Showing posts with label Cerpen Persahabatan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Persahabatan. Show all posts

Harmoni Mimpi Anak Panti



Terkadang aku ingin pergi, lari dari kenyataan ini. Namun jika itu aku lakukan, aku hanyalah menjadi seorang pecundang. Dan bukan itu yang diharapkan keluargaku selama ini. Mereka yang terus berjuang untukku, berharap agar aku bisa menjadi orang yang berprestasi dan berguna untuk semua orang yang kutemui.
Kini aku hanya bisa berbagi pada daun padi yang selalu menyapaku setiap pagi. Bercerita pada angin yang selalu menyejukkan hatiku. Dan berkeluh kesah pada langit yang tak pernah bosan mendengar curahan hatiku. Sawah ini, jalan kecil setapak yang tiap hari kulalui, menjadi saksi perjuanganku tuk menggapai cita-cita yang selama ini kuukir di langit tertinggi.
***
"Nay, selamat ya. Gue denger minggu depan Elo mewakili sekolah kita ke perlombaan tingkat Provinsi ya? Keren Nay...!!!" Puji Riska saat kita berjumpa di pintu gerbang sekolah.
Aku hanya bisa tersenyum, Di sekolah hampir semua orang memujiku, menghargaiku, dan mereka begitu baik denganku. Ya Allah, inikah alur kehidupan yang telah Kau takdirkan untukku? Dua sisi kehidupan yang berbeda yang harus kulalui setiap harinya.
"Nayla...!!!" Alisa berlari ke arahku. "Ceileh, pagi-pagi udah cemberut." Gadis cantik itu menarik kedua pipiku sehingga membentuk sebuah senyuman. "Smile..."
Alisa memang selalu bisa membuatku tertawa, aku bersyukur mempunyai seorang sahabat sebaik dia. Sahabat yang selalu memahami keadaanku. Seorang sahabat yang selalu membuatku tersenyum saatku terluka.
"Lis, gue boleh pinjem hp ga? Gue kangen sama Mamah nih."
Alisa mengangguk, ia memberikan handphonenya. "Sejam lima ribu ya." Ia tertawa menggodaku. "Eh ngga jadi, tapi Lo harus ngerjain PR Fisika gue." Gadis itu melangkah pergi.
Aku bergegas masuk kelas, suasana masih sepi sehingga aku bisa leluasa untuk menelfon orangtuaku. Hanya mereka obat penawar kegalauan hatiku, nasehat mereka yang mampu membuat semangatku kembali.
"Asalammualaikum Mah, apa kabar?"
"Waalaikumsalam Nak, Alhamdulillah kabar Mamah baik. Maaf ya, ngga bisa nelfon lama. Masih ada pesanan yang harus Mama selesaikan. Jangan pernah menyerah Nak, kepahitan hidup akan membuatmu semakin kuat. Jangan dengarkan apa kata teman-temanmu, terus melangkah dan tunjukan bahwa kamu bisa berprestasi dan membawa nama baik panti. Jangan pernah mengeluh, karena itu membuatmu semakin menderita."
Sebulir air mata mengalir dari pelupuk mataku, saat Mama mengakhiri nasehatnya. Mama benar, mengeluh membuatku semakin menderita. Masalah demi masalah yang terjadi di panti seharusnya membuatku semakin kuat. Aku harus bisa menghadapi semuanya.
"Nay, Elo tenang aja. Badai pasti akan berlalu kok, ini semua Ujian buat Lo Nay. Dan gue yakin Elo pasti kuat." Alisa memelukku.
"Makasih Al..."
***
"Jadi orang biasa aja dong, jangan seperti buah kedondong. Luarnya baik, tapi dalemnya busuk!" Ujar Mels saat semua tengah berkumpul di asrama.
