Mendadak kelas X.1 menjadi gaduh karena dompet dan HP baru Maura hilang.
“Lo ngga lupa naruh kan, Ma?” tanyaku memastikan.
“Ngga Ver, gue inget kok sebelum ke lapangan dompet gue masih ada di tas. Dan gue juga masih sempat Smsan sama Mama tadi.” Ujar Maura sedih. Pasalnya dia baru saja mendapat kiriman uang dari Mamanya yang bekerja di Luar Negri. Dan kini uang serta Hpnya lenyap tak berbekas.
“Ini pasti ulah Loe lagi kan, Sya?!!” Riska menatap Asya dengan tatapan penuh selidik. “Yang ngga ikut Olahraga kan Cuma Elo!!!”
“Aku ngga ngambil Ris, aku berani bersumpah.” Ujar Asya sedih. “Aku emang ngga ikut Olahraga, tapi dari tadi aku di Perpus.”
“Mana ada maling ngaku maling, kalau aja maling mau jujur, penjara penuh kali!!! Udah deh, Loe ngaku aja, Lo keliatan pucet gitu, takut ketahuan ya?!!” Teriakan Riska semakin menjadi. Beberapa teman yang lain mulai terpancing untuk menyalahkan Asya.
“Riska cukup!!!” teriakanku membuat semuanya terdiam. “Kalian ngga bisa seenaknya menuduh orang tampa bukti, kalau sampai salah, itu namanya fitnah!!!” ujarku kesal. “Dan Elo Ris, nuduh Asya yang ngambil, apa Loe punya bukti?”
“Kalian tenang aja, Gue udah tau kok siapa pelakunya.” Ujar Kevin tiba-tiba. “Kemarin Vera meminta Pak Ujang untuk memasang CCTV percobaan di kelas ini. Dan ide konyolnya itu bermanfaat juga. Ma, dompet dan hp Lo aman, tapi mungkin sebagian uang Lo udah digunain. Dan kalian jangan asal memfitnah orang, pelakunya bukan Asya. Dia hanya memanfaatkan nama Asya untuk menutupi kejahatannya!!!” Penuturan Kevin membuat kelas menjadi hening. Semua bertanya-tanya siapa pelaku pencurian kali ini.
Dan salah satu dari mereka mulai ketakutan, karena rencananya gagal total.
*****
Akhirnya kasus ini selesai, dan semua barang Maura yang hilang telah kembali. Meskipun uangnya berkurang, namun Maura sudah mengikhlaskannya. Dan Asya terbukti tidak bersalah. Karena di tampilan CCTV tampak begitu jelas siapa pelakunya. Dan dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Dikeluarkan dari sekolah. Kalaupun tidak dikeluarkan, aku yakin dia akan mengeluarkan dirinya sendiri. Gadis itu…
“Vin, kenapa semua orang orang berfikir Kalau Asya yang ngambil? Padahal kan dia udah bener-bener berubah.” Tanyaku pada Kevin saat pulang sekolah.
“Itu namanya Hallo Efek, Vera. Setiap kali orang melakukan kesalahan, akan terekam di memori kita. Nah jika ada kejadian serupa, pasti yang ada di pikiran kita ya orang itu lagi yang melakukannya.” Ujar Kevin panjang lebar.
“Maksudnya gimana sih? Gue ngga ngerti deh!”
“Capek ngomong sama Orang Telmi!!!” Kevin mendengus kesal. “Jadi gini, Asya contohnya, dulu dia pernah mencuri dompet Loe kan. Dan semua orang menjudge Asya sebagai pencuri. Dan ketika kejadian pencurian itu terjadi lagi, mereka pasti langsung mikir kalau Asya kembali berulah. Padahal nyatanya Asya udah berubah.”
“Ohhh… gitu. Berarti Riska memanfaatkan nama Asya yang sempat tercemar untuk menutupi kejahatannya dong. Jahat banget sih tu cewek!!!” ujarku geram.
“Nah begitu… Riska pikir apa yang dia lakukan ngga akan ketahuan karena ada Asya yang bisa dijadikan kambing hitam. Kalau aja ngga ada CCTV konyol itu, kebenaran ngga akan pernah terungkap.” Kevin menepuk bahuku. “Ternyata sahabat gue satu ini bisa bermanfaat juga…” ia mempercepat langkahnya dan berlari meninggalkanku.
“Kevin…!!!”

EmoticonEmoticon