Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

SIDIA MANIS

Pernah denger kalimat itu ngga...?? Kalau yang ikutan seminar Pra Nikah yang diadakan oleh SSG'30 pasti paham maknanya. Kalimat itu bukan buat ngegombalin orang loh yaa, tapi sebagai motivasi agar kita semua bersemangat untuk mempersiapkan pernikahan impian. SIDIA MANIS adalah singkatan dari Siapkan Diri Anda Menuju Pelaminan Istimewa.

Kita memang butuh banyak persiapan yang matang untuk mengarungi bahtera rumah tangga, salah satunya harus cukup ilmu. Jadi buat kamu yang sedang menanti pangeran impian atau putri idaman, jangan hanya menunggu, tapi isilah masa penantian itu dengan berburu ilmu. Biar nanti ketika waktunya telah tiba, ketika aku dan kamu menjadi kita, udah benar-benar siap menghadapi badai yang menerpa ataupun indahnya pelangi yang menyapa.

Jadi apasih yang harus kita persiapkan untuk menjadi seorang istri/suami? Kalau saya pribadi menggunakan rumus 5W+1H, namun dengan urutan yang berbeda, agar sesuai dengan jawabannya.

What : Apa niat kita ketika memutuskan untuk menikah? 
Jawaban inilah yang terpenting, karena semua amal dinilai karena niatnya. Cobalah mencari waktu untuk bertafakur, bertanya pada diri, dan jawablah sejujur-jujurnya. Jika niat menikah karena ingin mencari ridho Allah, Menjaga kehormatan dan kesucian diri, dll. Maka mintalah kepada Allah agar senantiasa dijaga kemurnian niat selama proses menuju pernikahan. Karena niat bisa berubah seiring berjalannya waktu.

Pernikahan Putri Ketiga Aa Gym
Who : Dengan siapa kita menikah? 
Dengan orang yang kita cintaikah? Atau dengan orang yang berpendidikan dan memiliki kekayaan? Atau dari keturunan seorang bagsawan? Jawabannya sesuai dengan hati masing-masing. Namun islam mengajarkan untuk memilih yang baik agamanya. Cinta bisa datang kapan saja, banyak kok yang awalnya tidak saling mengenal, disatukan dalam pelaminan, cinta tumbuh bermekaran dan sangat berkesan. Harta bisa dicari, namun membangun semuanya dari nol bersama akan semakin berarti. Ia yang baik agamanya, akan senantiasa menghormati, memuliakan, penuh tanggung jawab, dan berniat untuk membersamai sampai ke surga.

Where : Dimana kita bisa menemukan pendamping impian? 

“Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Jika ingin memiliki pendamping hidup yang sholeh/sholehah tidak akan pernah kita temui di klub malam atau di tempat tongkrongan. Karena mereka yang senantiasa menjaga diri menghabiskan waktu untuk menyimak kajian, atau menabur kebaikan. Maka mulailah dari diri sendiri untuk berbenah, memperbaikki kualitas, dan memantaskan diri.

When : Kapan kita menikah? 

Disaat hati mulai terdominasi oleh cinta. Ketika cinta mulai hadir menyapa, maka konsentrasi akan sedikit terganggu olehnya. Waktu akan habis untuk memikirkannya, padahal belum tentu ia melakukan hal yang sama. Hati menjadi lebih sensitif, dan ibadah mulai tidak khusyuk. Setiap saat terlintas bayangannya, bukankah sebenarnya hal itu membuat kita menderita?

"Hai para pemuda, barangsiapa diantara kamu sudah mampu menikah, maka menikahlah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan dapat menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mamapu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya menjadi pengekang syahwat.

Why : Mengapa kita menikah saat mulai merasakan cinta? 
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami belum pernah melihat (obat yang mujarab bagi ) dua orang yang saling mencintai sebagaimana sebuah pernikahan.” (H.R.Ibnu Majah).

Menikah adalah obat yang paling mujarab untuk dua insan yang sedang jatuh cinta. Jikalaupun kita menikah bukan dengan orang yang kita cintai, maka belajarlah untuk mencinta, mintalah pertolongan kepada Sang Maha Cinta untuk menghadirkan cinta. Belajarlah bersama untuk saling membangun, bukan untuk jatuh. Yang kaucintai belum tentu yang terbaik, namun yang bersanding denganmulah yang terbaik menurut Allah.

How : Bagaimana agar kita bisa menuju pelaminan yang istimewa?
Kunci utama dari setiap permasalahan adalah ilmu pengetahuan, maka teruslah mencari bekal tersebut Selama masa penantian. Ilmu itulah yang akan menjadi cahaya penerang, membuat kita lebih bersabar dan peka dengan keadaan. Berusahalah untuk terus menjaga diri, menambah kualitas diri, belajar merawat diri, dsb. Pererat tali silahturrahmi dengan mereka yang sudah mengarungi, belajarlah dari pengalamannya agar semakin matang untuk melalui. Jangan lupa untuk mempersiapkan visi misi rumah tangga, karena keduanya adalah pondasi.

Pernikahan Qur'ani (Putri ke empat Aa Gym) 
Cinta setelah akad nikah adalah cinta yang terindah, maka jangan kau kotori dengan kemaksiatan-kemaksiatan sebelum halal. Menjaganya begitu sulit dan penuh perjuangan, namun perjuangan akan selalu berbuah manis. Beberapa kali menemui dua insan yang saling menjaga, mereka tak pernah berjalan berdua, bahkan untuk bertemupun selalu ada orang ketiga, dan ketika mereka disahkan agama, kesakralan pernikahan begitu terasa berbeda. Ada haru dalam bersatunya cinta.  Semoga keberkahan senantiasa mengiringi rumah tangga mereka.

