Demi Kamu


Malam semakin larut, namun Viola belum bisa memejamkan mata. Kejadian tadi siang di sekolah membuatnya galau. Pasalnya Ravael, kekasihnya lebih memilih membela Anisa ketimbang dirinya. Kejadian itu bermula saat ia melihat Anisa meminjamkan buku catatannya kepada Ravael dan mereka sempat bercanda.
"Jangan-jangan mereka pacaran di belakang gue?!!" terka Viola curiga. "Gue nyesel Nis bersahabat sama Lo!!! Ternyata Lo munafik!!!" Teriak Viola kesal. "Gue ngga bakalan diam, lihat aja ntar apa yang akan terjadi!"
***
Best Friends Forever
Pagi itu Anisa tidak masuk sekolah, kata Bu Mira Anisa terserempet mobil saat berangkat menuju ke sekolah. Dan saat ini dia dirawat di rumah sakit karena tangan kirinya retak.
"Kasihan Anisa." Ujar Karin sedih. "Semoga yang mencelakainya mendapat ganjaran yang setimpal!"
"Eiihhh Karin, Anisa kan pernah bilang, keburukan jangan dibalas dengan keburukan!" Ira mengingatkan. "Siapa tau orang yang menyerempet Anisa tidak sengaja. Positiv thinking aja deh!"
"Temen kalian itu munafik tau ngga! Ya mungkin kecelakaan itu karma buat dia yang udah berani merebut Ravael dari gue."
Karin tidak terima saat Viola memfitnah Anisa. Bisa-bisanya ia menuduh sahabat terdekatnya. "Elo jahat banget sih Vi, nuduh Anisa kaya gitu?!! Asal Loe tau ya selama ini Anisa udah berkorban banyak buat Loe!! Dari awal Ravael emang udah jatuh cinta sama Anisa. Sebenarnya Anisa juga memiliki rasa yang sama, tapi dia tau Elo suka sama dia. Makannya Anisa ngalah, dan meminta Ravael buat nembak Lo!!!" Ungkap Karin emosi.
"Karin udah ih..." Ira mencoba menenangkan sahabatnya. "Vi udah ya, kamu jangan mancing emosi Karin lagi. Dan gue mohon jangan memfitnah orang sembarangan. Inget, Anisa itu sahabat terdekat kamu! Dan dia juga sudah banyak berkorban demi kamu."
Viola terdiam di bangkunya. Cerita Karin tentang kebenaran Anisa dan Ravael membuatnya syok. Jika memang benar itu yang terjadi, ia adalah orang yang paling jahat di dunia karena telah mencelakakan sahabatnya sendiri yang sudah jelas-jelas mengorbankan perasaan untuk kebahagiaannya.
Viola tampak ketakutan, keringat dingin mengucur dengan deras. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat pasi. Tadi pagi ia sengaja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan ekstra dan menyerempet Anisa yang hendak menyebrang. Gadis itu terlempar ke jalanan dan tangan kirinya terbentur trotoar.
"Tidak....!!!" Teriak Viola frustasi dan gadis itu berlari ke luar kelas.
***
Viola berlari saat menyusuri koridor rumah sakit, perasaannya campur aduk tak menentu. Rasa bersalah terus menghantui pikirannya, membuatnya semakin panik. Ia mencari pasien yang bernama Anisa, namun kata suster tidak ada nama pasien yang bernama Anisa di rumah sakit ini. Tangisnya pecah saat itu.
"Viola...?" Tanya Ravael heran saat melihat kekasihnya menangis di koridor rumah sakit.
"Ravael...? Dimana Anisa...?" Tanya Viola terbata-bata. "Dan kenapa Loe ada di sini?"
"Gue yang membawa Anisa ke sini. Dan dia sedang beristirahat sekarang. Lo sendiri ngapain menangis di sini.?"
Viola menghapus air matanya, "Gue mau ketemu Anisa! Gue mohon anterin gue..."
"Baiklah..."
***
Seorang gadis terbaring lemah di ranjangnya dengan tangan kiri yang di gift. Viola mendekati sahabatnya, melihat keadaan Anisa, membuatnya semakin merasa bersalah.
"Viola..." bisik Anisa lirih. Ia mencoba bangun, namun Viola mencegahnya.
"Jangan, Lo masih sakit." Viola menggenggam tangan kanan Anisa. "Maafin gue Nis."
Anisa mengangguk, gadis cantik itu tersenyum. Dari awal Anisa sudah mengetahui jika pelaku penyebab kecelakaan itu adalah sahabatnya sendiri. Tapi ia memilih untuk diam.
"Gue udah...."
"Ssssttttt...." Anisa meletakkan jari telunjuknya di bibir mungil Viola. "Jangan sampai ada yang tau..." bisik Anisa.
"Tapi Nis..."
"Semuanya akan baik-baik aja kok. Semua ini gue lakukan demi kamu, karena kamu adalah sahabat terbaik aku..." Anisa menggenggam tangan Viola. "Anggap aja kejadian ini ngga pernah ada."
*****


EmoticonEmoticon