Karna Mendua Bukan Pilihan

Pagi yang cerah, sang mentari tampak begitu bersemangat memancarkan sinarnya. Membuat burung-burung bernyanyi dengan riang gembira. Angin yang berhembus sepoi-sepoi membuat padi yang mulai menguning bergoyang-goyang mesra. Menimbulkan gesekan halus membentuk melodi nada. Seorang gadis tampak tengah duduk di sebuah gubuk di tengah sawah. Tatapannya menerawang jauh, kesedihan terlihat jelas menghiasi wajah ayunya. Keadaan yang begitu kontras dengan suasana.

"Tuhan... kenapa hatiku sesakit ini? Seharusnya aku bahagia, tapi kenapa aku begitu ingin hari ini cepat berlalu? Aku tau aku terlalu egois, tapi semua ini terasa begitu menyakitkan." Bulir-bulir air mata mengalir dari pelupuk mata Via.

"Happy Birthday Ka Rangga..." bisik Via nanar. Tangisnya semakin menjadi saat mengingat seseorang yang sangat dia sayangi. "Tuhan, angkat rasa sakit ini. Hilangkan keegoisan yang selama ini menyelimuti hatiku."

"Via, kenapa Lo menangis sendirian di sini?" Tanya Nabila. "Kenapa ngga cerita sama kita? Jangan dipendam Via, kita ngga mau Lo sakit." Nabila memeluk Via. Tangis Via pecah dalam dekapan sahabatnya itu.

"Kenapa gue selemah ini sih, Bil? Padahal gue cuman nglihat ucapan terima kasih ka Rangga ke Ka Rani, tapi hati gue sakit banget Bil."

"Via sayang, itu konsekuensi dari keputusan yang Elo pilih. Elo mencintai seseorang yang sudah memiliki kekasih, itu artinya Elo harus siap merasakan hal-hal seperti ini. Sabar yaa sayang."
Via terdiam, kata-kata Nabila ada benarnya juga. Seharusnya ia siap menerima semua kenyataan ini, ia sendiri yang memilih untuk tetap mencintai Ka Rangga.

"Bil, bawa gue pergi yang jauh! Buat gue melupakan hari ini..." pinta Via memohon.

"Oke, hari ini kita pergi ke villa milik saudara gue! Semoga bisa menghilangkan beban pikiran Lo, Via. Kita ngerti apa yang Lo rasain hari ini, tapi kita ngga mau nglihat Elo sedih terus!" Naya menghapus air mata sahabatnya itu.

"Terima kasih, kalian emang sahabat terbaik gue." Via memeluk ketiga sahabatnya. Ia bersyukur memiliki sahabat yang selalu ada untuknya saat duka maupun duka.

"Tapi kan besok kita sekolah Nay..."

Gita tersenyum, "Vi kita bisa izin kok, yang paling penting Lo bisa tersenyum lagi. Kita ngga mau Elo terlalu banyak beban pikiran dan jatuh sakit. Urusan izin serahin sama gue!"
Via tersenyum, "Thank's Guys!"

*****

"Waahhhh... pemandangannya indah banget!" Ujar Via takjub. Disekelilingnya tampak kebun teh yang membentang luas. Di beberapa titik terlihat ibu-ibu yang tengah memetik teh. Sebuah senyuman terukir indah di wajah Via.

"Maafin Via, Ka Rangga. Dihari ulang tahun Kakak, Via malah pergi. Maafin keegoisan Via yang belum bisa hilang." Ujar Via dalam hati.

"Vi, sesayang apa sih Elo sama Ka Rangga?" Tanya Naya.

"Gue ngga bisa menggambarkan perasaan gue Nay, tapi sampai saat ini Gue belum siap untuk kehilangan dia."

"Tapi sampai kapan Vi?"

Via hanya menggeleng, "Mungkin nanti, saat Ka Rangga memilih untuk benci sama gue." Via tersenyum.

"Oke baik, Elo boleh sayang sama Ka Rangga. Tapi kita ngga mau nglihat Lo sedih lagi. Belajarlah mencintai dengan dewasa Vi, terimalah segala konsekuensi dengan ikhlas."

*****

Akhirnya setelah menempuh tiga jam perjalanan, mereka tiba di Villa. Hembusan angin pegunungan berhembus mesra, menyambut kedatangan mereka dengan kesejukan.

"Wow... it's so beautiful..." bisik Gita takjub. Diikuti anggukan Via dan Nabila.
Naya tertawa melihat ekspresi ketiga sahabatnya, "Selamat datang di Villa teman-teman, waktunya bersenang-senang!"

"Yeaaayyyy!!!" Mereka bergegas menuju Villa.

Suasana Villa begitu menyenangkan. Dari sini kita bisa melihat pemandangan kota dan perkebunan teh tanpa batas. Pepohonan hijau berdiri dengan kokoh, dengan akar yang menggantung bebas. Bunga-bunga tengah bermekaran, membuat sang kupu-kupu betah berterbangan kian-kemari, di ujung Villa terdapat sungai buatan yang begitu jernih airnya, terlihat jelas ikan-ikan koi yang berenang dengan anggun, dan ditengahnya terdapat bola-bola yang sengaja di pasang untuk tempat duduk. Rumahnya pun tak kalah eksotis, terbuat dari kayu jati dengan desain yang begitu indah.