Ketika Aku Menemukan Cinta

Fatimah Alfi Ahsani
Beberapa kali ada pesan masuk ke facebook ataupun whatssap yang menanyakan bagaimana proses menuju pernikahan, dan pertanyaan kenapa memilih untuk menikah muda, setelah merenung cukup lama, ciiie ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜„ akhirnya terbitlah tulisan ini. Semoga sahabat yang membaca bisa mengambil sebuah pelajaran dari cerita ini.

Awalnya ikhwan itu adalah salah satu orang yang sempat kubenci, menurutku dia songong, jutek, nyebelin, ngga ada ramah-ramahnya sama sekali, dll. Bikin ilfeel deh tiap ketemu. Tapi dari perasaan benci itulah jadi kepo, stalkinglah medsosnya. Bingung juga sih kenapa tiba-tiba jadi pengen ngepoin๐Ÿ˜‘

Pelajaran pertama, jangan berlebihan membenci seseorang, bisa jadi dan memang kenyataannya seperti itu, perasaan itu bisa berbalik. Entah sejak kapan dan apa penyebabnya, kita jadi sering bertegur sapa, apalagi sejak sering dimintain bantuan untuk jaga markas ketika yang ikhwan solat jum'at. Tidak ada yang kebetulan, kami bertetangga, beliau salah satu santri khidmat yang salah satu tugasnya menjaga keamanan lingkungan rumah Kyai sekaligus asrama putri. Mau ngga mau yaa, hampir setiap hari ketemu.

Ternyata beliau itu orangnya baik, care, ngga sungkan untuk mengingatkan orang lain, dsb. Dengan catatan, itu semua berlaku untuk semua, meski respon yang ditangkap perempuan mah cenderung berbeda. Padahal beliau melakukan hal yang sama untuk oranglain yang membutuhkan bantuannya.

Pelajaran kedua, Jangan mudah baper ketika ada seseorang yang memberi perhatian lebih, karena mungkin perhatian itu bukan hanya kepadamu, dan niat beliau memang hanya untuk berbuat baik semata, tidak ada maksud lebih dari itu. Dan saya pun pernah merasakan kebaperan itu๐Ÿ˜ข Pernah suatu ketika saya drop, dan harus segera melakukan tes darah, Beliau yang nganter, nungguin, nyariin opsional pemeriksaan karena saat itu antriannya ratusan, beliin sari kacang hijau, yang beliin bensin, dsb. Dan juga beberapa kali beliau menegur untuk tidak memasang foto closeup di Facebook, dan hilanglah ratusan foto saya di Facebook. Butuh waktu seminggu, untuk membersihkan galeri.

Pernah mengira itu sebuah bentuk perhatian, namun Beliaupun berbuat hal yang sama ketika ada santri yang sakit, beliau juga tak segan mengingatkan ketika orang lain melakukan kesalahan. Dari situ mulai belajar untuk tidak berharap kepada makhluk. Dan ternyata, ketika perasaan suka muncul, menghilangkannya butuh perjuangan ekstra. Hanya berani memintanya dalam doa,  meski kadang keraguan datang, karena tak dipungkiri banyak juga yang menyukai kebaikan dirinya.

Sering denger kabar burung, Beliau dijodohin sama ini itu, nyesek siih, tapi saya bisa apa...? Cuma berani curhat ke sahabat dan juga orangtua. Beberapa kali tabayun ke Beliau, pas denger sebuah kabar tentang perjodohan, tapi beliau selalu mengatakan tidak. Oiyaa, beliau ini juga pernah mencoba menjodohkan saya dengan temannya, sudah dua kali, namun tetap saja saya menolak. Kadang timbul pertanyaan, kenapa dia ngga peka..?๐Ÿ˜ข

Proses Khitbah
Hingga suatu hari, curhatlah ke temen, tentang rasa yang selama ini terpendam, ciie๐Ÿ˜… Dan sahabat saya ini siap menjadi perantara, dimulailah proses Taaruf itu di bulan Juni 2016. Setelah bertukar cv, berlanjut ke obrolan yang lebih serius, hingga akhirnya dipertengahan Bulan Ramadhan, Beliau datang ke rumah. Perjuangan dari Bandung ke Cilacap naik motor. Meminta izin kepada kedua orantua untuk menghalalkan putrinya. Setiap prosesnya berjalan begitu mudah.

Pelajaran Ketiga, Akhwat boleh mengutarakan niatnya terlebih dahulu, namun harus melalui perantara. Bukankah sikap ini pernah diajarkan oleh Bunda Khadijah RA...? Awalnya sayapun ragu, namun Allah menguatkan, dan memberi jalan lewat sahabat saya. Disitulah saya semakin yakin, ketika seseorang akan menjadi jodoh kita, Allah akan membuka Pintu-Pintu Kemudahan.

Honeymoon
Alhamdulillah, tanggal 06 November 2016, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Saya mengagumi Beliau memang sudah lama, namun tidak dengannya. Cinta itu muncul saat orang-orang mengatakan sah. Selalu beliau menyatakan, "Aku akan terus belajar untuk menyayangimu, bantulah aku untuk membangun cinta bersamamu." Disaat itulah saya merasakan ketulusan cinta. Bersyukur, selama ini beliau bisa menjaga perasaannya. Dan mengungkapkannya setelah disahkan oleh agama, sebuah pernyataan yang membuat hati berbunga-bunga.

