin berhembus sedikit kencang, menyapu daun-daun kering yang berguguran tadi siang, membuat daun-daun kuning itu berterbangan di halaman. Via terlihat asyik menikmati pemandangan itu, sebuah senyuman menghiasi wajah ayunya. Gadis manis, kelas 2 SMA itu begitu menyukai hujan.
"Via, kenapa sih Lo suka banget sama hujan?" Tanya Nabila disela-sela pelajaran Biologi.
"Hujan itu anugrah, Bil. Bunga-bunga yang gue rawat bisa tumbuh dengan subur, dan itulah yang gue tunggu-tunggu selama ini. Dan hujan juga yang menyembunyikan kesedihan yang gue rasakan selama ini." Ujar Via bahagia, karena hujan mulai turun."Oh iya, Bil. Kalian nanti duluan aja ya. Kayaknya gue masih ada bimbingan deh."
"Oke Vi..." Nabila kembali mencatat materi Biologi.
***
Langit sudah mulai menguning saat Via selesai bimbingan mapel Fisika untuk perlombaan minggu depan. Namun hujan belum juga reda. Via menengadahkan tangannya ke langit, bulir-bulir air hujan menetes ke telapak tangannya. Gadis itu tersenyum, ia berniat menerobos hujan yang cukup deras, namun tiba-tiba ada seseorang yang memayunginya.
Via menoleh, seorang cowok dengan tinggi badan kira-kira 180 cm, bertubuh kekar, berambut cepak, memiliki gigi gingsul dan dua lesung pipit di pipinya. Cakep. Cowok itu tersenyum menatap Via. "Kalau Elo berniat menjadi juara, Lo ngga boleh hujan-hujanan."
Via tersenyum, "Kok kakak tau kalau gue mau lomba?" Tanya Via heran, ia memanggil kakak karena cowok yang berdiri di depannya adalah seniornya. Terlihat dari seragam yang ia kenakan.
"Gue nglihat Lo keluar dari Lab Fisika sesore ini, sendirian pula." Jawabnya simpel. "Dari pada Lo ujan-ujanan dan jatuh sakit, mending pulang bareng Gue. Seenggaknya Lo ngga kehujanan sampai halte."
Via mengangguk setuju, keduanya berjalan beriringan menerobos hujan yang semakin deras. Kedua siswa itu berjalan dalam diam. Sesekali Via membiarkan telapak tangannya basah terkena air hujan. Dan cowok itu hanya tersenyum melihat apa yang Via lakukan.
"Hati-hati di jalan ya." Ujar kakak kelasnya, saat mereka sampai di halte.
"Loh, kakak ngga naik bus?"
Cowok itu menggeleng, "Rumah gue deket sekolah kok." Ia tersenyum. "Bye..."
Via menatap kepergian kakak kelasnya hingga hilang di perempatan jalan. "Jadi dia ke halte cuman nganterin gue? Dan bodohnya, gue mau aja. Padahal kan gue ngga pernah naik bus!" Via menepuk jidatnya. Ia bergegas menghubungi supir ayahnya untuk segera menjemputnya.
"Oh My God, gue sampai lupa!!! Ngga nanya namanya siapa, bahkan gue belum sempat mengucapkan terima kasih. Duhhh... kenapa gue jadi lemot gini sih?"
***
Via melangkah perlahan-lahan saat menyusuri koridor kelas menuju perpustakaan. Gadis itu selalu memanfaatkan jam kosong untuk membaca di perpustakaan.
"Hei..." bisik seseorang saat Via mengambil novel.
Gadis cantik itu menoleh, "Kakak...!!!" Pekiknya karna kaget.
Cowok itu langsung membungkam mulut Via dengan tangan kanannya. "Ini perpustakaan Non, bukan lapangan!!!"
"Maaf..." Via hanya meringis. Dan juga salah tingkah, karena tiba-tiba ada rasa aneh yang menyelinap dalam hatinya. "Kakak ngapain di sini?" Tanya Via berbisik.
"Belajar atuh Non, masa makan sih!!! Gue mau belajar Fisika, sepertinya gue butuh bantuan Lo deh..."
"Oke deh, itung-itung balas budi kemarin. Oiya Kak, gue Via." Ia mengulurkan tangannya.
"Gue Rangga." Cowok itu menjabat tangan Via. Keduanya tertawa kecil lalu bergegas ke ruang baca. Via menerangkan pelajaran Fisika kelas XII dengan lancar, bahkan dia bisa membuat cara kreatif untuk menghafal rumus. Dan penjelasan Via membuat Rangga lebih paham sekarang. Namun bel pergantian pelajaran memaksa mereka untuk berhenti.
"Makasih ya Vi, sepertinya gue harus privat sama Lo!" Ujar Rangga takjub. "Elo cocok jadi dosen..."
"Amiiin..." Via tersenyum. "Oke, kalau kakak butuh bantuan, dengan senang hati Via akan bantu..." ujar Via saat mereka berjalan menuju kelas.
"Oiya, gue boleh minta pin atau nomer Lo ga?" Tanya Rangga saat Via akan masuk kelas.
"Boleh..." Via memberikan handphonenya.
Rangga mencatat nomor Via, "Makasih buat hari ini. Bye...!!!"
***
"Ciie...ciie... gebetan baru!!!" Goda Nabila. "Udah jalan bareng lagi, wahhh sejak kapan Lo kenal cowok terus ngga cerita sama gue?!!"
"Bil, gue baru kenal Kak Rangga kemaren. Dan tadi ngga sengaja ketemu di perpus. Jadi gini nih ceritanya..." Via menceritakan semua yang terjadi kemarin.
"Ihhh... so sweet banget sih Vi!!!" Teriak Nabila histeris. "Karena hujan yang mempertemukan, ciie... lagi-lagi Lo punya cerita tentang hujan..."
Via tersenyum. Pertemuan itu memang tak terduga dan terjadi begitu saja. Namun membekas di hati gadis manis itu. Mungkin perasaan itu muncul terlalu cepat, namun Via juga tak mengerti mengapa secepat itu perasaan aneh itu hadir menyapanya.
"Cakep kok Vi, cocok banget sama Lo!!!"
"Apaan sih Bil..." pipi Via memerah.
"Ga usah bohong deh, tuh pipi ngga bisa ngeles keless...!!!" Bisik Nabila saat Bu Ratna sudah berdiri di depan kelas.
***
Sejak saat itu, Via dan Rangga semakin akrab. Mereka sering belajar bersama, bahkan mereka semakin dekat. Dan mengenai Olimpiade, Via mendapatkan Medali Emas dalam OSN Fisika tingkat Provinsi. Sebuah prestasi yang membanggakan.
Dan nilai-nilai try out Fisika Rangga juga meningkat drastis. Nilainya selalu di atas delapan sejak ia belajar bersama Via. Kebersamaan itu mungkin menumbuhkan benih-benih cinta, namun keduanya sama-sama memendam perasaan dalam diam.
***
Semoga Hujan Hanya Mempertemukan
Hari ini pengumuman kelulusan, Rangga meminta Via untuk menemaninya mengambil hasil perjuangannya selama tiga tahun.
"Gue ngga tau harus seneng atau sedih hari ini, seneng karena akhirnya Kak Rangga bisa melewati ujiannya dengan lancar, sedih karena setelah menerima pengumuman ini, mungkin kita bakalan jarang ketemu..." batin Via dalam hati.
"Vi... Lo kenapa?" Tanya Rangga khawatir saat melihat raut wajah Via yang tiba-tiba berubah menjadi sedih.
Via mencoba tersenyum, "Gue gpp kok Kak, cuman kelilipan aja." Ia menghapus air matanya yang mulai mengalir.
"Vi, Elo jangan bohong... Elo kenapa?"
Via terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Panggilan untuk semua kelas XII mengakhiri penderitaannya. Dan tangisnya pecah saat Rangga melangkah meninggalkannya.
"Gue belum siap buat jauh sama Kamu Kak, gue takut kehilangan kamu..." bisik Via nanar.
Langit yang sejak tadi mendung, mulai menumpahkan airnya. Dan bumi pun menangis, seolah mengerti apa yang tengah Via rasakan. Via menengadahkan tangannya ke langit, memutar memorinya saat mereka pertama kali bertemu.
"Semoga hujan hanya mempertemukan, dan tidak akan memisahkan..." ujar Via penuh harap.
"Gue lulus Via...!!!" Teriak Rangga lalu memeluk Via. "Makasih ya berkat Lo, gue bisa memperoleh nilai sempurna di bidang study Fisika...!"
"Serius Kak...?!!" Via merebut kertas pengumuman Rangga. Tiga nilai sempurna menghiasi selembar kertas itu. "Selamat ya Kak, Via bangga sama kakak!!!"
Rangga menarik tangan Via menuju halaman, bergabung bersama teman-temannya yang lain. Menikmati kelulusan mereka dengan guyuran air hujan.
"Lo masih inget ngga...?!! Hujan yang mempertemukan kita sore itu..."
Via mengangguk, "Dan apakah hujan juga yang akan memisahkan?"
Rangga menggeleng, "Ngga akan ada yang memisahkan kita. Aku dan Kamu harus tetap menjadi Kita. Via, gue sayang sama Lo..." Rangga menggenggam tangan Via. "Lo mau kan jadi pacar gue...?"
Via tersenyum bahagia saat Rangga menembaknya. Ia bersyukur, karena hujan hanya mempertemukan dan menyatukan mereka. Secuil memori kembali terjadi saat hujan, dan hal itu membuatnya semakin menyukai hujan.
*****
Author : Fatimah Alfi Ahsani