Ya, kata-kata itu yang setiap hari kudengar. Perumpamaan-perumpamaan yang sengaja ditunjukkan untukku. Dan sampai sekarangpun aku tak mengerti, apa yang membuat mereka menjauhiku seakan aku ini virus mematikan yang harus dijauhi.
Mereka tampak baik hanya ketika ada Ibu, bahkan mereka tak segan-segan menyalahkanku saat Ibu marah. Sebagai seorang ketua, aku dijadikan sebagai umpan di setiap ada permasalahan. Dua tahun diperlakukan seperti itu membuatku kuat. Aku yakin pada suatu hari nanti, aku akan mendapatkan sebuah kebahagiaan tersendiri.
"Bangga banget sih, padahal cuman mau mengikuti perlombaan tingkat Provinsi!!! Paling juga kalah, bikin malu panti aja." Suara Mela kembali terdengar. Namun tak ada seorangpun yang menyahut, mereka tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Kak, sukses yaa buat lombanya besok!" Ujar Melisa.
"Melisa...!!!" Teriak Mela marah. "Elo..." cewek itu mulai mengancam.
"Kenapa Kak? Melisa udah muak dengan semua aturan Kak Mela! Lebih baik berteman dengan Kak Nayla yang udah jelas memiliki segudang prestasi, dari pada dengan kakak yang selalu mengajarkan kedengkian." Ujar Melisa. "Silahkan kak Mela mau ngancem aku, aku ngga peduli. Bahkan kalau sampai harus keluar, gpp aku akan menjelaskan kepada Ibu apa yang terjadi di asrama ini." Ujar Melisa emosi.
"Ok!!! Itu yang Elo mau! Tapi temen gue masih banyak Melisa! Dan Elo cuma berdua sama Nayla!"
"Aku ngga yakin deh Kak," Melisa tersenyum sinis. "Karena kita, terutama kelas X lebih memilih kak Nayla."
"Kalian semua pengkhianat!!! Munafik!!! Gue benci sama kalian!" Mela membanting pintu asrama dan bergegas pergi.
"Maafin kita ya, Kak." Ujar Melisa mewakili teman-temannya. "Selama ini kita udah jahat sama Kak Nayla. Jujur Kak, kami iri sama Kakak. Kak Nay bisa dekat dengan Ibu, kak Nay memiliki prestasi yang membanggakan, selain itu kak Nay juga cantik."
Aku hanya bisa tersenyum. Dan ternyata mereka menjauhiku karna iri dengan apa yang kumiliki. Dan aku baru menyadarinya. Untuk yang pertama kalinya aku merasa memiliki keluarga di asrama ini.
"Kita juga minta maaf Nay." Ujar Lisa diikuti anggukan Desi, Maya, dan Amel. Mereka teman seangkatanku. Mereka juga sering menyindirku, tapi ngga separah Mela. "Kedengkian membuat kita begitu jahat."
Air mata mengalir dari pelupuk mataku, terima kasih ya Allah. Engkau telah memberiku kesempatan untuk dekat dengan mereka di penghujung waktuku berada di sini. Mereka yang sempat menjadi motivator agar aku tetap kuat, mereka yang sempat membenci kelebihan yang kumiliki. Namun sesungguhnya hati mereka lembut, selembut awan di angkasa.
***
Akhirnya Olimpiade Sains Nasional Fisika tingkat Provinsi telah usai, dan aku berhasil menyabet juara pertama. Satu demi satu mimpi-mimpi kecilku mulai terwujud. Allah begitu adil mengatur hidupku. Aku dilatih untuk tetap bersabar menghadapi kepahitan yang selama tiga tahun ini menyiksaku. Namun aku juga dipertemukan dengan orang-orang hebat yang membuatku terus termotivasi untuk tetap berprestasi. Mereka yang setia menuntunku menggapai mimpi-mimpi kecilku.