Belajar jadi orangtua
Pelajaran Keempat : Jika kamu ingin merasakan cinta yang tulus, jangan membiarkan perasaan cinta menggelora sebelum halal. Karena keberkahan Cinta muncul ketika seseorang sama-sama menjaga perasaannya. Jika sebelum menikah sudah sering bersama, setelah menikahpun tak ada bedanya. Maka untukmu yang tengah menanti, teruslah memperbaikki dan memantaskan diri, berusaha menjaga hati, agar memperoleh cinta yang haqiqi. Milikillah sebuah prinsip "Taaruf - Khitbah - Nikah" Insya Allah menjadi keluarga yang berkah.

Hallo Efek

Mendadak kelas X.1 menjadi gaduh karena dompet dan HP baru Maura hilang.

“Lo ngga lupa naruh kan, Ma?” tanyaku memastikan.

“Ngga Ver, gue inget kok sebelum ke lapangan dompet gue masih ada di tas. Dan gue juga masih sempat Smsan sama Mama tadi.” Ujar Maura sedih. Pasalnya dia baru saja mendapat kiriman uang dari Mamanya yang bekerja di Luar Negri. Dan kini uang serta Hpnya lenyap tak berbekas.

“Ini pasti ulah Loe lagi kan, Sya?!!” Riska menatap Asya dengan tatapan penuh selidik. “Yang ngga ikut Olahraga kan Cuma Elo!!!”

“Aku ngga ngambil Ris, aku berani bersumpah.” Ujar Asya sedih. “Aku emang ngga ikut Olahraga, tapi dari tadi aku di Perpus.”

“Mana ada maling ngaku maling, kalau aja maling mau jujur, penjara penuh kali!!! Udah deh, Loe ngaku aja, Lo keliatan pucet gitu, takut ketahuan ya?!!” Teriakan Riska semakin menjadi. Beberapa teman yang lain mulai terpancing untuk menyalahkan Asya.

“Riska cukup!!!” teriakanku membuat semuanya terdiam. “Kalian ngga bisa seenaknya menuduh orang tampa bukti, kalau sampai salah, itu namanya fitnah!!!” ujarku kesal. “Dan Elo Ris, nuduh Asya yang ngambil, apa Loe punya bukti?”

“Kalian tenang aja, Gue udah tau kok siapa pelakunya.” Ujar Kevin tiba-tiba. “Kemarin Vera meminta Pak Ujang untuk memasang CCTV percobaan di kelas ini. Dan ide konyolnya itu bermanfaat juga. Ma, dompet dan hp Lo aman, tapi mungkin sebagian uang Lo udah digunain. Dan kalian jangan asal memfitnah orang, pelakunya bukan Asya. Dia hanya memanfaatkan nama Asya untuk menutupi kejahatannya!!!” Penuturan Kevin membuat kelas menjadi hening. Semua bertanya-tanya siapa pelaku pencurian kali ini.

Dan salah satu dari mereka mulai ketakutan, karena rencananya gagal total.

*****

Akhirnya kasus ini selesai, dan semua barang Maura yang hilang telah kembali. Meskipun uangnya berkurang, namun Maura sudah mengikhlaskannya. Dan Asya terbukti tidak bersalah. Karena di tampilan CCTV tampak begitu jelas siapa pelakunya. Dan dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Dikeluarkan dari sekolah. Kalaupun tidak dikeluarkan, aku yakin dia akan mengeluarkan dirinya sendiri. Gadis itu…

“Vin, kenapa semua orang orang berfikir Kalau Asya yang ngambil? Padahal kan dia udah bener-bener berubah.” Tanyaku pada Kevin saat pulang sekolah.

“Itu namanya Hallo Efek, Vera. Setiap kali orang melakukan kesalahan, akan terekam di memori kita. Nah jika ada kejadian serupa, pasti yang ada di pikiran kita ya orang itu lagi yang melakukannya.” Ujar Kevin panjang lebar.

“Maksudnya gimana sih? Gue ngga ngerti deh!”

“Capek ngomong sama Orang Telmi!!!” Kevin mendengus kesal. “Jadi gini, Asya contohnya, dulu dia pernah mencuri dompet Loe kan. Dan semua orang menjudge Asya sebagai pencuri. Dan ketika kejadian pencurian itu terjadi lagi, mereka pasti langsung mikir kalau Asya kembali berulah. Padahal nyatanya Asya udah berubah.”

“Ohhh… gitu. Berarti Riska memanfaatkan nama Asya yang sempat tercemar untuk menutupi kejahatannya dong. Jahat banget sih tu cewek!!!” ujarku geram.

“Nah begitu… Riska pikir apa yang dia lakukan ngga akan ketahuan karena ada Asya yang bisa dijadikan kambing hitam. Kalau aja ngga ada CCTV konyol itu, kebenaran ngga akan pernah terungkap.” Kevin menepuk bahuku. “Ternyata sahabat gue satu ini bisa bermanfaat juga…” ia mempercepat langkahnya dan berlari meninggalkanku.

“Kevin…!!!”

Tentang Mimpi dan Perjuangan

  “Bagiku mimpi adalah sebuah pengharapan yang tak perlu dibayar dengan mahal. Mimpi adalah langkah awal perubahan, dan mimpi itulah yang selalu menguatkan ketika keputusasaan mulai menyerang. Mimpi membuatku bangkit dan menemukan langkah-langkah kepastian.”



Terlahir dalam kondisi serba cukup, tentunya bukan menjadi harapan. Namun itulah yang telah ditakdirkan Tuhan. Pasti ada sebuah pelajaran dibalik kepahitan, kesusahan dan kesedihan. Aku terlahir sebagai anak ke-4 dari lima bersaudara, dan disaat aku kecil, Allah menguji keluargaku dengan kesulitan ekonomi. Ayah tak mempunyai pekerjaan tetap yang bisa diandalkan hasilnya.