Cerita Melodi


Kata orang aku begitu lincah, tubuhku lentur, dan gerakanku teratur. Mereka selalu bilang, nama dan kelebihanku bertolak belakang. Ini tahun ketiga aku mengikuti lomba dance, aku harap piala bergilir Walikota itu aku dapatkan. Itulah mimpiku selama ini. Namaku Melodi, salah satu siswa di SMA Nusantara. Meski kini aku duduk di bangku kelas tiga, hal itu tak pernah menghalangiku untuk tetap berlatih.
Menjadi idola bukan menjadi harapanku, tapi Dewi Fortuna seakan memihak kepadaku. Selain memiliki segudang prestasi, di sekolah aku termasuk lima besar cewek terpopuler. Dengan rambut panjang berkilau yang kumiliki, gigi gingsul yang menghiasi senyumku, dan tubuh proporsional bak model majalah terkenal. Walau mereka tak pernah tau apa yang kurasakan selama ini.
Lokerku selalu penuh dengan surat cinta, boneka, coklat ataupun sekuntum mawar merah. Benar-benar nampak seperti tempat pembuangan sampah. Dan sampai sekarang aku enggan mengenal cinta, kehancuran rumah tangga keluargaku, membuatku takut merasakan cinta.
"Mel, kata Pa Anton mulai hari ini latihan kita pindah ke SMA Pelita Bangsa." Ujar Afril semangat.
SMA Pelita Bangsa, sebuah sekolah menengah atas yang benar-benar serius mengasah bakat dan minat yang dimiliki murid-muridnya dan tetap membuat siswa-siswinya memiliki prestasi di bidang akademik. Keren.
"Gue denger yaa, cowok-cowok di sana keren-keren loh..." Afril menyengaja menyenggol lenganku.
"Ngga Fril..." jawabku.
"Ceileh, Lo mah gitu orangnya." Afril langsung memasang wajah cemberut. Sahabatku satu ini semangat banget kalau nyariin aku seorang pacar. Menyebalkan.
"Gue ngga mau. Titik." Aku melangkah pergi. "Gue tunggu di gerbang jam 13.00 tepat, kalau telat barang lima menit, jangan harap Lo bisa bareng gue..."
"Lo mah yaa, keterlaluan tau ga sih... Miss Perfeksionis banget." Umpat Afril kesal.
Bodo amat, soalnya kalau dia kaga digituin pasti lama. Dan aku paling benci menunggu.
*****
Bruuukkkk....
Setumpuk buku itu berserakan kemana-mana, dan kedua orang itu jatuh bersamaan.
"Sorry..." bisikku perlahan. Ketergesaanku membuatku kehilangan fokus. Dan inilah akibatnya, membuat onar di sekolah orang lain. Sifatku yang satu ini benar-benar memalukan.
"Gpp kok, maaf juga gue ngga nglihat kalau Lo buru-buru..."
Aku berhenti membereskan buku-buku itu saat mendengar suaranya. Cowok??? Aku mendongak, seorang cowok tengah tersenyum menatapku. Dan setan mana yang menyelinap ke hatiku, karena secara tiba-tiba tubuhku serasa membeku. Dan hatiku, ada apa ini???
"Loe gpp kan???"
"Ngga, gue gpp." Jawabku simpel. "Maaf sepertinya gue harus pergi."
"Silahkan." Jawabnya ramah.
Aku sempat memperhatikannya, dia tersenyum dan bersikap begitu ramah. Nggak...!!! Kupukul kepalaku berkali-kali, aku ngga boleh kagum sama dia...!!!
"Melodi awas...!!!"
Braakkkkk....!!!
Terlambat... pintu itu berhasil membuatku kembali terjatuh. Burung-burung tampak begitu ceria mengelilingi kepalaku.
"Mel, are you okay?" Tanya Pak Anton khawatir.
Aku hanya mengangguk, kulihat sekelilingku, segerombolan orang menatapku dengan iba. Memalukan...!!! Aku hanya bisa meringis, sembari menahan rasa malu.
"Oh jadi Lo yang namanya Melisa," ujar seorang gadis setengah blester saat aku bergabung dengan mereka. "Elo cantik banget...!!!" Pujinya kemudian.
"Thanks..."
Latihan segera dimulai. Ternyata aku satu team dengan mereka untuk perlombaan nanti. Dan itu artinya, tiap hari aku harus berlatih di tempat ini dan bertemu dengan cowok yang kutabrak tadi...???
Oh My God...
What's wrong with My Feel...???
Disaat sedang berlatih, tanpa sengaja tatapan mataku tertuju ke sudut aula. Cowok itu duduk di sana, memperhatikan team dance yang tengah berlatih. Benar-benar membuatku kehilangan konsentrasi. Sehingga saat melakukan gerakan atraksi, aku terjatuh. Wajahku mencium lantai yang dingin, kepalaku pening, dan semuanya gelap.
*****
"Hei... Lo sudah sadar." Teriaknya senang. Terlihat dari caranya tertawa. "Syukurlah..."
Aku mencoba duduk, tapi ia mencegahku. Bibirku terasa perih, dan dibajuku terdapat beberapa bercak darah, sepertinya ada gigi gingsul melukai bibirku. Untuk yang pertama kalinya aku terjatuh saat melakukan atraksi.
"Pasti Lo tadi ngga fokus." Ujar cowok itu memecah kesunyiaan. "Gue Iqbal..." ia memperkenalkan dirinya saat menempelkan hansaplast di keningku.
Aku hanya bisa mengangguk, mengakui ketololanku saat ini. Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan perasaanku saat ini.
"Iqbal..." teriak gadis yang tadi sempat memujiku. Ia menatapku berapa saat, tapi tatapannya tidak seperti tadi. Sepertinya ia membenciku. Dan mungkinkah karena Iqbal menolongku...?
"Gue mau ngomong sama kamu..."
"Gue duluan yaa, semoga lekas sembuh." Iqbal tersenyum menatapku. "Lain kali harus lebih fokus."