"Selamat ya, Nak." Pak Handoko memakaikan medali emas yang kuperoleh. "Perjuanganmu masih panjang! Terus belajar dan pantang menyerah!"
"Saat kau menangis, hatimu akan menjadi lemah. Jadi, tetaplah tersenyum, karena senyuman itu membuatmu kuat." Ujar Bu Naya.
"Ciie, akhirnya bisa juga jadi juara!" Alisa memelukku. "Nayla yang cengeng, akhirnya bisa bikin gue bangga." Bisik Alisa. "Baik-baik disana ya, ngga boleh pasang status galau! Ingat itu...!" Sebulir air mata mengalir dari pelupuk mata Alisa. Ini untuk yang pertama kalinya aku melihat gadis itu menangis.
"Makasih ya Al, Loe selalu bikin hidup gue lebih berarti. Elo tenang aja, jarak takkan pernah bisa memisahkan persahabatan kita." Kami kembali berpelukan.
***
Saat kita memiliki kesempatan, maka gunakanlah waktu sebaik mungkin. Karena kita tak pernah tau kapan malaikat maut menjemput kita. Memaafkan orang lain yang pernah membuat kita terluka memang bukan hal yang mudah, namun ketika kita bisa melakukannya, kita akan menemukan sebuah keajaiban yang tak terduga.
Hari-hariku terasa bermakna kini, akhirnya aku bisa merasakan indahnya kebersamaan anak panti. Bahagia saat mereka menjadikanku sebagai seorang sahabat, dan seorang kakak bagi adik angkatanku. Senang, saat kita bisa berbagi cerita dan bercanda bersama.
Dan ketika kebersamaan itu telah terbangun, aku harus pergi meninggalkan semuanya. Ya begitulah kehidupan. Aku yakin setelah ini, kerikil tajam yang lain sudah siap untuk kupijak. Namun aku juga yakin, akan menemukan kebahagian lain yang akan menyapa di setiap langkahku.
"Kamu beneran mau pergi Nay?" Tanya Lisa tak percaya. "Apakah kepergianmu karena sikap kita yang begitu jahat kepadamu?"
"Ngga Lis, semua ini ngga ada sangkut pautnya dengan semua itu. Aku masih memiliki mimpi yang ingin aku wujudkan. Maafin aku ya..."
"Tapi kak, kenapa secepat itu? Baru seminggu kita baikan." Ujar Melisa sedih.
"Sekali lagi maaf ya Mel, aku mendapatkan beasiswa di Jerman. Dan aku memang harus pergi sekarang. Lain waktu, jika masih ada kesempatan Insha Allah kita akan kembali bertemu."
"Selamat ya, nak. Ibu bangga sama kamu, terima kasih telah membawa nama baik Panti kita. Semoga Allah memudahkan semua langkahmu."
Aku memeluk Ibu, beliaulah yang mengajariku begitu banyak hal di panti ini. "Terima kasih Bu, dan maafkan semua kesalahan Nayla selama berada di panti ini." Kuberikan sebuah bingkisan kenang-kenangan.
Mimpi-mimpi yang selama ini kuukir, seolah membentuk harmoni yang begitu indah. Bertahan saat kita menghadapi kepahitan, membuat kita yakin bahwa kebahagian tengah menanti, walau kita tak mengetahui batas waktunya. Dan pada akhirnya kita bisa mensyukuri, betapa nikmatnya kebahagiaan setelah lika-liku kehidupan bisa kita lalui.
*****