            Bersekolah tanpa uang saku, menjadi hal yang biasa bagiku dan ketiga kakakku saat itu. Karena bisa makan sehari tiga kali, bagi kami adalah nikmat tersendiri, walau hanya dengan menu makan yang begitu sederhana. Tapi yang membuatku bersyukur, ditengah kesulitan ekonomi itu, Ibu selalu menasehati kami agar tidak menyerah.

            “Ukirlah mimpimu setinggi langit, karena mimpi itu akan menjadi kekuatan untuk kalian bangkit saat terpuruk. Tunjukanlah bahwa kemiskinan tak menghalangi kalian untuk berprestasi.” Kata Ibu saat kami tengah belajar bersama.

            Tahun 2009 adalah tahun tersulit bagiku, saat itu aku duduk di bangku SMP, kondisi ekonomi keluargaku belum juga stabil. Terkadang singkong menjadi makanan pokok disaat tidak bisa membeli beras, dan memasaknya pun harus menggunakan kayu bakar. Karena saat itu minyak tanah sudah mulai langka dan harganya pun melambung tinggi. Sempat terfikir untuk menyerah dan berhenti sekolah, namun ketika melihat tulisan besar di kamarku, semangat itu kembali terpacu. Aku akan menunjukkan bahwa orang miskin sepertiku pun mampu mengukir prestasi. Lagi-lagi mimpi membangkitkan sebuah motivasi. Dan akhirnya saat pengumuman kelulusan, aku mendapat peringkat ketiga dengan rata-rata nilai 8,75.

            Ternyata ujian kepahitan itu tidak hanya sampai disitu, aku harus tinggal di sebuah Panti Asuhan agar tetap bisa melanjutkan sekolah. Masalah demi masalah baru pun mulai bermunculan, mulai dari dimusuhi teman seasrama, hingga harus keluar dari ruangan tes, karena belum membayar iuran sekolah dan juga penyakit kakak pertamaku yang semakin parah. Dan ketika aku pulang untuk meminta uang, Ayah tak mempunyai uang sepersenpun saat itu, dan Ibu sedang ke Bandung untuk mencari pekerjaan. Jujur hatiku hancur saat itu, aku tak tau apa lagi yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menangis dalam perjalanan kembali ke panti.

            Dan disaat aku benar-benar pasrah, Allah membukakan Jalan-Nya, aku mendapatkan Rangking Pertama selama kelas X, aku terpilih untuk mengikuti berbagai lomba, hingga pernah mendapatkan juara I Olimpiade Ahmad Dahlan Bidang Study Fisika tingkat Kabupaten dan juara II Lomba Cerdas Cermat Pancasila tingkat Kabupaten Karanganyar. Tentunya untuk mendapatkan hal itu harus melewati berbagai rintangan. Aku harus bisa membagi waktu untuk belajar dan bekerja membersihkan Panti. Tangis dan Tawa datang silih berganti. Namun Aku tetap bertahan karena aku memiliki mimpi.

            Keberhasilan demi keberhasilan kecil mulai kuraih, satu demi satu bakatku mulai terasah, meski kondisi keluargaku belum berubah saat itu, namun aku bersyukur karena aku mendapatkan Beasiswa sampai kelas XII. Dan itu sudah cukup membuat kedua orangtuaku bangga. Bahagia rasanya saat pulang ke rumah dan membawa piagam prestasi, bahagia melihat mereka tersenyum penuh arti.

            Semua prestasi yang sempat kuraih, berawal dari mimpi. Dulu dalam tangisku, aku selalu bermimpi menjadi seorang siswa yang berprestasi. Bisa memberikan piala untuk kedua orangtua yang selama ini membesarkanku. Dan satu demi satu mimpi itu mulai terwujud. Bermimpilah, dan temukan sebuah keajaiban dalam setiap langkahmu.

Ketika Cinta Menyapa di Kereta

Jam menunjukkan pukul 20.30, suasana stasiun sedikit ramai malam itu. Ayra melangkah perlahan-lahan menuju kereta yang akan menghantarkannya ke kampung halaman. Sebuah senyuman tersungging di wajah ayunya.

"Selamat malam..." sapa seseorang dengan ramah. Ayra hanya tersenyum dan mengangguk untuk menghargai keramahnnya. Siapa lagi kalau bukan petugas, karena Ayra tidak mengenal siapapun di stasiun ini.

"Akhirnya, gue bisa pulang." Pekik Ayra dalam hati. Bahagia. Yah itulah yang dirasakan gadis berkulit sawo matang, bermata biru dan memiliki lesung pipit saat tersenyum. Manis. Sudah dua tahun ia merantau di Bandung. Dan hari ini, kereta Kutojaya Selatan akan menghantarkannya menuju kampung halaman yang selama ini dia rindukan.

Sayup-sayup terdengar suara peluit, pertanda kereta akan segera berangkat. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel mulai terdengar. Ayra memandang keluar, meski gelap namun cahaya-cahaya kecil itu nampak indah. Dan Ayra menyukainya, baginya perjalanan adalah saat yang terbaik untuk mencari inspirasi.

"Allah menciptakan mata untuk memandang, dan malam ini aku benar-benar merasakan begitu pentingnya mata ini. Aku bersyukur, terlahir dengan normal sehingga bisa menikmati Maha Karya sang Pencipta yang indah ini. Terima kasih yaa Allah." Batin Ayra saat melihat lampu-lampu kecil itu bertebaran di bukit. Tampak seperti bukit berbintang.