*****
Semenjak kejadiaan itu, Nadine, ketua group danceku jadi aneh. Ia tak lagi menyapaku, dan selalu bersikap sinis di depanku. Bahkan terkadang secara terang-terangan ia menyindirku. Hal itu membuatku semakin malas berlatih, apalagi minggu ini sidang perceraian kedua orangtuaku dilaksanakan. Hatiku benar-benar kacau. Tapi tak ada seorangpun yang peduli.
Siang itu aku sengaja tidak mengikuti latihan. Suasana hatiku akan merusak segalanya. Aku berdiam diri di taman belakang SMA Pelita Bangsa. Di saat-saat seperti ini, aku hanya bisa menangis. Kubiarkan air mata mengalir saat mata ini terpejam.
"Gue kira, Lo cewek yang kuat. Ternyata Elo bisa nangis juga."
Kubuka mataku perlahan-lahan, lamat-lamat kulihat sosok Iqbal duduk di sampingku. "Iqbal..."
Cowok itu hanya mengangguk. "Gue ngerti Lo lagi sedih, dan gue termasuk salah satunya pembuat kesedihan itu."
"Maksud Lo?"
"Sikap Nadine berubah bukan? Dan itu semua karena gue ngedeketin Lo. Dia cinta sama gue udah sejak kelas 1 SMA, tapi gue ngga suka. Dan Gue takut dia mencelakakan Lo..."
"Kenapa gue?"
"Karna dia tau selama ini gue ngefens sama Lo..." jawab Iqbal. Pandangannya lurus ke depan, menatap ujung pohon cemara yang bergoyang.
Jawaban Iqbal benar-benar membuatku terkejut. Walau sempat ada perasaan bahagia saat mendengar kejujuran itu. Tapi aku ngga mau jatuh cinta, belum jatuh aja udah dapet masalah.
"Gue bakalan berusaha ngejagain Lo."
"Ngga Bal, ngga perlu."
"Lo ngga akan bisa ngadepin ini sendiri Mel, gue tau hati Lo kacau karena proses perceraian kedua orangtua Lo, apalagi sekarang Lo dapet masalah baru karena gue. Gue ngga akan diam aja."
"Lo tau darimana?!!" Air mata itu mengalir semakin deras.
"Karena Ayah gue pengacara Bokap Lo..."
Sakit sekali rasanya, perceraian itu tak pernah aku harapkan, dan aku benci perpisahan. Kuatkan aku, Tuhan...
Iqbal meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat. "Gue janji, gue bakalan bantuin kamu..."
Genggaman itu begitu hangat, dan berhasil menguatkan hatiku. Untuk yang pertama kalinya aku merasakan semua ini. Mungkinkah aku telah jatuh cinta?
"Thanks Bal..." tangisku pecah dalam dekapan Iqbal.
*****
"Gue ngga suka Lo ngedeketin Iqbal...!!!" Teriak Nadine emosi. "Dan kenapa sih, Iqbal jatuh cintanya sama Lo? Kenapa ngga sama gue...?!!"
Plakkkk...
Pipi kiriku panas, tamparan itu terasa begitu menyakitkan. Aku hanya bisa diam dalam posisi terikat seperti ini. Dua jam lagi perlombaan akan segera dimulai, tapi sepertinya Nadine takkan membiarkanku mengikuti lomba itu.
"Tolong gue Bal..." sebulir air mata mengalir dari pelupuk mataku.
"Iqbal ngga akan pernah ke sini bodoh...!!!" Nadine menendang kakiku. Sakit sekali rasanya. "Gue benci sama Lo Melodi...!!!" Untuk yang kedua kalinya kakiku terkena tendangannya.
"Gue bakalan menang, dan menggantikan posisi Lo di hati Iqbal...!!!" Teriaknya sebelum gadis itu pergi.
Mungkin mimpi itu harus sirna, harapanku bisa membawa piala bergilir pupus sudah. Maafkan aku Mah, Pah belum bisa memberikan prestasi terbaikku untuk kalian.
"Mel..." Iqbal melepaskan ikatan yang membelitku. "Masih ada kesempatan buat Lo tampil...!!!" Sebulir air mata terjatuh di lengan kiriku.
"Tapi kaki gue sakit Bal, gue udah ngga bisa bergerak dengan leluasa."
"Lo pasti bisa Mel, tahan rasa sakit Lo, dan raih mimpi yang selama ini Lo ukir...!!! Gue tau Lo ngga akan menyerah gitu aja." Iqbal memapahku.
Aku hanya bisa diam, kakiku sakit sekali. Memar biru terlihat begitu jelas. Tapi saat aku melihat Iqbal menangis, tiba-tiba semangat itu kembali muncul. Akan kuberikan yang terbaik Bal.
Kutahan rasa sakitku dan aku bergegas ke panggung, Nadine tampak terkejut melihatku. Namun kuacuhkan semuanya, kumaksimalkan gerakanku, dan di saat semuanya selesai, disaat itulah sakit itu semakin parah. Aku berhasil melakukan atraksi dengan sempurna. Dan saat para komentator menilai, disaat itu juga aku terjatuh. Kakiku terasa kaku, dan mungkin aku kembali pingsan karena keadaan kembali gelap.
*****
"Selamat pagi jagoanku..." sapa Iqbal saat aku membuka mata. Ia tersenyum, manis sekali. "Eittsss, ngga boleh bangun, kaki kamu masih sakit sayang..." ujarnya gemas.
Geli rasanya saat Iqbal mengucapkan kata sayang dan penuh penekanan itu. Tapi aku bahagia, hidupku yerasa berbeda sejak kehadirannya.
"Ciiee yang dapat piala bergilir..."
"Serius Bal...???" Pekikku tak percaya.
"Iya sayang, mana mungkin Iqbal bohong." Sepasang kekasih terlihat begitu mesra dengan membawa sebuah piala yang selama ini aku impikan.
"Mama... Papa..." teriakku tak percaya. Mereka langsung memelukku.
"Maafkan Mama ama Papa ya sayang, kita janji ngga akan pernah biarin kamu sendiri lagi... Makasih juga yaa Iqbal...."
"Loh kok Iqbal siihh....?"
"Ada deh..." Iqbal mencubit pipiku. "Apapun bakal aku lakuin asal kamu bahagia..."
"Ciiee... aki kamu ciiee...." aku langsung memeluk Iqbal. Yah aku rasa aku jatuh cinta pada penggemar rahasiaku.๐Ÿ˜
Semanis Susu Strawberry