Demi Kamu


Malam semakin larut, namun Viola belum bisa memejamkan mata. Kejadian tadi siang di sekolah membuatnya galau. Pasalnya Ravael, kekasihnya lebih memilih membela Anisa ketimbang dirinya. Kejadian itu bermula saat ia melihat Anisa meminjamkan buku catatannya kepada Ravael dan mereka sempat bercanda.
"Jangan-jangan mereka pacaran di belakang gue?!!" terka Viola curiga. "Gue nyesel Nis bersahabat sama Lo!!! Ternyata Lo munafik!!!" Teriak Viola kesal. "Gue ngga bakalan diam, lihat aja ntar apa yang akan terjadi!"
***
Best Friends Forever
Pagi itu Anisa tidak masuk sekolah, kata Bu Mira Anisa terserempet mobil saat berangkat menuju ke sekolah. Dan saat ini dia dirawat di rumah sakit karena tangan kirinya retak.
"Kasihan Anisa." Ujar Karin sedih. "Semoga yang mencelakainya mendapat ganjaran yang setimpal!"
"Eiihhh Karin, Anisa kan pernah bilang, keburukan jangan dibalas dengan keburukan!" Ira mengingatkan. "Siapa tau orang yang menyerempet Anisa tidak sengaja. Positiv thinking aja deh!"
"Temen kalian itu munafik tau ngga! Ya mungkin kecelakaan itu karma buat dia yang udah berani merebut Ravael dari gue."
Karin tidak terima saat Viola memfitnah Anisa. Bisa-bisanya ia menuduh sahabat terdekatnya. "Elo jahat banget sih Vi, nuduh Anisa kaya gitu?!! Asal Loe tau ya selama ini Anisa udah berkorban banyak buat Loe!! Dari awal Ravael emang udah jatuh cinta sama Anisa. Sebenarnya Anisa juga memiliki rasa yang sama, tapi dia tau Elo suka sama dia. Makannya Anisa ngalah, dan meminta Ravael buat nembak Lo!!!" Ungkap Karin emosi.
"Karin udah ih..." Ira mencoba menenangkan sahabatnya. "Vi udah ya, kamu jangan mancing emosi Karin lagi. Dan gue mohon jangan memfitnah orang sembarangan. Inget, Anisa itu sahabat terdekat kamu! Dan dia juga sudah banyak berkorban demi kamu."
Viola terdiam di bangkunya. Cerita Karin tentang kebenaran Anisa dan Ravael membuatnya syok. Jika memang benar itu yang terjadi, ia adalah orang yang paling jahat di dunia karena telah mencelakakan sahabatnya sendiri yang sudah jelas-jelas mengorbankan perasaan untuk kebahagiaannya.
Viola tampak ketakutan, keringat dingin mengucur dengan deras. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat pasi. Tadi pagi ia sengaja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan ekstra dan menyerempet Anisa yang hendak menyebrang. Gadis itu terlempar ke jalanan dan tangan kirinya terbentur trotoar.
"Tidak....!!!" Teriak Viola frustasi dan gadis itu berlari ke luar kelas.
***
Viola berlari saat menyusuri koridor rumah sakit, perasaannya campur aduk tak menentu. Rasa bersalah terus menghantui pikirannya, membuatnya semakin panik. Ia mencari pasien yang bernama Anisa, namun kata suster tidak ada nama pasien yang bernama Anisa di rumah sakit ini. Tangisnya pecah saat itu.
"Viola...?" Tanya Ravael heran saat melihat kekasihnya menangis di koridor rumah sakit.
"Ravael...? Dimana Anisa...?" Tanya Viola terbata-bata. "Dan kenapa Loe ada di sini?"
"Gue yang membawa Anisa ke sini. Dan dia sedang beristirahat sekarang. Lo sendiri ngapain menangis di sini.?"
Viola menghapus air matanya, "Gue mau ketemu Anisa! Gue mohon anterin gue..."
"Baiklah..."
***
Seorang gadis terbaring lemah di ranjangnya dengan tangan kiri yang di gift. Viola mendekati sahabatnya, melihat keadaan Anisa, membuatnya semakin merasa bersalah.
"Viola..." bisik Anisa lirih. Ia mencoba bangun, namun Viola mencegahnya.
"Jangan, Lo masih sakit." Viola menggenggam tangan kanan Anisa. "Maafin gue Nis."
Anisa mengangguk, gadis cantik itu tersenyum. Dari awal Anisa sudah mengetahui jika pelaku penyebab kecelakaan itu adalah sahabatnya sendiri. Tapi ia memilih untuk diam.
"Gue udah...."
"Ssssttttt...." Anisa meletakkan jari telunjuknya di bibir mungil Viola. "Jangan sampai ada yang tau..." bisik Anisa.
"Tapi Nis..."
"Semuanya akan baik-baik aja kok. Semua ini gue lakukan demi kamu, karena kamu adalah sahabat terbaik aku..." Anisa menggenggam tangan Viola. "Anggap aja kejadian ini ngga pernah ada."
*****