Tiba saatnya pengecekan tiket, tanpa sengaja matanya beradu pandang dengan salah satu dari petugas yang mengecek tiket. Satu, Dua, Lima... Sepuluh. Keduanya sama-sama mengalihkan pandangannya. Ayra menyerahkan tiketnya dengan gugup, entah kenapa secara tiba-tiba dadanya bergemuruh. Sorot mata itu...

Dia mengecek tiket Ayra sedikit lama, diam-diam Ayra memperhatikannya. Cowok dengan tinggi badan kira-kira 180 cm, berbulu mata lentik, berkulit sawo matang, dan memiliki gigi gingsul, terbalut dengan setelan jas petugas pengecekan tiket. Keren. Kalau dilihat, kira-kira dia berusia 22 tahun. Namanya Ruvel.

"Terima kasih..." Ruvel mengembalikan tiket Ayra. Dan meninggalkan sebuah senyuman yang begitu manis.

Ayra terdiam, ia meletakkan tangannya di dada. Detak jantungnya terasa lebih cepat. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. Walau ia masih bingung dengan apa yang ia rasakan. Mungkinkah ada rasa saat pandangan pertama???

Gadis itu mengambil handphonenya, membiarkan lagu-lagu menemani khayalannya malam itu. Ia sengaja tidak tidur, menyiapkan hati dan pikirannya untuk mengolah imajinasi.

"Siapapun kamu, jika memang takdirnya kita bertemu, pasti kita akan saling mengenal. Dan jika kamu adalah cinta yang selama ini aku cari, dimensi jarak dan waktu takkan bisa menghalangi pertemuan itu." Tulis Ayra dalam status facebooknya.

*****

"Ngga tidur?"

Ayra hanya menggeleng, bibirnya seolah kelu untuk berkata-kata. Ia hanya bisa tersenyum, saat cowok yang saat ini memenuhi otaknya menyapanya. Lagi-lagi dia tersenyum.

Di setiap stasiun ada penumpang yang baru, sehingga Ruvel bolak-balik untuk mengecek tiket. Dan ia selalu tersenyum saat melewati tempat duduk Ayra. Sebuah senyuman yang membuat Ayra gila.

"Senyum misteriusmu membuatku terpaku, membuatku berharap bisa mengenalmu lebih jauh." Batin Ayra. Lagu yang dibawakan oleh Mikha Tambayong membuat angannya semakin melayang.

Tiba-tiba hpnya bergetar, ada satu permintaan pertemanan di Facebooknya. Mata Ayra membelalak saat melihat namanya. Ruvel Martadinata. Mungkinkah itu facebook milik petugas pengecek tiket itu? Ayra langsung mengkonfirmasinya. Dan memang benar, facebook itu milik Ruvel. Ayra ingin berteriak saking bahagianya, tapi dia sadar ia berada di tengah-tengah keramaian.

"Maaf ya, aku ngeadd facebook kamu. Tadi pas ngecek tiket aku sempet ngafalin nama kamu, untung pas aku nyari di Facebook ada. Maaf kalau aku lancang. Salam kenal Ayra cantik." Tulis Ruvel di inbox. Dan cowok itu juga mengelike status yang Ayra buat.

"Salam kenal juga Ruvel. :)" balas Ayra.

Hatinya benar-benar berbunga-bunga malam ini. Ingin rasanya kereta ini berjalan lambat, namun harapannya pupus saat petugas mengumumkan kalau lima belas menit lagi kereta akan tiba di stasiun Kutoarjo. Ayra mendesah kecewa.

Tapi sedetik kemudian ia tersenyum saat membaca status Ruvel. "Jangan bersedih, rasa aneh yang tiba-tiba datang menyerang hatiku saat pertama kali melihatmu akan kujaga. Dan aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu, aku akan mencarimu. Satu jalan sudah terbuka, aku yakin akan ada jalan lain yang akan mempertemukan kita. Terimakasih untuk sebuah senyuman manis itu. Ayra."

"Rasa ini datang begitu cepat, dalam hitungan detik dia berhasil mencuri hatiku. Senyuman manis dan wajahnya yang teduh membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Akan kutunggu janjinya, aku yakin jarak dan waktu akan menjawab semuanya di waktu yang tepat. Sampai bertemu, ingatlah dimanapun kita berada, kita memandang langit yang sama." Ayra kembali meninggalkan sebuah status yang langsung dilike oleh Ruvel.

*****

Ayra melangkah perlahan-lahan saat meninggalkan stasiun, ia menoleh, terlihat Ruvel melambaikan tangannya seolah memintanya untuk tetap tinggal. Ayra berhenti berjalan, menunggu Ruvel yang berlari kecil menghampirinya.

Keduanya saling menatap dalam bingkai senyuman.
"Suatu hari nanti aku akan menemukanmu."

Ayra hanya mengangguk, "Aku akan menunggu hari indah itu."

"Terima kasih, maaf aku harus pergi." Ruvel memberikan setangkai bunga dan bergegas pergi saat sang masinis sudah memanggil namanya.

"Semoga kau senang dengan bunga itu..." teriaknya sebelum naik ke kereta.
Ayra tersenyum, ia baru beranjak saat kereta itu sudah tak nampak.
"Mungkin ini terlalu cepat, meski aku belum seutuhnya mengenal dia, tapi rasa ini begitu kuat. Dan jika dia memang yang terbaik, aku yakin dia akan memenuhi janjinya. Jika tidak mungkin ini hanya sebuah sandiwara. Sebuah episode tentang cinta."

