Dulu pernah terjalin kisah persahabatan yang
begitu indah. Berawal
dari kesamaan sebagai seorang anak panti asuhan, dan kebersamaan dalam
satu organisasi. Dari canda tawa, berlanjut pada rasa saling
percaya. Dan pada akhirnya menjadi sebuah ikatan yang penuh makna. Sejak
itulah hadir sejuta cerita. Tentangku, tentangmu, tentangnya, dan
tentang kita.
Saling memahami, menghibur, dan menyemangati.
Hingga pada akhirnya, saat kita tak lagi bersama. Janji persahabatan itu
tetap ada. "Kita kan tetap bersahabat, hingga maut yang memisahkan
kita. Jarak dan waktu bukanlah penghalang, karena persahabatan kita akan
tetap ada."
*****
Siang itu langit tampak mendung,
membuat suasana sedikit gelap. Angin berhembus sedikit kencang, pertanda
hujan akan segera datang. Di sudut jembatan terlihat segerombolan siswa
tengah duduk bersama.
Sesekali mereka tertawa, mereka tampak begitu
ceria.
"Semangat dong Mba, gak seruh ahh!!! Kalah dalam
perlombaan tuh udah biasa..." ujar Yudha mencoba menghiburku. "Yang
penting kan kita udah berusaha semaksimal mungkin. Ayolah senyum..."
"Oke, aku bakalan senyum tapi syaratnya kalian nyanyi dulu."
"Ceileh, banyak permintaan Kamu mah." Komentar Rohmad. "Tapi gpp lah, mumpung kita bawa gitar. Mau lagu apa nih?"
"Semua Tentang Kita aja, kan itu lagunya tentang kita banget!" Usul
Yudha antusias. Sang Vokalis memang selalu tepat dalam memilih lagu.
Yudha membawakan lagu itu dengan penuh penghayatan, suaranya yang merdu
membuatku menangis karena terharu.
"Mba Afi cengeng!!!" Seru Rahmad.
"Aku bukannya cengeng Mbono!!! Aku terharu tau." Kuhapus air mata yang
sejak tadi mengalir. "Aku seneng kenal sama kalian, makasih ya kalian
udah bikin hidupku lebih bermakna."
"Sama-sama Kak, kita juga
seneng kok kenal sama Mba Afi. Kita bisa sharing, berbagi cerita dan
saling memotivasi." Ujar Yudha bijak. "Kalau aja kita ngga di panti,
kita ngga akan pernah saling mengenal seperti saat ini."
"Yapz,
bener banget tuh kata Yudha. Jadi walaupun nanti kita udah ngga di
panti, tapi aku harap persahabatan ini tetap ada. Karena jarak dan waktu
bukan menjadi penghalang persahabatan kita." Rika ikut berkomentar.
"Janji ya ngga akan saling melupakan?!!" Yudha mengacungkan kelingkingnya. "Hanya maut yang bisa memisahkan."
"Janji..."
"Persahabatan itu bagaikan bintang, ia takkan pernah lelah menghiasi
langit yang gelap. Ia akan tetap berusaha bersinar saat kabut
menyelimuti langit. Begitupun kita, kita tetap saling memberikan
semangat meski saat itu kita kecewa bahkan terluka. Karna kita
dipertemukan untuk saling menguatkan." Yudha kembali mengeluarkan
kata-kata puitisnya.
"Oiya by the way yang mau ujian semangat ya!!! Jangan galau mulu...!!!" Goda Rohmad.
"Yeee siapa juga yang galau, aku ga galau keles...!!!" Kujitak kepala Rohmad. Kadang - kadang Si kembar memang menyebalkan.
*****
April 2014
Tak terasa setahun telah berlalu, dan semenjak aku keluar dari panti
aku tak pernah bertemu lagi dengan mereka. Walau kita masih berhubungan
via medsos, namun tetap saja terasa ada yang kurang. Kini jarak
benar-benar terasa memisahkan. Bandung - Karanganyar. Aku sempat pulang,
tapi tetap saja tidak bertemu dengan keempat sahabatku itu.
Aku
benar-benar merindukan mereka, kebersamaan dengan mereka, semuanya
tentang mereka. Kini mereka sudah membentuk sebuah group band, namanya
AM Band. Entah apa makna simbolik di balik nama itu. Yang pasti mereka
membuatku bangga. Dan kini, aku sudah menganggap mereka seperti adikku
sendiri. Merekalah keluarga baruku.
