Showing posts with label Santri Tahfidz. Show all posts
Showing posts with label Santri Tahfidz. Show all posts

Yukkk Nyantri...!!!

Ada banyak hal berkesan selama menjadi santri di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid. Setiap moment menjadi kenangan tersendiri, disinilah saya dan teman-teman belajar menggali hikmah dari setiap kejadian. Ilmu yang setiap hari kami dapatkan, seolah membuka mata hati kami, bahwa tidak ada kejadian yang buruk dalam hidup ini, jika kita bisa mengambil sebuah pelajaran dari setiap ujian.

Menurut saya yang paling unik dan paling berkesan adalah saat Masa Orientasi Santri, banyak kegiatan-kegiatan seru yang dirindukan tapi enggan untuk mengulani :D Semua yang menjadi santri di Daarut Tauhiid pasti pernah mengalami kenangan manis ini. 

Mulai dari berlatih PBB, kerapian dan kecepatan dalam makan, kecepatan dalam setiap pergerakan, ketegasan dari para pelatih, hukuman di setiap kesalahan, jiwa korsa dalam kebersamaan, dll. Dilanjutkan dengan menyusuri sungai, penyebrangan basah, merayap dalam kubangan lumpur dan diakhiri dengan muhasabah. Mirip seperti pendidikan militer, bedanya setiap pergerakan senantiasa dikaitkan dengan Allah SWT. Pelatih terus menerus mengingatkan untuk senantiasa berdzikir, agar hati bisa membaca hikmah dari setiap kejadian yang kami alami. 

Saya pribadi awalnya kaget ketika harus memasuki sungai yang kotor, penuh sampah, bau, dsb. Apalagi saat merayap di lumpur, harus bergerak cepat, namun kaki sulit untuk digerakkan. Disaat itulah air mata mengalir, kenapa mau nyantri aja harus seperti ini...??? Pertanyaan itulah yang terus terngiang, hingga berhasil melewati kubangan lumpurpun belum juga menemukan jawaban.  

Dan segala kegundahan itu, akhirnya terjawab ketika muhasabah. Saat itu Ustadz Hendra meminta agar masing-masing merenung, menggali hikmah dari rangkaian kegiatan yang telah kami lalui, jika belum bisa menemukan, perbanyak istigfar, agar Allah buka mata hati kita. Tangis demi tangis mulai terdengar, masing-masing mulai menyadari hikmah dari kegiatan ini. Air sungai memang kotor, bau, tetapi bukankah diri ini tak lepas dari tumpukan dosa, andaikan dosa bisa tercium, mungkin diri ini akan lebih bau dari air sungai yang kotor, namun semua itu tidak terjadi, karena Allah masih menutupi aib-aib kita. Dan lumpur, semua wajah penuh lumpur, semua sama tidak ada bedanya, tak terlihat mana yang cantik, mana yang ganteng, karena di Mata Allah semua sama, buMkan fisik, namun amal sholeh yang dinilai, lalu apa yang pantas kita sombongkan, toh semuanya akan kembali ke dalam tanah.

Long March
Masa Orientasi masih berlanjut, kali ini kegiatannya bukan lagi di area pesantren, tetapi di hutan cijanggel. Menjelang senja kami berangkat menggunakan angkutan umum, namun ternyata ditengah perjalanan kami diturunkan, dan dilanjutkan Long March setelah salat maghrib. Berjalan jauh, membawa beban kira-kira 20 kg di pundak, Alhamdulillah beban terasa sedikit ringan saat dzikrullah terus dilantunkan. Berjalan dalam kegelapan malam, pengalaman pertama yang takkan terlupakan. Mendekati hutan, mata ditutup menggunakan syal, berjalan jongkok, dan harus saling berangkulan, disinilah dibutuhkan kerjasama team. ๐Ÿ˜ข

Dan ternyata, setelah sampai hutanpun kami tidak langsung istirahat, harus membangun tenda, dan tidurnya pun bergantian. Jujur saat itu sifat penakut saya masih tinggi, campur aduk rasanya masih harus terjaga dalam gelap gulita. 

Prosesi Makan
Banyak kegiatan yang kami lakukan, lagi-lagi merayap dalam lumpur dan menyebrang sungai, tak ada lagi keluhan, kami sangat bersemangat saat itu, karena hikmah bertebaran saat kami melakukan suatu kegiatan. Lomba membangun bivak, outbound antar team, hukuman karena waktu makan yang terlalu lama, dsb. Disana sudah terbiasa dengan puss up, merayap dan berguling ๐Ÿ˜‚
Malamnya ditutup dengan Jurit Malam, dag dig dug duaarr rasanya, takut. Jalan sendirian di hutan malam-malam, harus membaca renungan di sebuah makam kecil buatan, diiringi bisikan-bisikan panitia yang berlalu lalang, cukup membuat nyali menciut. Saat itu terus melafalkan doa-doa yang dihafal. Alhamdulillah tidak bertemu dengan siapapun kecuali panitia. 

Solo Bivak
Setiap kegiatan diselingi dengan materi, dan penggalian hikmah. Setiap orang tentunya memiliki pelajaran yang berharga selama mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini ditutup dengan Solo Bivak, berkemah masing-masing. Disini haram hukumnya mengobrol dengan tetangga. Lagi-lagi rasanya nano-nano, karena sedang haid, setelah tilawah saya memutuskan untuk tidur, meski beberapa kali harus menjawab presensi. Hujan rintik-rintik, membuat tidur semakin lelap, mengobati rasa lelah setelah melakukan berbagai aktifitas. 