Ketika Kita Bersua Dalam Kereta


Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel sudah mulai terdengar, pertanda stasiun sudah tidak jauh lagi.  Zahra melangkah perlahan-lahan, sesekali ia menyapa orang-orang yang berlalu lalang ataupun yang tengah bercengkerama di depan rumahnya. Jam menunjukkan pukul 08.15, pagi itu. Sang mentari perlahan-lahan mulai naik. Semburat sinarnya mengenai sisa-sisa embun yang masih menempel di dedaunan, indah sekali, tampak seperti permata.
Suasana stasiun Kutoarjo tampak ramai, maklum seminggu yang lalu liburan sedikit panjang. Liburan anak sekolah dan juga libur menyambut Bulan Ramadhan. Zahra duduk di ruang tunggu sembari memperhatikan sekelilingnya. Beberapa orang menawarkan untuk mengangkut barang bawaan mereka, ada beberapa calon penumpang yang menyetuji dan ada pula yang menolak.
"Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, tak peduli meski mengangkut beban berat seperti itu bisa merusak tubuh jika dilakukan terus-menerus. Tapi demi keluarga mereka tetap melakukannya. Seharusnya aku bersyukur, Allah memberikan pekerjaan yang layak untukku. Duduk di depan komputer, tanpa harus mengangkat beban seberat itu dengan bayaran yang tak lebih dari Rp 10.000." Batin Zahra sedih. "Kuatkan mereka yaa Allah, mudahkanlah rezeki mereka di bulan yang penuh berkah ini..."
Zahra menyeka air matanya yang hampir saja terjatuh, dulu ia sempat merasakan hidup dalam kekurangan. Ia bisa merasakan bagaimana perjuangan orang tuanya saat itu, dan ia bersyukur kini ia dan keluarganya bisa hidup lebih layak.
Pengumuman bahwa kereta Kutojaya Selatan jurusan Kutoarjo-Bandung membuyarkan lamunannya. Gadis manis berkerudung merah itu menyiapkan tiket dan bergegas memasuki loket pengecekan pertama.
Tepat pada pukul 09.20 kereta itu meluncur meninggalkan stasiun kutoarjo. Zahra terlihat begitu menikmati perjalanannya kali ini, untuk yang pertama kalinya ia melakukan perjalanan menggunakan kereta saat matahari masih memancarkan sinarnya.
Sebuah senyuman terukir indah di wajahnya saat kereta melewati sawah yang membentang luas, di sana juga terlihat para petani yang tengah bekerja. Bentangan hijau itu tampak seperti permadani hijau. Indah sekali.
"Mau kemana Teh?" Tanya seorang gadis cantik yang duduk berhadapan dengannya. Gadis berambut panjang itu sangat ramah, dan terlihat begitu cantik saat tersenyum. Kalau dilihat dia seumuran dengan Zahra.
"Mau ke Bandung Teh," jawab Zahra tak kalah ramah. "Teteh mau kemana?"
"Mau ke Bandung juga kok, santri Daarut Tauhiid yaa? Perkenalkan saya Dewi."
Zahra mengangguk, ia menjabat tangan Dewi. "Saya Zahra... Teteh kuliah di Bandung?"
Dewi mengangguk, "Sepertinya kita seumuran, panggil nama aja ya biar lebih akrab." Ia tersenyum. "Aku kuliah di UPI jurusan Psikologi semester 4. Kalau kamu?"
"Wahhh psikologi..." ujar Zahra kagum. Dulu ia begitu ingin kuliah di psikologi kedokteran, tapi takdir berkata lain. "Kalau aku udah kerja di Daarut Tauhiid. Asli Bandung?"
"Nggak, sama lah kaya kamu pendatang di Bandung. Wahh seneng yaa udah bisa kerja, udah bisa membiayai hidup sendiri. Di lingkungan pesantren lagi..."
"Alhamdulillah..." jawab Zahra diiringi dengan senyumnya yang manis.
*****
Zahra kembali asyik menikmati pemandangan, sesekali ia mengabadikan lukisan multi dimensi karya Sang Pencipta yang begitu indah.