Baca : Ketika Cinta Menyapa di Kereta 2

Ketika Cinta Menyapa di Kereta 2

Langit masih gelap, sang mentari mungkin masih enggan menampakkan sinarnya. Karena samar-samar cahaya bintang masih berkilauan. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa hawa dingin nan menyegarkan. Karena belum terkontaminasi pekatnya asap kendaraan.

Ayra merapatkan jaketnya, jam menunjukkan pukul 05.00 pagi itu. Suasana kota Bandung pun masih lengang, mungkin mereka tengah shalat subuh berjamaah di masjid. Sehingga taksi yang menghantarkannya ke stasiun Bandung, terasa lebih cepat. Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke stasiun.

Meski masih pagi, suasana Stasiun Bandung tampak ramai. Disetiap sudut terlihat orang-orang menanti keberang katan dengan berbagai bentuk bingkisan di sampingnya. Mudik memang selalu membawa cerita. Ayra tersenyum, kenangan setahun yang lalu kembali menyeruap dalam ingatannya. Gadis itu hanya mendesah panjang.

"Semuanya akan baik-baik aja Ayra..." batinnya menguatkan diri.

Namun sekuat apapun Ayra mencoba melupakan, tetap saja bayangan Ruvel yang terbayang. Sudah setahun ia menghilang tanpa kabar, ngga pernah aktif di Facebook. Mereka berdua benar-benar loss kontak.

Tepat jam 06.40 terdengar pengumuman bahwa penumpang bisa menaikki kereta Lodaya Pagi yang tersedia di jalur 5. Ayra melangkah perlahan-lahan, perasaannya masih campur aduk tak menentu. Kereta menyimpan cerita tersendiri untuknya.

***Ayra***

Aku sudah berusaha melupakan, melupakan kenangan yang pernah terlukis di memori otakku. Tapi semakin aku berusaha untuk melupakan, kenangan itu semakin mengakar.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, rasa-rasanya hatiku belum siap untuk menerima inspirasi. Tiba-tiba aku mendapat pesan dari Alfia, ia menyarankan aku mendengarkan Nasyid Mencintai Kehilangan, lagu yang katanya tengah populer saat ini.

Ada-ada aja sahabatku satu itu, dia kan tau aku lagi galau, eh malah disuruh dengerin lagu yang begituan. Awalnya aku ragu, tapi daripada terus-terusan melamun. Dan ternyata... Aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Yahhh, aku harus belajar mengikhlaskan. Meyakinkan hatiku, jika memang Ruvel jodohku, ia akan datang di saat yang tepat. Jadi semakin tertarik mendengarkan musik positive Kang Abay Motivasinger.

***

Akhirnya setelah menempuh perjalanan 10 jam lamanya, sampai juga di Temanggung. Ahhh,,, rindu rasanya berkumpul dengan keluarga.

"Asalammualaikum..." langkahku terhenti di depan pintu. "Ruvel...???" Pekikku terkejut. "Bunda Mala...???"

"Masuk dulu dong sayang," Mama melepaskan tas gendongku, dan menuntunku ke ruang tamu.

"Apa kabar sayang...?" Bunda Mala memelukku dengan erat.

Disampingnya Ruvel tersenyum menatapku. "Kamu emang banyak berubah Ra..."

Aku hanya tersenyum lalu duduk di samping Mamah dan Nenek. Ada apa ini...???

"Jadi gini Ra, maksud kedatangan aku ke sini..." ia menghirup nafas panjang. "Aku mau melamar kamu... Mamah kamu udah mengizinkan kok, dan Bunda juga setuju. Tapi semua keputusan ada di tangan kamu, siapkah kamu menjadi pendamping hidupku...?"

Keterkejutanku tadi belum seutuhnya menghilang, dan kini cowok di depanku ini, membuat debaran ini semakin cepat. Entah apa yang harus aku katakan saat ini. Semua ini bagai mimpi. Seseorang yang telah sekian lama menghilang tanpa kabar, tiba-tiba datang untuk meminang.

"Insha Allah, Ayra siap..." entah darimana, kata-kata itu meluncur begitu saja.

"Alhamdulillah..." ada raut kebahagiaan di wajahnya, di wajah Mama, Bunda Mala, dan juga Nenek.

***Ruvel***

Kutatap diriku di depan kaca, setelan jasko putih ini terasa begitu suci. Akhirnya, hari yang kutunggu-tunggu itu tiba. Setelah sekian lama aku menanti, berjuang menahan rasa ini agar tetap suci.

Dulu, aku sempat berfikir untuk menjadikannya seorang kekasih. Dia yang baik, cantik, dan mempesona. Namun aku takut, karena saat itu Dia tengah belajar memperdalam ilmu agamanya, ia tengah menjadi seorang santri yang tengah berjuang memperbaikki diri. Bagaimana mungkin, aku tega merusak konsentrasinya dengan cinta yang belum halal ini...?

Mungkin terasa menyakitkan baginya, karena dulu aku pernah mengungkapkan sebuah rasa. Mungkin saat itu dia membenciku, karena tetiba menghilang begitu saja. Walau kenyataannya, selama ini diam-diam aku memperhatikannya.

Dan aku pun berusaha melakukan hal yang sama, berusaha memperbaikki diriku, memantaskan diri ini agar suatu hari nanti bisa bersanding denganmu. Aku hanya berani memintamu dalam doa-doaku.

Hingga suatu ketika, kamu bertemu dengan Ibundaku, itu bukan sebuah kebetulan, itu semua skenario yang selama ini kususun. Dan ternyata Bunda sangat menyayangimu. Sikapmu yang lembut, Tutur katamu yang sopan dan menyenangkan, Tulusnya kasih sayangmu, membuat Bunda jatuh hati kepadamu.