Semanis Susu Strawberry


Aku masih ingat, saat diam-diam aku menatapnya.
Aku masih ingat, saat dia tersenyum ketika aku membayar.
Dan aku juga masih ingat, saat senyumnya yang tulus itu.
Aku juga masih ingat, saat ia pertama kali mengucapkan namaku.

*****

Sebulan menjelang UN, Mama jadi over protective. Setiap pagi aku mendapat uang tambahan khusus untuk membeli susu atau sejenisnya. Sebenarnya aku malas, aku ngga suka susu. Tapi untuk menghargai Mama, setiap pagi aku membeli Susu Strawberry. Hanya itu yang aku suka. Sejak itu aku jadi sering ke minimarket dekat sekolahku.

Ternyata ada kasir baru disini, entah sejak kapan. Namun tiga bulan terakhir aku memang belum pernah bertemu dengannya. Seorang cowok cakep, tinggi semampai, dan memiliki gigi gingsul. Manis sekali saat tersenyum. Diam-diam aku memperhatikannya.

*****

Dan akhirnya aku tau sedikit tentang cowok itu, namanya Rangga. Dan memang benar ia baru bekerja di minimarket ini dua bulan yang lalu. Aku suka caranya tersenyum. Dan sikapnya yang ramah, membuat hatiku berdebar setiap kali melihatnya.

"Kenapa Selalu susu strawberry?" Tanya Kak Rangga saat aku membayar.

"Karena aku suka." Jawabku sekenanya. Mimpi apa aku semalem? Ini ngga mimpi kan? Kak Rangga ngajak ngobrol? Oh Tuhan, bahagianya aku hari ini.

"Emang ngga bosen gitu minum susu tiap hari?" Tanya Kak Rangga lagi, ia tampak lebih santai karena ngga ada pelanggan yang lain. Hanya aku seorang.

"Dari pada diomelin Mamah."

Kak Rangga tertawa mendengar alasanku, "Cewek aneh." Bisiknya saat memberikan kembalian. Ia tersenyum.

Tuhan, kenapa senyumnya begitu manis? Kenapa aku selalu bahagia saat dia tersenyum? Mungkinkah aku mengagumi sosok Kak Rangga? Ataukah aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama?