"Nay,,, keren banget sih!!!" Ujar Via kagum.

"Ini rancangan bokap gue Vi, memang dirancang untuk berlibur ketika penat. Kata Papa sih biar meredam stress, makannya gue ngajak Elo kesini."

"Yeee, gue ngga stress kali Nay. Cuman..."

"Cuman galau..." celetuk Gita, diikuti gelak tawa ketiga sahabatnya.

Setelah meletakkan barang bawaan, Naya mengajak ketiga sahabatnya berkeliling desa di sekitar Villa. Sebuah desa kecil di tengah perkebunan teh. Rumah warga di sini tampak begitu sederhana, namun sangat rapi. Setiap rumah memiliki taman yang indah, dan pepohonan hijau yang membuat udara begitu segar. Dan suara gemricik air sungai membuat suasana semakin nyaman dan mendamaikan.
Benar kata Naya, tempat ini bisa meredam stress. Itulah yang Via rasakan saat ini. Ia mulai bisa berpikir jernih, dan menerima realita yang ada. Ia berjalan menikmati pemandangan, dan menyiapkan mental untuk nanti malam. Ia memutuskan untuk menelfon Ka Rangga malam nanti.

"Via... jangan ngalamun mulu!!! Kita selfi dulu yuk..." teriak Gita antusias. Gadis manis itu memang ratunya selfi. Via tersenyum kecil, dan bergegas menghampiri ketiga sahabatnya yang sudah siap dengan pose masing-masing.

"Ciiieessss..."

*****

Malam itu Via duduk sendirian di taman Villa, menikmati lampu kota yang terlihat begitu indah dari sini. Sayup-sayup terdengar gelak tawa ketiga sahabatnya di beranda. Via tersenyum, ternyata menjadi dewasa bukanlah hal yang mudah. Namun ia bertekad untuk terus mencoba.

Tiba-tiba hpnya berdering, Ka Rangga.

"Hallo Kak... Happy Birthday ya, semoga semakin dewasa, dimudahkan segala urusannya, di lancarkan rezekinya, dan semakin langgeng dengan Ka Rani..."

"Amiin... Tapi doa yang terakhir tulus ngga tuh?" Ka Rangga tertawa. "Kamu itu pencemburuan banget sih Dek."

"Maafin Via ya Kak..."

"Iya Viaku, Maafin kakak juga ya. Kamu ngga mau ketemu sama kakak nih hari ini?"

"Pengen ketemu sih Kak, cuman Vianya lagi di puncak."

"Ya udah deh kalau gitu..."

"Skali lagi maafin Via ya, Kak..."

Namun Ka Rangga hanya diam, tak ada jawaban. Via medesah, saat ini ia benar-benar merindukannya. Via mematikan telponnya dan melangkah menuju sungai buatan.

"Via..."

Gadis itu mendongak, ia terkejut melihat sosok Ka Rangga berdiri di depannya. "Ka Rangga...???" Pekik Via tak percaya.

Sosok di depannya hanya tersenyum.

"Kakak...!!!" Via langsung memeluk ka Rangga.

"Happy birthday to you Ka Rangga..." ujar Naya, Nabila, dan Gita kompak. Mereka membawakan kue ulang tahun untuk Ka Rangga. Via hanya bengong melihat semua yang terjadi.

"Sebelum tiup lilin, ucapkan permintaan kakak dulu." Ujar Naya.

Rangga memejamkan mata, dan semenit kemudian ia sudah meniup lilinnya. Keempat gadis itu tersnyum senang.

"Kita duluan ya, Vi. Bye..." Nabila, Naya dan Gita bergegas pergi.

Rangga menggandeng Via menuju batu-batu yang berada di tengah sungai buatan. Temaram lampu taman dan suara gemricik air membuat suasana malam terasa begitu romantis.

"Naya itu saudara gue Vi, Vila ini kado dari Bokap Naya. Tadi pagi Naya sms gue, dia minta izin mau pergi kesini sama kamu..."

Via terdiam, ternyata selama ini Naya merahasiakan semuanya. Makannya gadis itu begitu perhatian dengan hubungannya dengan Ka Rangga. Naya ngga mau melihatnya kecewa. Dia memang sahabat yang sangat baik.

"Vi,,, gue tau kamu sedih. Maafin gue ya," Rangga menggenggam tangan Via. "Gue sayang sama kamu Vi, gue ngga pernah bermaksud membuat kamu kecewa. Tapi..."

"Iya kak, Via ngerti..." Via memotong penuturan Rangga. "Via yang harus belajar menjadi gadis yang dewasa dan memahami keadaan kita. Maafin keegoisan Via, Kak..."

Rangga tersenyum, "Berjanjilah untuk tetap tersenyum apapun yang terjadi. Karena senyum manismu itu yang membuat gue jatuh cinta..." ia mengacungkan kelingkingnya.

"Janji..." Via mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking ka Rangga. Gadis kelas 2 SMA itu tersenyum manis.

"Menjadi orang kedua bukanlah suatu pilihan, karena itu sebuah keegoisan. Gue menyadari semua itu, namun sampai sekarang gue belum siap kehilangan semuanya. Mungkin gue akan terus terluka, namun itu konsekuensi yang harus gue rasakan." Batin Via dalam hati.


EmoticonEmoticon