"Kau tau, indonesiaku begitu indah. Lihatlah pematang sawah itu, lihatlah burung-burung kecil yang berterbangan saat petani menggoyangkan boneka swah, dengarlah gemricik air sungai yang merdu itu, dan tataplah birunya langit, juga pandanglah bukit-bukit hijau yang berdiri dengan kokoh. Temukan juga orang-orangnya yang ramah, yang tersenyum kepadamu dan menyapamu dengan ramah, meski kalian belum saling mengenal." Tulis Zahra di account Facebooknya.
"Zahra, kamu suka nulis yaa?" Tanya Dewi lagi.
"Iyaa, kok kamu tau?"
"Dari tadi aku perhatikan kamu begitu larut dalam menikmati pemandangan. Pasti banyak inspirasi yang kau dapatkan. Kakakku juga seorang penulis, dan ia juga melakukan hal yang sama sepertimu saat kami melakukan perjalanan."
"Oh yaaa...??? Iya Wi, perjalanan membuat imajinasiku melanglang buana. Banyak ide yang bisa kita temukan dari berbagai sudut."
"Wahhhh keren dong... dalam ilmu psikologi menulis adalah salah satu terapi untuk mengobati stress, kalau menurutmu apakah itu benar?"
"Bagiku semua itu benar Wi, soalnya nih ya kalau aku lagi BT, lagi banyak masalah, aku nulis aja, temanya juga seputar permasalahan yang aku hadapi, ketika menceritakan masalah itu, aku juga harus tau jalan keluarnya. Secara tidak langsung aku tau apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan masalahku."
"Oke aku paham, terus apa esensi yang kamu dapatkan dalam sebuah perjalanan?"
"Kalau kata Adeda mah ya, perjalanan itu melatih rasa empati. Misal nih ya, kita melihat seorang polisi yang tengah mengatur lalu lintas. Kalau kita biasa saja kita tidak akan menemukan sebuah pelajaran, tapi ketika kita berniat untuk mencari hikmah, akan ada secuil kisah yang akan kita dapatkan. Pernah ngga terfikir di benakmu, begitu beratnya tugas seorang polisi, ia harus mengorbankan waktunya bersama keluarga, bekerja dibawah terik matahari, dll."
"Tapi itukan tugas mereka, bukankah setiap pekerjaan memiliki konsekuensi?"
"Benar katamu, pekerjaan apapun memiliki resiko. Tapi disitulah kita belajar mengasah rasa empati kita. Ketika kita sudah bisa memiliki empati, kita tidak mudah menghujat ketika mereka melakukan suatu kesalahan. Empati membuat kita bisa menghargai dan menghormati orang lain."
Dewi terdiam, mencoba memahami penjelasan Zahra. Seorang penulis memang selalu bisa mengambil pelajaran dari sisi lain.
"Maaf aku terlalu banyak bercerita." Zahra tersenyum.
"Gpp Zahra, aku seneng bisa ngobrol sama kamu. Seneng yaa kalau bisa mengambil hikmah di setiap kejadian. Seperti Aa Gym atuh yaa..."
"Aku juga belajar dari Aa Gym, beliau selalu bisa mengambil hikmah di setiap kejadian sekecil apapun. Dan menjadi inspirasi untuk kami semua..."
"Baiklah, aku akan belajar mencari hikmah dibalik sebuah kejadian. Sepertinya aku mengantuk Zahra, silahkan kembali mentafakuri ciptaan Sang Maha Indah..."
Zahra tersenyum, dan ia kembali larut dalam indahnya pemandangan alam. Selain sawah, zahra juga melihat sungai di daerah Purwokerto yang lebar dan panjang. Ia tertidur ketika merasa lelah.
"Terima kasih ya Allah, Kau memberikan sebuah kesempatan kepadaku untuk menikmati keajaiban ciptaanMu, dan juga Kau pertemukan aku dengan orang-orang yang menjadi jalan kuperoleh inspirasi." Bisik Zahra sebelum ia terlelap dalam mimpi.