*****

Sejak saat itu, aku menjadi siswa yang paling rajin jajan di minimarket. Hampir setiap hari, kecuali hari Rabu. Karena saat itu Kak Rangga libur.Hingga suatu ketika, stok susu strawberry habis. Aku hanya bisa mendesah kecewa. Itu artinya aku ngga bisa ngobrol sama Kak Rangga, atau sekedar melihat senyum manisnya itu.

"Nih..." tiba-tiba Kak Rangga menyodorkan sekotak susu strawberry dingin untukku. "Udah ngga usah manyun, jelek tau!"dia mencubit kedua pipiku.

"Kakak..."

Kak Rangga tertawa bahagia, "Via, bisa ngga sih sehari aja kamu ngga minum susu?"

Aku pura-pura berfikir. Sebenarnya bukan masalah susu strawberrynya, tapi karena aku pengen ketemu sama kakak. Itu aja sih alasannya. Tunggu deh, darimana kak Rangga tau namaku?

"Gue nanya sama Vania," ujar Kak Rangga seolah bisa membaca pikiranku. "Dia teman gue, Via cantik."
Aaaaa... Kak Rangga bilang aku cantik!!! Kyaaa, senangnya.

Sebenarnya aku masih pengen ngobrol banyak, tapi bel masuk menghancurkan semua rencanaku. Padahalkan lagi asyik ngobrol sama Kak Rangga. Kapan lagi coba bisa ngobrol senyaman ini?

"Belajar yang rajin yaa..." Kak Rangga mengacak-acak poniku. Aku pura-pura cemberut, walau sejujurnya aku bahagia. Dan sangat-sangat bahagia, karena Kakak ganteng itu begitu memperhatikanku.

*****

Hari ini UN pertamaku. Sebelum masuk kelas, aku sempatkan untuk pergi ke mini market untuk membeli susu.

"Sukses ya Ujiannya," bisik Kak Rangga menyemangatiku.

Aku tersenyum, "Pasti kak! Makasih ya udah dikasih semangat."

"Pokoknya harus mendapatkan nilai yang memuaskan."

"Okee deh. Kalau nilai aku bagus, kak Rangga harus traktir aku."

"Siapa takut." Jawab Kak Rangga diluar dugaanku. "Semangat yaa Via..."

Ujian Bahasa Indonesia kali ini terasa mudah. Hari ini aku bahagia dan begitu bersemangat. Dan itu membuatku lebih mudah mengingat bab-bab yang sudah aku pelajari. Empat puluh lima menit lagi, dan aku sudah menyelesaikan 50 soal yang ada. Terima kasih Kak Rangga, untuk motivasinya pagi ini.

*****

"Gimana ujiannya hari ini?" Tanya Kak Rangga saat aku membeli cemilan.

"Sukses Kak," aku tersenyum senang saat membayar.

"Kayaknya kamu lagi happy, Vi?"

"Yaiyalah Kak, kan Via mau dapet traktiran! Emmttt, pokoknya ntar Via mau double steak, bakso, sop durian, sate padang, nasi goreng mavia terus..." aku pura-pura berfikir.

"Ternyata selera makan kamu bagus juga. Oke gue bakalan beliin semua tapi harus habis dalam waktu sepuluh menit."

"Via ngga serakus itu kali Kak."

"Yaaa siapa tau? Ya udah sana pulang, istirahat yang cukup dan jangan lupa belajar. Hati-hati yaa..."

Aku mengangguk dan bergegas pulang.

*****

Akhirnya UN kelar juga, waktunya santai. Hari ini hari Rabu, dan itu artinya Kak Rangga ngga ada. Ya udah deh, langsung pulang aja. Iseng-iseng aku searching nama dia di facebook. Dan ternyata ada, aku langsung menambahkan sebagai teman. Duhhh... Kak Rangga emang ganteng ya. Fotonya keren-keren.

Tapi tunggu, Kak Rangga sudah memiliki kekasih. Kenapa tiba-tiba hatiku sakit? Cemburukah aku? Ternyata selama ini aku salah mengartikan perhatiannya, senyumannya, dan canda tawanya.

(Bersambung)

Ketika Diam Membalut Cinta

Ketika Diam Membalut Cinta

"Berhenti tawuran kak...!!!" Suara cempreng itu menggema memenuhi kamar, meninggalkan dengungan di kedua telingaku. Gadis mungil pemilik suara mengerikan itu tetap berdiri di depan pintu sembari menatapku tajam.

"Lihat, wajah kak Varel ampe ancur gitu!!!" Ujarnya kesal. Ia menggeleng melihat luka di sekujur tubuku.

Aku tersenyum melihatnya. Rima menjadi orang pertama yang marah ketika aku berantem. Ternyata dia begitu memperhatikanku. Rima adalah adik sahabatku, dia seorang gadis cantik dengan rambut panjangnya yang berkilau dan lesung pipit yang membuat wajahnya semakin indah. Aku sempat mengaguminya, namun menjadikannya sebagai seorang adik terasa lebih menyenangkan. Walau kita hanya beda setahun. Gadis kelas 2 SMA itu begitu menarik.

"Maaf Rima..."

"Bosen denger kata-kata itu...!!!" Rima terlihat kesal. "Itu hanya Omong kosong...!!! Gue udah menginterogasi Vino, dan dia udah janji ngga akan berantem lagi. Kalian berdua Hobi banget sih, punya wajah lebam kaya narapidana gitu?!!!"

"Iyaa deh ini yang terakhir..."

"Terakhir di bulan ini maksudnya? Dan di bulan depan mau lagi? Nyadar dong kalian itu udah kelas 3, bukannya mempersiapkan bekal buat UN malah cari masalah!!"

Rima melangkah mendekatiku, dan duduk di sampingku. Pandangannya menyapu setiap sudut kamar, "Ini kamar kan Kak? Bukan gudang...?" Tanyanya heran saat melihat kamarku yang berantakan. Baju kotor berserakan di sudut kamar, meja belajar dipenuhi buku-buku yang tersebar tanpa seni, dan bungkus-bungkus snack yang belum di buang. Rima hanya bisa geleng-geleng.

Terkadang Rima lebih bawel dari nyokapku. Tadi marah-marah karena aku tawuran, sekarang mengomentari kamarku yang super rapi ini. Ah, terkadang gadis satu ini menyebalkan.