Dari Bunda aku tau, aku masih tersimpan di hatimu. Kamu berhasil membingkai namaku dengan indah di hatimu. Setahun bukanlah waktu yang sebentar, namun selama itu kita sama-sama memantaskan diri, sama-sama mendoakan dalam diam, hingga akhirnya kita dipertemukan di pelaminan. Semoga, cerita ini menjadi sebuah kenangan yang indah untuk di kenang.

***Ayra***

"Ciiie, akhirnya...!!!" Alfia memelukku dengan erat. "Bahagia banget rasanya..."

"Makasih yaa Fi, selama ini kamu selalu support aku, bantu aku, ahhh,,, pokoknya kamu sahabat terbaik aku...!!!" Kubalas pelukannya. Hangat rasanya. Gadis ini yang selama ini membuatku nyaman, meski terkadang sifatnya menyebalkan.
"Jadi kamu kapan...?"

Alfia hanya nyengir kuda, "Doain aja yaa, yang terbaik pokoknya mah..."

"Ciie yang udah di khitbah,,," godaku, membuat pipi gadis yang di depanku ini merona merah. Cerita sahabatku satu ini tak kalah seru, perjuangannya luar biasa deh.๐Ÿ˜ƒ

"Ciie yang lagi deg-degan...!!!" Sepertinya ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ruvel beruntung dapetin kamu, kamu cantik banget hari ini...!!!"

"Berarti selama ini aku ngga cantik..??"

"Engga...!!!" Alfia tersenyum puas melihat perubahan wajahku.

Untung ada Alfia, sehingga aku tak segugup tadi. setidaknya ada teman berbagi, sedikit membuatku lebih tenang. Aku baru tau, kenapa selama ini Ruvel menghilang tanpa kabar. Memang dulu aku sempat kecewa, bahkan membencinya. Cowok yang pernah kucap sebagai pemberi harapan palsu. Namun seandainya saat itu ia datang, mungkin kisahku takkan seindah ini.

Aku semakin percaya, bahwa rencana-Nyalah yang terindah.

***

Lagu Pernikahan Impian mengalun merdu memenuhi gedung itu. Di pelaminan, sepasang kekasih terlihat begitu mesra. Kebahagiaan terpancar kuat dari wajah mereka. Seolah terungkap kata, "Akhirnya halal juga..."

"Mentari pagi tersenyum tenangkan hati
Sebuah kisah akhirnya berakhir indah
Doa rinduku terjawab karena hadirmu
Kita bersama melangkah bahagia

Meski kita dipertemukan tak sengaja
Tapi ku yakin rencanaNya yang terindah
Untuk kita, lewatinya...

Aku menikahimu karena Allah mau
Telah lama ku menanti kehadiranmu dihati
Aku menikahimu karena cinta sejati
Ada dalam pernikahan impianku bersanding denganmu
Hoooo....hmmm

Kita kan saling menguatkan
Bersama sama membangun cinta
Meniti jalan ridhoNya..."

Untukmu yang tengah menanti, ketika ia belum juga nampak, kuatkanlah niat suci itu. Mungkin, Allah belum juga mempertemukan karena niat kita belum benar.