Janji Persahabatan

Dulu pernah terjalin kisah persahabatan yang
begitu indah. Berawal dari kesamaan sebagai seorang anak panti asuhan, dan kebersamaan dalam satu organisasi.  Dari canda tawa, berlanjut pada rasa saling percaya. Dan pada akhirnya menjadi sebuah ikatan yang penuh makna. Sejak itulah hadir sejuta cerita. Tentangku, tentangmu, tentangnya, dan tentang kita.

Saling memahami, menghibur, dan menyemangati. Hingga pada akhirnya, saat kita tak lagi bersama. Janji persahabatan itu tetap ada. "Kita kan tetap bersahabat, hingga maut yang memisahkan kita. Jarak dan waktu bukanlah penghalang, karena persahabatan kita akan tetap ada."

*****

Siang itu langit tampak mendung, membuat suasana sedikit gelap. Angin berhembus sedikit kencang, pertanda hujan akan segera datang. Di sudut jembatan terlihat segerombolan siswa tengah duduk bersama.
Sesekali mereka tertawa, mereka tampak begitu ceria.

"Semangat dong Mba, gak seruh ahh!!! Kalah dalam perlombaan tuh udah biasa..." ujar Yudha mencoba menghiburku. "Yang penting kan kita udah berusaha semaksimal mungkin. Ayolah senyum..."

"Oke, aku bakalan senyum tapi syaratnya kalian nyanyi dulu."

"Ceileh, banyak permintaan Kamu mah." Komentar Rohmad. "Tapi gpp lah, mumpung kita bawa gitar. Mau lagu apa nih?"

"Semua Tentang Kita aja, kan itu lagunya tentang kita banget!" Usul Yudha antusias. Sang Vokalis memang selalu tepat dalam memilih lagu. Yudha membawakan lagu itu dengan penuh penghayatan, suaranya yang merdu membuatku menangis karena terharu.

"Mba Afi cengeng!!!" Seru Rahmad.

"Aku bukannya cengeng Mbono!!! Aku terharu tau." Kuhapus air mata yang sejak tadi mengalir. "Aku seneng kenal sama kalian, makasih ya kalian udah bikin hidupku lebih bermakna."

"Sama-sama Kak, kita juga seneng kok kenal sama Mba Afi. Kita bisa sharing, berbagi cerita dan saling memotivasi." Ujar Yudha bijak. "Kalau aja kita ngga di panti, kita ngga akan pernah saling mengenal seperti saat ini."

"Yapz, bener banget tuh kata Yudha. Jadi walaupun nanti kita udah ngga di panti, tapi aku harap persahabatan ini tetap ada. Karena jarak dan waktu bukan menjadi penghalang persahabatan kita." Rika ikut berkomentar.

"Janji ya ngga akan saling melupakan?!!" Yudha mengacungkan kelingkingnya. "Hanya maut yang bisa memisahkan."

"Janji..."

"Persahabatan itu bagaikan bintang, ia takkan pernah lelah menghiasi langit yang gelap. Ia akan tetap berusaha bersinar saat kabut menyelimuti langit. Begitupun kita, kita tetap saling memberikan semangat meski saat itu kita kecewa bahkan terluka. Karna kita dipertemukan untuk saling menguatkan." Yudha kembali mengeluarkan kata-kata puitisnya.

"Oiya by the way yang mau ujian semangat ya!!! Jangan galau mulu...!!!" Goda Rohmad.

"Yeee siapa juga yang galau, aku ga galau keles...!!!" Kujitak kepala Rohmad. Kadang - kadang Si kembar memang menyebalkan.

*****

April 2014

Tak terasa setahun telah berlalu, dan semenjak aku keluar dari panti aku tak pernah bertemu lagi dengan mereka. Walau kita masih berhubungan via medsos, namun tetap saja terasa ada yang kurang. Kini jarak benar-benar terasa memisahkan. Bandung - Karanganyar. Aku sempat pulang, tapi tetap saja tidak bertemu dengan keempat sahabatku itu.

Aku benar-benar merindukan mereka, kebersamaan dengan mereka, semuanya tentang mereka. Kini mereka sudah membentuk sebuah group band, namanya AM Band. Entah apa makna simbolik di balik nama itu. Yang pasti mereka membuatku bangga. Dan kini, aku sudah menganggap mereka seperti adikku sendiri. Merekalah keluarga baruku.

"Hay Kak, apa kabar?" Tanya Yudha via facebook.

Kebetulan aku sedang istirahat, sehingga bisa leluasa membuka facebook. "Kabar baik banget, kamu gimana dek?" Balasku.