"Kenapa? Masalah buat Rima...?"

Rima mendengus kesal, "Ya ngga gitu juga kali Kak, tapi cowok rapi itu lebih menarik. Kalau berantakan gini bikin males belajar, makannya try out ga pernah lulus!" Rima melangkah ke meja belajarku. Ia merapikan buku-buku pelajaranku yang berserakan. Tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah foto. Rima mengambilnya, namun tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sendu.

"Emang kakak pikir tawuran itu keren yah?" Tanyanya tanpa melihatku. Ia masih asyik mengamati fotoku saat berdua dengan Raisa.

"Ya ngga lah Ma, gue kan cuma mau ngasih pelajaran buat mereka yang berani ganggu Raisa." Jawabku membela diri.

"Tapi ngga harus dengan cara tawuran juga kan Kak...?" Rima tersenyum getir. "Jika cinta menjadi alasan untuk bertengkar, itu konyol..."

"Tapi gue punya hak dong Ma, dia tau kalau Raisa itu cewek gue, tapi dia tetep aja ngedeketin Raisa...!!!" ujarku kesal.

"Ngga akan ada yang mendekati kalau kita ngga membuka diri..." Rima melangkah pergi meninggalkanku. Genangan air mata terlihat jelas di pelupuk matanya.

"Satu hal lagi Kak, sudah cukup gue kehilangan Kak Kevin karena tawuran konyol itu. Dan gue ngga mau itu terjadi lagi sama Vino dan Kakak!!!"

Aku terdiam, kata-kata Rima ada benarnya juga. Setahun yang lalu Kak Kevin meninggal karena tawuran. Ternyata lawannya curang, mereka menggunakan senjata tajam. Kak Kevin meninggal karena luka tusuk di lehernya yang menyebabkan dia keilangan banyak darah.

Tawuran menyimpan trauma yang mendalam bagi Rima. Oleh karena itu dia selalu marah saat aku maupun Vino berantem. Dia takut kenangan pahit setahun yang lalu kembali terulang dan merenggut orang-orang terdekatnya.

"Rima kenapa Rel? Kok dia nangis?" Tanya Mama yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamarku.

"Dia marah Mah, gara-gara Varel berantem lagi." Jawabku seadanya. Aku ngga tau apa alasan Rima sebenarnya, sehingga gadis itu memilih pergi dan menangis.

"Kamu sih bandel..." Mama semakin menyalahkanku. "Dia peduli sama kamu Rel, tapi kamu malah membuatnya kecewa."

Aku terdiam. Benar kata Mama, sudah berulangkali aku membuat Rima kecewa. Dan kali ini aku membuatnya menangis.

*****

Semenjak kedatangannya siang itu, ia tak pernah lagi menyempatkan waktu untuk mengunjungiku. Bahkan saat aku menyambangi rumahnya, ia tak lagi menemuiku. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, namun tak ada jawaban. Sms, BBM dan Whats Up tidak ada yang dibaca. Ada apa dengan gadis mungil itu.?

Di sekolah pun sama, sepertinya ia mencoba menghindariku. Selalu menyibukkan diri di ruang OSIS saat jam istirahat sehingga aku tak memiliki kesempatan untuk menemuinya.

"Rima kenapa sih Vin...?" Tanyaku heran. Kantin yang biasanya ramai dengan canda dan tawanya kini mendadak sepi.

"Gue ngga ngerti Rel, akhir-akhir ini dia begitu tertutup. Tapi yang gue tau dia sedang mempersiapkan diri buat kompetisi mengarang minggu depan. Biasa orang sibuk!!" ujar Vino masih asyik dengan gamesnya.

Rima memiliki cita-cita menjadi seorang pengarang. Karya-karyanya begitu apik. Dan ia selalu menyabet juara saat mengikuti kompetisi mengarang. Bahkan di tahun ini dia meluncurkan dua novel hasil karyanya. Gadis mungil itu sungguh istimewa.

"Adik lo satu itu emang perfect yaa... Udah cantik, pinter, baik... ngga kaya kakaknya..." aku tertawa kecil.

"Maksud loe?" Vino menatapku kesal. Cowok itu paling ngga suka dibanding-bandingkan. Walau dengan adiknya sendiri.

"Yaa seharusnya elo seneng dong punya adik yang perhatian, peduli dan..." hatiku nyeri saat mengatakannya. Perhatiaan dan kepeduliian Rima tak lagi kurasakan sejak kejadian itu.
Biasanya kita sering smsan. Walau hanya sekedar say Good Night. Atau omelan dia yang khas ketika aku malas belajar. Diam-diam aku merindukannya.

*****

Siang itu aku sengaja pergi ke toko buku untuk menemui Rima, aku harus tau apa alasannya menjauhiku. Namun bukan Rima yang kutemui, tapi kebenaran yang pernah ia katakan. Aku melihat Raisa tengah bermesraan dengan Leo, cowok yang menantangku dua minggu yang lalu. Hatiku nyeri, ternyata benar yang Rima katakan, Raisa memang membuka hatinya untuk orang lain.

"Hei..."

"Varel...?" Raisa tampak terkejut melihatku. Ia terlihat ketakutan. Leo mencoba membuatnya tenang dengan menggenggam jemarinya.

Aku hanya tersenyum, "Alangkah lebih baik jika kita akhiri hubungan kita dan silahkan lanjutkan hubungan lo sama dia..." pandangan Varel mengarah ke Leo. "Selamat ya, semoga langgeng...!!!"

"Varel..." teriak Raisa saat aku melangkah pergi. Namun aku tak peduli dan tetap melanjutkan langkah kakiku. Aku tersenyum kecut. Ternyata selama ini aku menyayangi orang yang salah.

*****

"Kak Varel awas...!!!" Seseorang mendorongku saat sebuah mobil hampir saja membuat nyawaku melayang, ternyata tanpa sadar aku berjalan di jalan raya bukan lagi ditrotoar. Kami terjatuh.

"Rima..." pekikku senang.

Gadis itu mendelik kesal. "Sengaja yaaa mau bunuh diri karena patah hati?" Rima membersihkan debu yang mengotori seragamnya.

