Tour Guide In Love

Semuanya berawal dari coba-coba. Ketidaksengajaanku mengirimkan CV dan surat lamaran pekerjaan yang tak sesuai dengan EYD menghantarkanku pada perjalanan yang begitu menarik dan penuh keajaiban. Berbekal keramahan dan dibumbui rasa kekeluargaan, aku bisa menikmati pesona wisata Indonesia. Gratisss...!!!
Kota Kembang menjadi saksi perubahan hidupku. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami alur kehidupan yang sesungguhnya, mulai merasakan sebuah perjuangan, mulai memahami cobaan dan mulai mengenal Cinta.
Hidup sendiri di kota orang tanpa sanak saudara bukanlah suatu hal yang mudah, akan tetapi keberanian dan Keyakinan bahwa Tuhan selalu menjaga kita, membuatku bertahan. Takkan terlihat keindahan, saat kita stagnan di tempat. Lawan ketakutan, maka kamu akan temukan sebuah keajaiban. Terus mengupgrade diri, karna orang yang tak mau berjuang memperbaikki diri akan tenggelam dalam arus perubahan.
Bab 1. Secuil Cerita Kegugupan
Keringat dingin mengucur saat Pak Roni memberikan sebuah surat tugas kepadaku menjadi Tour Leader di sebuah Rombongan Instansi Pemerintahan yang akan mengadakan pelatihan di Bandung.
"Saya percaya kamu bisa..." ujar Pak Roni seolah mengerti ketakutanku. "Ini saatnya kamu belajar Ayra, belajar materi memang mudah, namun kamu akan lebih paham jika terjun langsung di lapangan..."
"Tenang Ra, kamu ngga sendiri kok..." sambung Kak Roy, Tour Leader yang sudah sangat berpengalaman.
"Baiklah Pak, Ayra siap..."
"Siap ngga siap, kamu bakalan tetap pergi kali Ra! Ini kan bagian kerjaan kamu, yaa siapa tau kamu ketemu jodoh nantinya... Ambil hikmahnya aja..."
"Kak Roy,,, seneng banget sih ngledekin Ayra!!!"
Pak Roni dan Kak Roy semakin senang melihatku mulai BT, tawa mereka terdengar semakin renyah. Menggodaku menjadi salah satu hiburan tersendiri bagi mereka, karena aku satu-satunya team marketing cewek dan masih single. Dari pada semakin ramai aku bergegas kembali ke meja kerjaku dan langsung searching Panduan Menjadi Guide Profesional. Yah... paling tidak aku sudah mempersiapkan semampuku.
Kuhidupkan instrumental musik untuk mendinginkan otakku yang mulai mendidih. Lamunanku mulai melayang, membayangkan saja sudah membuatku ketakutan. Mungkin aku terlalu mendramatisir masalah. Aaaa... aku pasrah!!!
***
Jam menunjukkan pukul 02.30, jalanan masih lenggang. Hanya beberapa kendaraan yang terlihat berlalu lalang. Aku dan Kak Roy duduk di halte, menunggu bus yang akan menghantarkan kami ke Bandara Internasional Soekarno Hatta. Berkali-kali aku menguap, menahan kantuk.
"Nih makan, biar ngga ngantuk!" Kak Roy memberikan sebuah gorengan yang masih hangat.
Terkadang Kak Roy yang super nyebelin ini bisa baik juga, tau aja kalau aku lapar. Tanpa pikir panjang aku langsung melahapnya, mataku membelalak tiba-tiba, telingaku terasa panas.
"Kak Roy...!!!"
Kak Roy tertawa terbahak-bahak, "Tenang Ayra,,, bukankah itu obat paling mujarab untuk menghobati kantuk?"
"Tapi kira-kira dong Kak, masa pagi-pagi buta gini dikasih tahu pedas sih!!! Tanggung jawab yaa kalau sampai Ayra sakit perut!!!"
Kucabut kata-kataku kalau Kak Roy baik, dia jahat bahkan sangat kejam. Tega sekali memberiku makanan super pedas sepagi ini, semoga tidak membuat perutku bergejolak. Aku berjani akan membalas kejahilannya suatu saat nanti.
Lima belas menit kemudian bus yang kami tunggu pun tiba, aku bergegas naik dan mencari tempat yang paling nyaman dan kembali tidur, karena aku harus terlihat fresh nantinya. Namun lagi-lagi suara Kak Roy merusak mimpi indahku.
"Kak Roy,,, volume suaranya dikecilin dong, kedengarannya kaya radio rusak tau!! Berisik...!!!"
Pletakkkk...
Sebuah Mp3 Player melayang mengenai kepalaku. Emosiku hampir saja meledak, Kak Roy mah ngga kira-kira, maen lempar gitu aja. Semoga tak meninggalkan bekas benjol di keningku. Lagu-lagu klasik yang mengalun lembut membuatku mengantuk.
***
"Denger-denger anaknya Ibu Bupati ikut Ra, dan katanya dia cowok seusia kamu!" Ujar Kak Roy saat kita sarapan.
"Terus...??? Masalah buat Ayra...???"
"Jutek banget sih kamu poni kuda, makannya dari dulu jomblo!!!"
"Bodho amat..." aku masih asyik menikmati Soto Madura yang membangkitkan selera makanku. "Kak Roy, sepertinya diam lebih baik deh untuk menghemat tenaga kak Roy... Dasar bawell..!!!"
"Kamu itu yang bawel..." ujar Kak Roy kesal.
"Kak Roy, seriusan rombongan kali ini Ibu Bupati ikut??"tanyaku tiba-tiba saat menyadari omongan Kak Roy barusan.
"Yaaaa bawell... Buruan gih pesawat mereka sudah mendarat..!!"
Keringat dingin kembali mengucur, kenapa tiba-tiba aku segugup ini? Kata-kata sambutan yang sejak tadi kuhafalkan mulai buyar. Oh Tuhan...
Kak Roy menatapku bingung, "Are you Oke Ayra?"
Aku mengangguk, "Aku ke toilet dulu kak..." aku bergegas pergi sebelum mendapat izin dari Kak Roy.
(Bersambung)


EmoticonEmoticon