"Berhenti tawuran kak...!!!" Suara cempreng itu menggema memenuhi
kamar, meninggalkan dengungan di kedua telingaku. Gadis mungil pemilik
suara mengerikan itu tetap berdiri di depan pintu sembari menatapku
tajam.
"Lihat, wajah kak Varel ampe ancur gitu!!!" Ujarnya kesal. Ia menggeleng melihat luka di sekujur tubuku.
Aku tersenyum melihatnya. Rima menjadi orang pertama yang marah ketika
aku berantem. Ternyata dia begitu memperhatikanku. Rima adalah adik
sahabatku, dia seorang gadis cantik dengan rambut panjangnya yang
berkilau dan lesung pipit yang membuat wajahnya semakin indah. Aku
sempat mengaguminya, namun menjadikannya sebagai seorang adik terasa
lebih menyenangkan. Walau kita hanya beda setahun. Gadis kelas 2 SMA itu
begitu menarik.
"Maaf Rima..."
"Bosen denger kata-kata
itu...!!!" Rima terlihat kesal. "Itu hanya Omong kosong...!!! Gue udah
menginterogasi Vino, dan dia udah janji ngga akan berantem lagi. Kalian
berdua Hobi banget sih, punya wajah lebam kaya narapidana gitu?!!!"
"Iyaa deh ini yang terakhir..."
"Terakhir di bulan ini maksudnya? Dan di bulan depan mau lagi? Nyadar
dong kalian itu udah kelas 3, bukannya mempersiapkan bekal buat UN malah
cari masalah!!"
Rima melangkah mendekatiku, dan duduk di
sampingku. Pandangannya menyapu setiap sudut kamar, "Ini kamar kan Kak?
Bukan gudang...?" Tanyanya heran saat melihat kamarku yang berantakan.
Baju kotor berserakan di sudut kamar, meja belajar dipenuhi buku-buku
yang tersebar tanpa seni, dan bungkus-bungkus snack yang belum di buang.
Rima hanya bisa geleng-geleng.
Terkadang Rima lebih bawel dari
nyokapku. Tadi marah-marah karena aku tawuran, sekarang mengomentari
kamarku yang super rapi ini. Ah, terkadang gadis satu ini menyebalkan.
"Kenapa? Masalah buat Rima...?"
Rima mendengus kesal, "Ya ngga gitu juga kali Kak, tapi cowok rapi itu
lebih menarik. Kalau berantakan gini bikin males belajar, makannya try
out ga pernah lulus!" Rima melangkah ke meja belajarku. Ia merapikan
buku-buku pelajaranku yang berserakan. Tanpa sengaja ia menjatuhkan
sebuah foto. Rima mengambilnya, namun tiba-tiba wajahnya berubah menjadi
sendu.
"Emang kakak pikir tawuran itu keren yah?" Tanyanya tanpa melihatku. Ia masih asyik mengamati fotoku saat berdua dengan Raisa.
"Ya ngga lah Ma, gue kan cuma mau ngasih pelajaran buat mereka yang berani ganggu Raisa." Jawabku membela diri.
"Tapi ngga harus dengan cara tawuran juga kan Kak...?" Rima tersenyum
getir. "Jika cinta menjadi alasan untuk bertengkar, itu konyol..."
"Tapi gue punya hak dong Ma, dia tau kalau Raisa itu cewek gue, tapi dia tetep aja ngedeketin Raisa...!!!" ujarku kesal.
"Ngga akan ada yang mendekati kalau kita ngga membuka diri..." Rima
melangkah pergi meninggalkanku. Genangan air mata terlihat jelas di
pelupuk matanya.
"Satu hal lagi Kak, sudah cukup gue kehilangan
Kak Kevin karena tawuran konyol itu. Dan gue ngga mau itu terjadi lagi
sama Vino dan Kakak!!!"
Aku terdiam, kata-kata Rima ada benarnya
juga. Setahun yang lalu Kak Kevin meninggal karena tawuran. Ternyata
lawannya curang, mereka menggunakan senjata tajam. Kak Kevin meninggal
karena luka tusuk di lehernya yang menyebabkan dia keilangan banyak
darah.
Tawuran menyimpan trauma yang mendalam bagi Rima. Oleh
karena itu dia selalu marah saat aku maupun Vino berantem. Dia takut
kenangan pahit setahun yang lalu kembali terulang dan merenggut
orang-orang terdekatnya.
"Rima kenapa Rel? Kok dia nangis?" Tanya Mama yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamarku.
"Dia marah Mah, gara-gara Varel berantem lagi." Jawabku seadanya. Aku
ngga tau apa alasan Rima sebenarnya, sehingga gadis itu memilih pergi
dan menangis.
"Kamu sih bandel..." Mama semakin menyalahkanku. "Dia peduli sama kamu Rel, tapi kamu malah membuatnya kecewa."
Aku terdiam. Benar kata Mama, sudah berulangkali aku membuat Rima kecewa. Dan kali ini aku membuatnya menangis.
*****
Semenjak kedatangannya siang itu, ia tak pernah lagi menyempatkan waktu
untuk mengunjungiku. Bahkan saat aku menyambangi rumahnya, ia tak lagi
menemuiku. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, namun tak ada
jawaban. Sms, BBM dan Whats Up tidak ada yang dibaca. Ada apa dengan
gadis mungil itu.?
Di sekolah pun sama, sepertinya ia mencoba
menghindariku. Selalu menyibukkan diri di ruang OSIS saat jam istirahat
sehingga aku tak memiliki kesempatan untuk menemuinya.
"Rima kenapa sih Vin...?" Tanyaku heran. Kantin yang biasanya ramai dengan canda dan tawanya kini mendadak sepi.