"Enak aja... Gue ngga patah hati Ma, Gue galau karna Elo, dua minggu ini Lo kemana non? Ngilang gitu aja ngga ada kabar...!!!"

Pipi Rima memerah mendengar ucapanku. Gadis mungil itu benar-benar membuatku rindu.

"Sekali lagi Lo pergi, gue bakalan lompat dari jembatan nih..."

Bukannya khawatir, Rima malah tertawa terbahak-bahak, "Emang kakak berani...? Rima ngga yakin deh, orang kakak aja takut ketinggian kok...please deh kak jangan lebay..."

"Terus apa alasan Lo ngejauhin gue?"

Rima terdiam, "Rima..." ia menatapku. Sorot kesedihan terpancar jelas dari matanya. "Rima mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang Kak. Dan besok Rima berangkat, mungkin kita ngga akan ketemu untuk waktu yang cukup lama." Rima terdiam sejenak sepertinya ia ragu untuk mengungkapkannya.

"Selama ini diam-diam Rima suka sama kakak, namun Rima tau kalau kakak sangat mencintai Raisa walau sebenarnya cewek itu berulangkali mengkhianati kakak. Tapi kakak ngga pernah peduli dengan peringatan Rima. Rima fikir dengan cara menjauhi kak Varel, Rima bisa dengan mudah menghapus rasa sayang ini, tapi ternyata Rima salah. Melupakan orang yang sangat kita sayangi bukanlah hal yang mudah. Dan mungkin ini salah satu cara buat Rima move on. Maafin Rima ya kak, Rima ngga pernah jujur sama kakak, maafin Rima yang tiba-tiba menghilang dan mungkin membuat Kak Varel khawatir. Juga terima kasih selama ini kakak selalu ada buat Rima, selalu suport Rima..." gadis itu menghirup nafas panjang.

Rima mengambil sebuah novel dari tasnya dan memberikannya padaku, "Rima bisa membuat novel ini karena terinspirasi sama kakak,terima kasih." ia tersenyum. "Baik-baik yaa Kak... Semoga UNnya nanti lancar.."

Rima menghambur ke pelukanku. "Rima nitip Vino..."

Lidahku terasa begitu kelu untuk berkata-kata. Kebenaran ini terasa begitu menyakitkan. Sebenarnya jauh di lubuk hatiku, aku sangat menyayangi gadis mungilku ini. Bahkan bukan sebagai adik, tetapi sebagai seorang gadis yang spesial di hatiku. Namun saat itu Raisa sudah terlanjur memiliki hatiku.
Hatiku perih menerima kenyataan ini. Andaikan aku tau kalau dari dulu Rima menyayangiku, takkan pernah timbul rasa penyesalan ini. Andaikan diam tak merahasiakan kebenaran yang mendalam, mungkin takkan
pernah ada kekecewaan.

