"Teh, kenapa teteh milih nikahnya sederhana...??? Kan itu acara cuma sekali seumur hidup...???" tanya Naya mengawali obrolan sore itu. "Kalau Naya mah pengennya kaya artis-artis gitu deh."
Aku hanya tersenyum menanggapi pendapat gadis yang sedang tumbuh menjadi dewasa ini. "Kan yang penting mah sah Nay. Bagi teteh mah yaa, kehidupan setelah menikah itu lebih penting, jangan sampailah kita pengen walimah yang wah, sampai-sampai nyari pinjaman kesana kemari. Acaranya cuma sehari, mikirin hutangnya berhari-hari. Teteh tau dirilah Nay, gimana kondisi keluarga teteh, suami teteh, dan tabungan kita masing-masing. Tapi kalau memang berasal dari keluarga yang serba kecukupan ya silahkan, setiap orang punya pilihan kok. Alhamdulillahnya, Aa sama teteh punya pilihan yang sama, sama-sama ingin prosesi walimah yang sederhana tapi berkah."
"Gitu yaa teh...?" ia sedikit berfikir, "berarti mulai dari sekarang Naya harus nabung dong. Kan gengsi kalau acaranya sederhana, temen-temen Naya aja walimahnya super wah. Naya ngga mau kalah dong sama temen-temen."
"It's oke, itu pilihan Naya. Toh kedepannya Naya yang ngejalanin, tapi kalau teteh boleh ngasih saran mah, jangan cuma ngegedein gengsi, tapi yang perlu kamu lakukan adalah belajar memantaskan diri, kehidupan setelah nikah tu ngga cuma sehari dua hari, perlu banyak ilmu untuk menghadapi cobaan yang datang silih berganti. Minta tolonglah Nay, sama Allah. Minta diberi kemudahan dalam menyelenggarakan walimah. Toh rezeki Allah yang atur."
"Dulu di tempat tinggal teteh pernah ada kejadian, seorang Bapak bunuh diri karena tidak memiliki cukup uang untuk pernikahan anaknya, sedangkan anaknya ngotot pengen acaranya serba wah. Beliau udah nyoba cari pinjaman kesana-kemari, tapi tetep aja belum cukup untuk memenuhi keinginan anaknya. Mungkin karena tertekan, atau merasa bersalah kepada anaknya, beliau memilih mengakhiri hidup dengan cara gantung diri."
Suasana hening sejenak, mungkin Naya sedang memikirkan pendapatku atau malah menghayal...??? Semoga dia bisa mengambil ibroh dari percakapan ini. Aku paham diusianya yang sudah cukup matang untuk menikah ini, dia mulai merancang masa depannya, apalagi satu demi satu dari sahabatnya sudah dihalalkan. Pasti ia pun memiliki keinginan yang sama untuk segera melepaskan masa lajang.
Aku bersyukur, ia berani mengambil sikap untuk tidak pacaran. Meski kadang masih suka kebawa perasaan, hemmttt, menjadi baik itu prosesnya panjang dan butuh perjuangan. Sepupuku satu ini memang menggemaskan, usia kita memang hanya terpaut setahun, jadi nyaman aja kalau lagi curhat sama Naya.
"Kayaknya Naya juga seperti teteh aja deh, sederhana aja walimahannya, pengen juga atuh akadnya di masjid DT, yang khutbah nikahnya Aa Gym."
"Sok atuh bilang ke Aa, biar dibantuin. Naya teh udah punya calon...??"
"Udah atuh teteh, orang minggu depan aja udah lamaran. Sorry baru bilang, kan kata teteh juga rahasiakan pinangan, umumkan pernikahan."
"Iya atuh, semoga lancar sampai hari H yaa."
"Siap. Teteh sama dede utun juga sehat terus yaa." ujar Naya sembari mengelus perutku yang mulai membesar. "Nuhun yaa teh masukannya, teteh mah bageur."
*****
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
Ceritanya bagus... di tunggu mampir ke aasumfah.blogspot.com ya
EmoticonEmoticon