"Alhamdulillah Kak, aku juga baik. Oiyaa minta doanya ya, kan bentar lagi aku UN."

"Siap deh, doaku menyertaimu dan kalian semua. Rencana mau kuliah dimana kamu?"

"Pengennya sih di UNS tapi ambil yang bidik misi, terus rencananya aku juga mau nyari kerja sampingan. Jadi kalau misal keterima bidikmisi, hasil kerja sampingan bisa buat bantu orang tua. Doain yaa Kak."

"Iya dek, kita sama-sama mendoakan ya. Pokoknya nanti kita sukses bareng-bareng. Belajar yang rajin ya Dek, jangan lupa di perkuat ibadahnya."

"Siap Kak, pasti!!! Oiya Kak, ntar kalau kita nerima hasil kelulusan, Kak Afii pulang dong. Kita makan-makan sekalian reuninan di rumah kakak tapinya."

"Diusahakan ya,,, Tapi aku ngga janji... Semangat dan sukses yaa buat kamu dan yang lain..." balasku sebelum ku logout Facebookku.

Aku kagum dengan Yudha, karena semangat berprestasinya begitu tinggi. Dan ia selalu memiliki cita-cita yang mulia. Ya Allah, permudah setiap langkahnya.

*****

Mei 2014

Kenapa perasaanku mendadak jadi kacau gini ya? Pikiranku mulai ngga fokus, iseng aku membuka Facebook. Namun sebuah status membuatku syok, Tubuhku mendadak lemas, berharap semua itu bukan kenyataan. Aku mencoba menghubungi teman-temanku yang masih berada di panti. Namun usahaku gagal, tak kutemui jawaban yang pasti.

Kubuka Wallnya, semua berisi ucapan bela sungkawa. Ternyata semua ini nyata, adikku benar-benar telah
tiada. Aku hanya bisa mematung di sudut kantor, air mataku terus mengalir. Aku masih belum bisa menerima realita kalau Yudha telah pergi untuk selama-lamanya. Padahal semalam kita masih sempat bercanda.

Satu demi satu pesan masuk ke handphoneku, mengabarkan jika Yudha meninggal karena kecelakaan pagi tadi. Hatiku sakit, bahkan aku tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya, tak bisa menghantarkan ke tempat terakhirnya. Jarak yang begitu jauh terasa menyiksaku hari ini. Maafkan aku dek...
Beberapa anak panti mencoba menghubungiku, namun kubiarkan. Aku masih belum sanggup untuk berbicara, aku masih berusaha menguatkan hatiku untuk menerima kenyataan yang ada. Bahwa Yudha telah tiada.

"Hallo..."

"Yang sabar ya Kak, kita semua juga merasa kehilangan kok. Ikhlaskan Yudha ya,,," ujar Asyim mencoba menguatkanku. Aku tau dia juga kehilangan. Apalagi setiap hari mereka bertemu. Yang pasti kecelakaan ini menimbulkan duka yang mendalam.

"Yaaahhhh, aku gpp kok dek." Jawabku lemah.

"Kita ngerti perasaanmu, Kak. Kita pun merasakan hal yang sama."

"Iya, makasih ya dek udah ngasih aku kabar. "

Satu demi satu kenangan saat bersamanya kembali bermunculan di benakku, kata-kata bijaknya, keceriaanya, pesan-pesan darinya, dan janji persahabatan yang pernah kita ikrarkan, membuat tangisku semakin menjadi.

Aku masih ingat saat dia mengatakan, hanya maut yang akan memisahkan kita. Memang semua itu nyata terjadi di kehidupanku. Maut telah memisahkan persahabatanku dengannya, seorang adik yang begitu istimewa. Seorang anak panti yang berjuang keras untuk mencetak sebuah prestasi. Dan dia berhasil melakukannya. Dan dia juga telah berhasil mencuri hati semua orang dengan kebaikannya. Kini semua hanya bisa mengenang kebersamaan dengannya. Semoga kamu tenang di sana dek. Aku hanya bisa mengirimkan
sebuah doa untukmu.😥

*****

Adverstisement

Adversitement