*****
Miss Culun, I Love You

Miss Culun, I Love You



Terkadang menjadi cowok populer itu menyebalkan. Memiliki para penggemar rahasia yang seenaknya saja menaruh makanan, coklat, bunga sampai berjibun surat cinta, membuat loker gue tampak seperti sampah. Untung Maura selalu meluangkan waktu untuk merapikannya, kebetulan gue seloker sama gadis culun itu. Mau ngga mau loker dia ikut-ikutan jadi korban para fans fanatik gue.
Gue Varel, Kapten basket di Insan Cendekia Internasional  High School. Dewi Fortuna seakan memihak gue, selain menjadi kapten basket, gue juga dianugerahi wajah yang nyaris sempurna. Hal itu tentunya membuat gue menjadi idola sekolah. Hampir setiap hari gue mendapat surat cinta, tapi gue ngga tertarik sama satupun gadis cantik di sekolah ini, kecuali Maura. Gadis culun yang selalu menjadi korban bully Dara & the gank. Murid baru pindahan dari Australia itu berhasil mencuri hati gue.
Ada beberapa hal yang membuat gue kagum sama gadis itu. Meskipun penampilannya bukan tipe gue banget, tapi dia bisa membuat gue tersenyum tiap kali melihatnya. Rambut panjangnya yang selalu dikepang dua, membuat wajahnya tampak lucu. Dan kaca matanya yang tebal, membuatnya terlihat jenius.
                                                            *****
“Maaf ya Ma, gara-gara orang-orang ngga jelas itu, Lo harus bersih-bersih loker gue tiap hari.”
Maura tersenyum, “Gpp Kak, lagian Maura juga ngga keberatan. Cuman sayang tuh, coklatnya sampai numpuk gitu. Keburu kadaluarsa loh, Kak.”
“Gue ngga suka coklat Maura, kalau Lo mau ambil aja…”
“Maura juga ngga suka coklat Kak, Emmmttttt… gimana kalau Kakak bagi-bagiin coklat itu ke anak-anak jalanan. Mereka pasti senang. Dan lebih bermanfaat pastinya.”
“Anak jalanan?”
Maura tertawa, “Iya Kak… Kakak ngga pernah ya bergaul sama anak jalanan?”
Gue hanya menggeleng. Melihatnya aja gue males, apalagi bergaul. Gue suka kesel nglihat anak-anak kecil yang seharusnya sekolah, malah ngamen di pinggir jalan. Gimana mau dapet ilmu kalau sekolah ngga mau.
“Kak, jangan berfikir negativ tentang anak jalanan.” Ujar Maura seolah mengerti apa yang sedang gue pikirkan. “Kebanyakan dari mereka itu yatim piatu, dan mereka ngga punya dana buat sekolah. Buat makan aja, mereka harus berjuang ekstra.  Tapi kakak tenang aja, mereka tetap belajar kok sama Maura. Mereka juga punya ilmu.”
Maura menutup loker dan melangkah pergi. Gadis itu benar-benar pintar mencuri hati gue. Satu hal lagi yang gue tau tentang Maura, jiwa social cewek itu begitu tinggi. Secara fisik Maura memang ngga terlalu cantik. Tapi kecantikan itu memancar dari hatinya dan itu yang membuat gue nyaman tiap gue deket sama dia.
                                                            *****
Sepulang sekolah diam-diam gue mengikuti Maura. Gadis itu memang benar-benar menemui anak-anak jalanan di bawah kolong jembatan. Dan anak-anak itu, mereka tampak senang dengan kehadiran Maura. Tanpa rasa jijik Maura memeluk mereka satu per satu, padahal anak-anak itu terlihat begitu kotor. Mereka terlihat seperti keluarga.
“Maura…” gue memberanikan diri untuk menemui Maura. Gadis itu terlihat kaget ketika melihat gue ada di sini.
“Kak Vino…? Kakak…”
“Ya Maura, gue ngikutin Elo! Gue Cuma mau ngasih ini…”
Maura menerima bingkisan yang gue berikan, “Coklat ini…”
Gue hanya mengangguk. “Semoga bermanfaat Ma, ya udah gue pamit. Bye Maura…”
“Makasih Kak…” bisik Maura lembut. Dan bisikan itu berhasil membuat gue deg-degan. Ada kehangatan yang diam-diam menyelinap di relung hati.
“Cie… cie… Kak Maura pacaran yaaa?” suara anak-anak masih bisa gue denger dengan jelas. Dan gue hanya bisa tersenyum. Maura benar, ada kebahagian tersendiri saat gue memberikan cokelat itu dan melihat anak-anak itu tersenyum senang. Sebuah kebahagiaan yang selama ini belum pernah gue rasakan sebelumnya.
                                                            *****
Malam minggu gue ngajak Maura jalan. Dan gadis manis itu tidak menolak. Sumpah, hari itu gue bahagia banget. Bisa jalan bareng sama Maura, gadis yang selama ini membuat gue tergila-gila. Kita ngobrol di gerai KFC sembari menikmati Ice Cream.
“Kenapa Lo pindah ke Indonesia Ma, bukankah leebih menyenangkan hidup di Ausi?”
“Begitu banyak alasana yang membuat Maura ga betah di sana. Di Ausi Maura belum pernah nemuin sahabat yang benar-benar tulus mau berteman dengan kita. Fisik dn kekayaan yang menjadi tolak ukurnya. Dan itu sangat menyebalkan.” Ujar Maura sambil mengaduk-aduk ice creamnya. “Kenapa kakak mau berteman dengan Maura? Sedangkan Maura itu cuman cewek culun yang selalu jadi bahan ejekan?”
“Karna gue selalu nyaman tiap kali deket sama Lo, Maura.” Jawabku apa adanya. Jawaban Gue membuat pipi Maura merah merona.
“Emang Kak Vino ngga malu jalan sama Maura? Kak Vino itu cowok yang perfect, masa iya sih jalan sama cewek seculun Maura?”
“Gue ngga malu Ma, karena gue sayang sama Lo…” kugenggam tangan Maura. Gadis manis itu tampak terkejut. “Lo mau ngga jadi pacar gue?”
Maura terlihat gugup dengan kata-kata gue yang to the poin. Namun semenit kemudian Maura tersenyum dan mengangguk. “Ya Kak, Maura mau.”
                                                            *****
Sekolah sempat heboh saat tersebar kabar Gue dan Maura jadian. Banyak yang mencemooh, tapi kita ngga peduli. Ini pilahan kita, dan kita sama-sama bahagia menjalaninya. Tak ada lagi yang berani membully Maura, dan ia tak perlu lagi membersihkan Loker setiap pagi. Karna tak ada lagi yang berinisiatif mengirimkan surat cinta, setangkai bunga maupun sebatang coklat.
Dua hari lagi ulang tahun Maura yang ke- 17, bertepatan dengan Dies Natalis sekolah yang seumuran dengan Maura. Kabarnya akan diadakan pesta besar-besaran, karena sang pemilik Yayasan ini akan turut hadir untuk merayakannya.
“Oh iya Kak, sabtu jemput Maura di Jl. Imam Bonjol No. 4 ya. Awas kalau sampai telat!” ancam Maura lalu melangkah pergi.
Gue hanya diam, alamat yang disebutkan Maura adalah rumah pemilik yayasan Insan Cendekia ini. Lalu apa hubungannya Maura dengan Pak Marvel?”
                                                            *****
“Maura itu anak saya, Vin.” Ujar Pak Marvel malam itu. “Selama ini dia menyamar menjadi gadis yang culun, karena dia ingin memiliki sahabat sejati. Dulu di Ausi Maura itu seorang model, ketenaran dan kekayaan membuatnya memiliki banyak teman. Namun ternyata mereka hanya memanfaatkan Maura. Dan akhirnya di sini ia menemukan apa yang dia inginkan selama ini, bukan hanya seorang sahabat, bahkan ia bertemu dengan kekasih yang menyayanginya dengan tulus.” Pak Marvel mengakhiri obrolannya saat melihat Maura.
Maura melangkah perlahan-lahan saat menuruni tangga. Gadis itu terlihat seperti Cinderella malam ini. Cantik sekali. Ia mengenakan gaun pesta berwarna pink muda, sedikit polesan make up membuatnya semakin mempesona. Maura yang selama ini terlihat dengan penampilan culunnya, ternyata memiliki kecantikan yang sempurna.
“Happy Birthday Maura…”
Gadis itu tersenyum, “Terima kasih Kak Vino, Maura minta maaf karena ngga pernah jujur sama kakak soal ini.”
“Ternyata Miss culun Maura hanya sebuah topeng.” Maura tersenyum mendengar bisikan gue. “Terima kasih juga Ma, Lo udah bikin gue belajar mencintai dengan ketulusan.”
“Karna cinta yang sempurna tidak memerlukan fisik yang sempurna Kak, kecantikan bisa hilang kapan saja. Namun ketulusan akan senantiasa menjaga sebuah hubungan yang terjalin. Terima kasih sudah menyayangi Maura dengan tulus.” Gadis cantik itu memelukku.
Jika selama ini gue tidak mengikuti kata hati nurani, mungkin gue ngga akan sebahagia ini. Teman-teman emang mencela kedekatan gue sama Maura, mereka bilang kita bagaikan langit dan bumi. Tapi kalau gue menuruti omongan mereka, gue ngga akan pernah sebahagia ini.

Adverstisement

Adversitement