Cerita Kakak

Sejak kecil kakak selalu berusaha memperjuangkan hidupnya sendiri, ia begitu tekun mempelajari komputer. Sehingga saat kelas V SD dia sudah memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang ketik. Kondisi ekonomi keluarga yang serba berkecukupan membuatnya begitu bersemangat mencari uang sendiri. Sesekali dia berbagi denganku. Aku begitu menyayanginya walau kita jarang bertemu. Dia seorang kakak yang baik dan begitu memperhatikanku.

"Kenapa Mas Andi jarang di rumah?" Tanyaku suatu hari saat ia sedang berada di rumah. Terkadang aku kesal karena tak lagi memiliki teman saat belajar ataupun bermain.

"Kan Mas Andi kerja dek," jawabnya sembari mengacak-acak rambutku. "Nanti kalau Mas Andi punya uang kan bisa ngejajanin kamu."

"Tapi sekarang aku kalau belajar sendirian." Ujarku sedih.

"Besok kalau Mas Andi longgar, belajarnya sama Mas Andi lagi. Pokoknya kamu harus rajin belajar, biar memiliki prestasi yang gemilang." Ucapnya penuh kasih sayang.

***

Seiring berjalannya waktu, ia semakin menguasai komputer. Bahkan bisa dikatakan ahli. Pernah suatu ketika salah satu komputer di SMPnya rusak, dan ia berniat memperbaikinya. Walau saat itu Pak Guru sempat meremehkan kemampuannya, namun dengan ketelatenan kakak, komputer itu bisa kembali digunakan. Sebuah prestasi yang luar biasa. Selain itu Kakak juga pandai berorganisasi, hal itu membuatnya menjadi anak kesayangan para guru.
***
Semakin tinggi suatu pohon, maka semakin besar pula angin yang menamparnya. Begitu pula yang dialami Kakakku. Harus berjuang keras dan tahan banting saat memasuki dunia putih abu-abu. Menjadi salah seorang siswa di salah satu sekolah terfavorit dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil bukanlah suatu hal yang mudah. Hanya semangat dan dorongan dari Ibu, yang selalu membuatnya kuat.

"Beginilah kehidupan Ndi, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Rezeki itu sudah diatur Allah, mungkin keadaan kita saat ini adalah salah satu ujian-Nya. Apakah kita kuat atau menyerah." Kata Ibu suatu malam. "Jadikan kesempatan ini untuk mendobrak semangatmu, tunjukkan kalau kamu bisa memiliki prestasi meski kamu sering absen karena tidak memiliki uang saku. Jangan minder. Ibu yakin kamu kuat dan bisa menjadi yang terbaik."

Kakak hanya diam mendengarkan nasehat Ibu. Sudah dua hari ini dia tidak sekolah, karena tidak memiliki uang saku. Keadaan yang menyedihkan memang, tapi aku yakin kakakku bisa menghadapinya. Dia seseorang yang tangguh dan pantang mengeluh.

Kebaikannya membuat banyak orang menyayanginya. Bahkan dulu, hampir semua memilihnya untuk menjadi Ketua OSIS, namun ia memilih tetap menjadi anggota karena ia sadar dengan keadaannya saat ini. Tapi kakak selalu berusaha membantu tugas sang ketua. Ada jiwa seorang pemimpin di dalam tubuh kakakku. Ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan ringan tangan. Dan itu membuatku bangga.

"Semangat Mas Andi." Bisikku saat belajar. Aku mencoba tersenyum, walau sesungguhnya saat itu aku ingin menangis. Tak tega melihat kondisi kakakku saat ini.

Mas Andi hanya tersenyum saat mendengar bisikanku. Selalu keceriaan yang ia perlihatkan, sehingga aku tak pernah tau apa yang sesungguhnya ia rasakan. Kondisi keluargaku memang sedang terpuruk saat itu, Bapak dan Ibu tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Sehingga terkadang harus mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan dapur dan biaya pendidikan kakakku.