Ketika Kita Bersua Dalam Kereta


Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel sudah mulai terdengar, pertanda stasiun sudah tidak jauh lagi.  Zahra melangkah perlahan-lahan, sesekali ia menyapa orang-orang yang berlalu lalang ataupun yang tengah bercengkerama di depan rumahnya. Jam menunjukkan pukul 08.15, pagi itu. Sang mentari perlahan-lahan mulai naik. Semburat sinarnya mengenai sisa-sisa embun yang masih menempel di dedaunan, indah sekali, tampak seperti permata.
Suasana stasiun Kutoarjo tampak ramai, maklum seminggu yang lalu liburan sedikit panjang. Liburan anak sekolah dan juga libur menyambut Bulan Ramadhan. Zahra duduk di ruang tunggu sembari memperhatikan sekelilingnya. Beberapa orang menawarkan untuk mengangkut barang bawaan mereka, ada beberapa calon penumpang yang menyetuji dan ada pula yang menolak.
"Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, tak peduli meski mengangkut beban berat seperti itu bisa merusak tubuh jika dilakukan terus-menerus. Tapi demi keluarga mereka tetap melakukannya. Seharusnya aku bersyukur, Allah memberikan pekerjaan yang layak untukku. Duduk di depan komputer, tanpa harus mengangkat beban seberat itu dengan bayaran yang tak lebih dari Rp 10.000." Batin Zahra sedih. "Kuatkan mereka yaa Allah, mudahkanlah rezeki mereka di bulan yang penuh berkah ini..."
Zahra menyeka air matanya yang hampir saja terjatuh, dulu ia sempat merasakan hidup dalam kekurangan. Ia bisa merasakan bagaimana perjuangan orang tuanya saat itu, dan ia bersyukur kini ia dan keluarganya bisa hidup lebih layak.
Pengumuman bahwa kereta Kutojaya Selatan jurusan Kutoarjo-Bandung membuyarkan lamunannya. Gadis manis berkerudung merah itu menyiapkan tiket dan bergegas memasuki loket pengecekan pertama.
Tepat pada pukul 09.20 kereta itu meluncur meninggalkan stasiun kutoarjo. Zahra terlihat begitu menikmati perjalanannya kali ini, untuk yang pertama kalinya ia melakukan perjalanan menggunakan kereta saat matahari masih memancarkan sinarnya.
Sebuah senyuman terukir indah di wajahnya saat kereta melewati sawah yang membentang luas, di sana juga terlihat para petani yang tengah bekerja. Bentangan hijau itu tampak seperti permadani hijau. Indah sekali.
"Mau kemana Teh?" Tanya seorang gadis cantik yang duduk berhadapan dengannya. Gadis berambut panjang itu sangat ramah, dan terlihat begitu cantik saat tersenyum. Kalau dilihat dia seumuran dengan Zahra.
"Mau ke Bandung Teh," jawab Zahra tak kalah ramah. "Teteh mau kemana?"
"Mau ke Bandung juga kok, santri Daarut Tauhiid yaa? Perkenalkan saya Dewi."
Zahra mengangguk, ia menjabat tangan Dewi. "Saya Zahra... Teteh kuliah di Bandung?"
Dewi mengangguk, "Sepertinya kita seumuran, panggil nama aja ya biar lebih akrab." Ia tersenyum. "Aku kuliah di UPI jurusan Psikologi semester 4. Kalau kamu?"
"Wahhh psikologi..." ujar Zahra kagum. Dulu ia begitu ingin kuliah di psikologi kedokteran, tapi takdir berkata lain. "Kalau aku udah kerja di Daarut Tauhiid. Asli Bandung?"
"Nggak, sama lah kaya kamu pendatang di Bandung. Wahh seneng yaa udah bisa kerja, udah bisa membiayai hidup sendiri. Di lingkungan pesantren lagi..."
"Alhamdulillah..." jawab Zahra diiringi dengan senyumnya yang manis.
*****
Zahra kembali asyik menikmati pemandangan, sesekali ia mengabadikan lukisan multi dimensi karya Sang Pencipta yang begitu indah.
"Kau tau, indonesiaku begitu indah. Lihatlah pematang sawah itu, lihatlah burung-burung kecil yang berterbangan saat petani menggoyangkan boneka swah, dengarlah gemricik air sungai yang merdu itu, dan tataplah birunya langit, juga pandanglah bukit-bukit hijau yang berdiri dengan kokoh. Temukan juga orang-orangnya yang ramah, yang tersenyum kepadamu dan menyapamu dengan ramah, meski kalian belum saling mengenal." Tulis Zahra di account Facebooknya.
"Zahra, kamu suka nulis yaa?" Tanya Dewi lagi.
"Iyaa, kok kamu tau?"
"Dari tadi aku perhatikan kamu begitu larut dalam menikmati pemandangan. Pasti banyak inspirasi yang kau dapatkan. Kakakku juga seorang penulis, dan ia juga melakukan hal yang sama sepertimu saat kami melakukan perjalanan."
"Oh yaaa...??? Iya Wi, perjalanan membuat imajinasiku melanglang buana. Banyak ide yang bisa kita temukan dari berbagai sudut."
"Wahhhh keren dong... dalam ilmu psikologi menulis adalah salah satu terapi untuk mengobati stress, kalau menurutmu apakah itu benar?"
"Bagiku semua itu benar Wi, soalnya nih ya kalau aku lagi BT, lagi banyak masalah, aku nulis aja, temanya juga seputar permasalahan yang aku hadapi, ketika menceritakan masalah itu, aku juga harus tau jalan keluarnya. Secara tidak langsung aku tau apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan masalahku."
"Oke aku paham, terus apa esensi yang kamu dapatkan dalam sebuah perjalanan?"
"Kalau kata Adeda mah ya, perjalanan itu melatih rasa empati. Misal nih ya, kita melihat seorang polisi yang tengah mengatur lalu lintas. Kalau kita biasa saja kita tidak akan menemukan sebuah pelajaran, tapi ketika kita berniat untuk mencari hikmah, akan ada secuil kisah yang akan kita dapatkan. Pernah ngga terfikir di benakmu, begitu beratnya tugas seorang polisi, ia harus mengorbankan waktunya bersama keluarga, bekerja dibawah terik matahari, dll."
"Tapi itukan tugas mereka, bukankah setiap pekerjaan memiliki konsekuensi?"
"Benar katamu, pekerjaan apapun memiliki resiko. Tapi disitulah kita belajar mengasah rasa empati kita. Ketika kita sudah bisa memiliki empati, kita tidak mudah menghujat ketika mereka melakukan suatu kesalahan. Empati membuat kita bisa menghargai dan menghormati orang lain."
Dewi terdiam, mencoba memahami penjelasan Zahra. Seorang penulis memang selalu bisa mengambil pelajaran dari sisi lain.
"Maaf aku terlalu banyak bercerita." Zahra tersenyum.
"Gpp Zahra, aku seneng bisa ngobrol sama kamu. Seneng yaa kalau bisa mengambil hikmah di setiap kejadian. Seperti Aa Gym atuh yaa..."
"Aku juga belajar dari Aa Gym, beliau selalu bisa mengambil hikmah di setiap kejadian sekecil apapun. Dan menjadi inspirasi untuk kami semua..."
"Baiklah, aku akan belajar mencari hikmah dibalik sebuah kejadian. Sepertinya aku mengantuk Zahra, silahkan kembali mentafakuri ciptaan Sang Maha Indah..."
Zahra tersenyum, dan ia kembali larut dalam indahnya pemandangan alam. Selain sawah, zahra juga melihat sungai di daerah Purwokerto yang lebar dan panjang. Ia tertidur ketika merasa lelah.
"Terima kasih ya Allah, Kau memberikan sebuah kesempatan kepadaku untuk menikmati keajaiban ciptaanMu, dan juga Kau pertemukan aku dengan orang-orang yang menjadi jalan kuperoleh inspirasi." Bisik Zahra sebelum ia terlelap dalam mimpi.

Adverstisement

Adversitement