Sekitar jam 3 pagi kami dibangunkan untuk solat Tahajud, dan membaca surat cinta. Begitu membuka plastiknya, aroma kapur barus menyeruak, terselip kain kafan dan selembar kertas berbentuk nisan dan tertulis nama saya di nisan tersebut, dan ada muhasabah di balik kertas tersebut. Tangis demi tangis mulai terdengar, menangisi kesalahan demi kesalahan yang selama ini diperbuat, dan bertekad untuk lebih baik lagi kedepannya. 

Dan masa orientasi ditutup dengan nasi rames cijanggel spesial, padahal selama ini pun makanan selalu dicampur ketika over time, tapi kali ini campurannya extra. Ada nasi, sayur, lauk pauk, energen, madu, dsb tercampur dalam satu nampan. Rasanya...??? yaa begitulah. Plus extra hukuman, karena ada yang kabur saat solobivak. Mantep lah pokoknya. 

Daaannnn, akhirnya masa orientasi telah usai, bahagia rasanya. Syal hijau sudah berganti menjadi syal kuning, waktunya belajar ๐Ÿ˜‡ Oiya Latihan Berganda di hutan ini menjadi syarat wajib santri APW, PPM, Tahfidz Al-Qur'an, SMP, SMA dan SMK. Dan yang lebih dan lebih adalah Santri Siap Guna (SSG), kegiatannya lebih menantang. ๐Ÿ˜‰

Yukk nyantri di DT, ngga akan nyesel pokoknya. Yang udah nyantri disini kebanyakan ngga mau pulang, bahkan banyak yang bertemu jodohnya disini, eitss tapi jangan diniatkan mencari jodoh yaaa. Niatkan menuntut ilmu, jodoh mah bonusnya. ๐Ÿ˜

Best pict by Anton Hatmanto II

Manajemen Qur'an Bagi Ibu Rumah Tangga Bagian 2

Pertanyaan ketiga : Minta masukan dari Teh Ica supaya bisa membangun keluarga Qur'ani. Selama ini suami masih disibuk
kan dengan mencari nafkah, jadi jarang terlihat interaksi dengan Al-Qur'an, saya juga sejak punya anak jarang berinteraksi dengan Al-Qur'an ;(

Alhamdulillah, semua punya takdirnya masing-masing, yang terpenting mulai dari diri sendiri. Kita hidupkan Al-Qur-an di rumah dengan berbagai cara, contohnya :

1. Ada speaker khusus murotal 30 juz yang selalu nyala. Jadi ketika kita tidak sedang membaca, minimal mendengar dalam segala aktifitas, kecuali aktifitas di tempat yang tidak boleh ya.
2. Minimal seminggu sekali membaca Al-Qur'an bersama, tadabur bersama. Lebih baik lagi ada gurunya, belajar bersama.
3. Interaksi dengan Al-Qur'an tidak identik dengan tilawah saja. Bisa dalam keseharian dibagi kedalam 5 bagian (Membaca, Menghafal, Memahami, Mengamalkan, Mengajarkan). Bisa jadi suami bekerja mencari nafkah diniatkan untuk mengamalkan Al-Qur'an.

Pertanyaan keempat : Anak pertama usia 6 tahun, Alhamdulillah setahun ini selesai juz 30. Bagaimana caranya supaya tetap terjaga, berhubung di tempat baru sekarang dia lebih senang bermain diluar dengan teman-temannya, sering menolak kalau diajak murojaah.

Masya Allah pertanyaannya berat karena belum mengalami, anak masih usia 1,5 tahun. hehehehe...
Tapi mungkin bisa menjawab sedikit, kalaupun tidak dengan lisan anak untuk murojaah, bisa dengan di perdengarkan. Seminggu fokus murotal surat An-Naba, kemudian seminggu selanjutnya surat selanjutnya... atau bis beberapa hari saja, yang hafalannya belum kuat  bisa lebih lama harinya.

Dan yang terpenting anak senang dengan hafalannya, bukan target banyak hafalanny, tapi berapa besar minatnya sama menghafal. Bisa diselingi cerita dalam Al-Qur'an, diajak bertemu santri penghafal, dan dihindari tontonan yang kira-kira bertolak belakang dengan pendidikan Al-Qur'an. Insya Allah dengan sendirinya atas izin Allah, hafalan akan terjaga dan terus bertambah, yang lebih penting menjadi perubahan akhlaq juga untuk anak kita.

Penutup :

Alhamdulillah Allah takdirkan kita menjadi seorang wanita. Wanita yang sangat Allah muliakan sampai ada surat khusus untk wanita di dalam Al-Qur'an. Ternyata kita memiliki amanah besar, salah satunya rahim, tempat dititipkannya calon generasi selanjutnya, yang pastinya Allah ingin menjadi generasi terbaik yang bisa menjaga kesempurnaan agama-Nya dan menjaga kesucian Kalam-Nya.

Maka, jagalah mata kita, telinga kita, tangan, kaki dan segala perbuatan kita. Karena itu semua akan mengalir pada siapa yang kita kandung dan siapa yang kita berikan asinya. Kita menjadi madrasah pertama untuk anak kita.
Barakalloh sahabat semua, selamat berjuang :)

Sedikit pesan dari seorang Ibu, "Kecantikan seorang wanita ada pada kelembutannya, kekuatan seorang wanita ada pada keikhlasannya, dan kekayaan seorang wanita ada pada kemampuannya memahami Ayat-ayat-Nya.

Dan terakhir pesan dari seorang Ayah, "Jangan pulang,,, Jangan pulang kecuali ke surga."

Wassalamualaikum wr. wb
Bandung, 26 Mei 2017

Adverstisement

Adversitement