"Hay Kak, apa kabar?" Tanya Yudha via facebook.
Kebetulan aku sedang istirahat, sehingga bisa leluasa membuka facebook. "Kabar baik banget, kamu gimana dek?" Balasku.
"Alhamdulillah Kak, aku juga baik. Oiyaa minta doanya ya, kan bentar lagi aku UN."
"Siap deh, doaku menyertaimu dan kalian semua. Rencana mau kuliah dimana kamu?"
"Pengennya sih di UNS tapi ambil yang bidik misi, terus rencananya aku
juga mau nyari kerja sampingan. Jadi kalau misal keterima bidikmisi,
hasil kerja sampingan bisa buat bantu orang tua. Doain yaa Kak."
"Iya dek, kita sama-sama mendoakan ya. Pokoknya nanti kita sukses
bareng-bareng. Belajar yang rajin ya Dek, jangan lupa di perkuat
ibadahnya."
"Siap Kak, pasti!!! Oiya Kak, ntar kalau kita nerima
hasil kelulusan, Kak Afii pulang dong. Kita makan-makan sekalian
reuninan di rumah kakak tapinya."
"Diusahakan ya,,, Tapi aku ngga
janji... Semangat dan sukses yaa buat kamu dan yang lain..." balasku
sebelum ku logout Facebookku.
Aku kagum dengan Yudha, karena
semangat berprestasinya begitu tinggi. Dan ia selalu memiliki cita-cita
yang mulia. Ya Allah, permudah setiap langkahnya.
*****
Mei 2014
Kenapa perasaanku mendadak jadi kacau gini ya? Pikiranku mulai ngga
fokus, iseng aku membuka Facebook. Namun sebuah status membuatku syok,
Tubuhku mendadak lemas, berharap semua itu bukan kenyataan. Aku mencoba
menghubungi teman-temanku yang masih berada di panti. Namun usahaku
gagal, tak kutemui jawaban yang pasti.
Kubuka Wallnya, semua
berisi ucapan bela sungkawa. Ternyata semua ini nyata, adikku
benar-benar telah
tiada. Aku hanya bisa mematung di sudut kantor, air
mataku terus mengalir. Aku masih belum bisa menerima realita kalau Yudha
telah pergi untuk selama-lamanya. Padahal semalam kita masih sempat
bercanda.
Satu demi satu pesan masuk ke handphoneku, mengabarkan
jika Yudha meninggal karena kecelakaan pagi tadi. Hatiku sakit, bahkan
aku tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya, tak bisa
menghantarkan ke tempat terakhirnya. Jarak yang begitu jauh terasa
menyiksaku hari ini. Maafkan aku dek...
Beberapa anak panti
mencoba menghubungiku, namun kubiarkan. Aku masih belum sanggup untuk
berbicara, aku masih berusaha menguatkan hatiku untuk menerima kenyataan
yang ada. Bahwa Yudha telah tiada.
"Hallo..."
"Yang sabar
ya Kak, kita semua juga merasa kehilangan kok. Ikhlaskan Yudha ya,,,"
ujar Asyim mencoba menguatkanku. Aku tau dia juga kehilangan. Apalagi
setiap hari mereka bertemu. Yang pasti kecelakaan ini menimbulkan duka
yang mendalam.
"Yaaahhhh, aku gpp kok dek." Jawabku lemah.
"Kita ngerti perasaanmu, Kak. Kita pun merasakan hal yang sama."
"Iya, makasih ya dek udah ngasih aku kabar. "
Satu demi satu kenangan saat bersamanya kembali bermunculan di benakku,
kata-kata bijaknya, keceriaanya, pesan-pesan darinya, dan janji
persahabatan yang pernah kita ikrarkan, membuat tangisku semakin
menjadi.
Aku masih ingat saat dia mengatakan, hanya maut yang
akan memisahkan kita. Memang semua itu nyata terjadi di kehidupanku.
Maut telah memisahkan persahabatanku dengannya, seorang adik yang begitu
istimewa. Seorang anak panti yang berjuang keras untuk mencetak sebuah
prestasi. Dan dia berhasil melakukannya. Dan dia juga telah berhasil
mencuri hati semua orang dengan kebaikannya. Kini semua hanya bisa
mengenang kebersamaan dengannya. Semoga kamu tenang di sana dek. Aku
hanya bisa mengirimkan
sebuah doa untukmu.😥
*****
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
cerita ini mengingatkan ku waktu kehilangan sahabatku dulu
EmoticonEmoticon