***

Sore itu aku sedang membaca saat Kakak mengobrol dengan kedua orang tuaku. Ternyata masalah tunggakan sekolah, sudah tiga bulan kakak belum membayar dan sudah beberapa kali mendapat surat peringatan. Namun lagi-lagi keadaan membuat kakak harus terus bersabar. Ada raut kesedihan yang terlihat di wajahnya.

Diam-diam aku menangis, apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kakak kesayanganku? Melihatnya bersedih seperti itu, benar-benar membuat hatiku sakit. Dan untuk saat ini aku tidak berani menatap wajahnya yang teduh.

Malam itu Bapak dan Ibu pergi, mencoba mencari pinjaman untuk membayar tunggakan uang SPP kakak.

"Kamu kenapa dek?" Tanya Mas Andi heran.

Aku hanya menggeleng dan terus menunduk.

"Kamu bohong ya." Mas Andi menatapku. "Kenapa kamu nangis?"

Tangisku pecah saat itu. "Maaf aku ngga bisa bantuin Mas Andi nyari uang buat bayar SPP."

"Ya Allah dek, kamu ngga usah mikirin itu. Sekarang yang terpenting, kamu belajar yang rajin biar kamu memiliki prestasi gemilang. Sebentar lagi kamu naik kelas 5 loh. Udah, kamu ngga perlu memikirkan urusan Mas Andi. Kan Bapak sama Ibu sudah berusaha. Yang terpenting kamu belajar yang pinter dan membuat Bapak Ibu bahagia."

***

Hujan pasti reda, dan badai pasti berlalu. Pada akhirnya setelah melewati berbagai cobaan dan rintangan yang silih berganti, Allah memberikan jalan-Nya. Seminggu sebelum Ujian Nasional, Bapak mendapat rezeki sehingga bisa melunasi semua tunggakan kakak. Dan kakak bisa mengikuti UN dengan lancar. Terima kasih ya Allah.

Tak hanya itu, sebelum menerima pengumuman kelulusan. Kakak mendapatkan tawaran pekerjaan dari om untuk bekerja di sebuah perusahaan ternama di Bekasi. Senang rasanya melihat Aura kebahagiaan yang memancar dari wajah kakakku.

"Jangan pernah berhenti belajar ya Nak, dan jangan sampai meninggalkan shalat lima waktu juga membaca Al-Qur'annya. Baik-baik ya di sana." Ujar Ibu saat Mas Andi mau berangkat ke Bekasi.

"Doakan Andi ya, Bu." Kakak memeluk ibu dan mencium tangan kanannya. Memohon doa restu, begitu juga kepada Bapak saat beliau memberikan beberapa wejangan.

"Jangan lupa ajak-ajak kalau sudah sukses." Kuhapus air mataku yang sejak tadi mengalir.

"Iya Fi, jangan cengeng dong! Jangan bandel, dan jangan lupa bantu ibu ya." Pesan kakak sebelum dia pergi.
"Siap!!!"

***

Tahun demi tahun silih berganti, keuletan, ketekunan dan semangat yang tinggi membuat jabatan kakak terus meningkat. Bahkan kini dia sudah menjalani pendidikan semester akhir di salah satu Universitas di Bekasi. Cobaan datang silih berganti, namun kakak selalu bisa menghadapinya. Karena shalat lima waktu dan shalat malam tidak pernah ia tinggalkan.

Tidak hanya itu, kakak juga berinisiatif menyelesaikan pekerjaan yang bukan pekerjaannya. Ia melakukannya dengan senang hati, tanpa seorangpun yang mengetahui. Merapikan sistem, merapikan berkas-berkas di gudang, dll. Di saat karyawan yang lain libur, kakak tetap bekerja.

Keikhlasannya membuahkan hasil yang istimewa. Dia menjadi karyawan teladan dan di saat yang bersamaan dia berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan status cumloade. Sebuah prestasi yang membanggakan. Kepahitan hidup yang selama ini mengiringi langkah kakinya berbuah begitu manis.

*****


EmoticonEmoticon