"Gue ngga ngerti Rel, akhir-akhir ini dia begitu tertutup. Tapi yang
gue tau dia sedang mempersiapkan diri buat kompetisi mengarang minggu
depan. Biasa orang sibuk!!" ujar Vino masih asyik dengan gamesnya.
Rima memiliki cita-cita menjadi seorang pengarang. Karya-karyanya
begitu apik. Dan ia selalu menyabet juara saat mengikuti kompetisi
mengarang. Bahkan di tahun ini dia meluncurkan dua novel hasil karyanya.
Gadis mungil itu sungguh istimewa.
"Adik lo satu itu emang perfect yaa... Udah cantik, pinter, baik... ngga kaya kakaknya..." aku tertawa kecil.
"Maksud loe?" Vino menatapku kesal. Cowok itu paling ngga suka dibanding-bandingkan. Walau dengan adiknya sendiri.
"Yaa seharusnya elo seneng dong punya adik yang perhatian, peduli
dan..." hatiku nyeri saat mengatakannya. Perhatiaan dan kepeduliian Rima
tak lagi kurasakan sejak kejadian itu.
Biasanya kita sering
smsan. Walau hanya sekedar say Good Night. Atau omelan dia yang khas
ketika aku malas belajar. Diam-diam aku merindukannya.
*****
Siang itu aku sengaja pergi ke toko buku untuk menemui Rima, aku harus
tau apa alasannya menjauhiku. Namun bukan Rima yang kutemui, tapi
kebenaran yang pernah ia katakan. Aku melihat Raisa tengah bermesraan
dengan Leo, cowok yang menantangku dua minggu yang lalu. Hatiku nyeri,
ternyata benar yang Rima katakan, Raisa memang membuka hatinya untuk
orang lain.
"Hei..."
"Varel...?" Raisa tampak terkejut melihatku. Ia terlihat ketakutan. Leo mencoba membuatnya tenang dengan menggenggam jemarinya.
Aku hanya tersenyum, "Alangkah lebih baik jika kita akhiri hubungan
kita dan silahkan lanjutkan hubungan lo sama dia..." pandangan Varel
mengarah ke Leo. "Selamat ya, semoga langgeng...!!!"
"Varel..."
teriak Raisa saat aku melangkah pergi. Namun aku tak peduli dan tetap
melanjutkan langkah kakiku. Aku tersenyum kecut. Ternyata selama ini aku
menyayangi orang yang salah.
*****
"Kak Varel awas...!!!"
Seseorang mendorongku saat sebuah mobil hampir saja membuat nyawaku
melayang, ternyata tanpa sadar aku berjalan di jalan raya bukan lagi
ditrotoar. Kami terjatuh.
"Rima..." pekikku senang.
Gadis itu mendelik kesal. "Sengaja yaaa mau bunuh diri karena patah hati?" Rima membersihkan debu yang mengotori seragamnya.
"Enak aja... Gue ngga patah hati Ma, Gue galau karna Elo, dua minggu ini Lo kemana non? Ngilang gitu aja ngga ada kabar...!!!"
Pipi Rima memerah mendengar ucapanku. Gadis mungil itu benar-benar membuatku rindu.
"Sekali lagi Lo pergi, gue bakalan lompat dari jembatan nih..."
Bukannya khawatir, Rima malah tertawa terbahak-bahak, "Emang kakak
berani...? Rima ngga yakin deh, orang kakak aja takut ketinggian
kok...please deh kak jangan lebay..."
"Terus apa alasan Lo ngejauhin gue?"
Rima terdiam, "Rima..." ia menatapku. Sorot kesedihan terpancar jelas
dari matanya. "Rima mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang Kak. Dan
besok Rima berangkat, mungkin kita ngga akan ketemu untuk waktu yang
cukup lama." Rima terdiam sejenak sepertinya ia ragu untuk
mengungkapkannya.
"Selama ini diam-diam Rima suka sama kakak,
namun Rima tau kalau kakak sangat mencintai Raisa walau sebenarnya cewek
itu berulangkali mengkhianati kakak. Tapi kakak ngga pernah peduli
dengan peringatan Rima. Rima fikir dengan cara menjauhi kak Varel, Rima
bisa dengan mudah menghapus rasa sayang ini, tapi ternyata Rima salah.
Melupakan orang yang sangat kita sayangi bukanlah hal yang mudah. Dan
mungkin ini salah satu cara buat Rima move on. Maafin Rima ya kak, Rima
ngga pernah jujur sama kakak, maafin Rima yang tiba-tiba menghilang dan
mungkin membuat Kak Varel khawatir. Juga terima kasih selama ini kakak
selalu ada buat Rima, selalu suport Rima..." gadis itu menghirup nafas
panjang.
Rima mengambil sebuah novel dari tasnya dan
memberikannya padaku, "Rima bisa membuat novel ini karena terinspirasi
sama kakak,terima kasih." ia tersenyum. "Baik-baik yaa Kak... Semoga
UNnya nanti lancar.."
Rima menghambur ke pelukanku. "Rima nitip Vino..."
Lidahku terasa begitu kelu untuk berkata-kata. Kebenaran ini terasa
begitu menyakitkan. Sebenarnya jauh di lubuk hatiku, aku sangat
menyayangi gadis mungilku ini. Bahkan bukan sebagai adik, tetapi sebagai
seorang gadis yang spesial di hatiku. Namun saat itu Raisa sudah
terlanjur memiliki hatiku.
Hatiku perih menerima kenyataan ini.
Andaikan aku tau kalau dari dulu Rima menyayangiku, takkan pernah timbul
rasa penyesalan ini. Andaikan diam tak merahasiakan kebenaran yang
mendalam, mungkin takkan
pernah ada kekecewaan.
*****
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
EmoticonEmoticon