Kata orang aku begitu lincah, tubuhku lentur, dan gerakanku teratur. Mereka selalu bilang, nama dan kelebihanku bertolak belakang. Ini tahun ketiga aku mengikuti lomba dance, aku harap piala bergilir Walikota itu aku dapatkan. Itulah mimpiku selama ini. Namaku Melodi, salah satu siswa di SMA Nusantara. Meski kini aku duduk di bangku kelas tiga, hal itu tak pernah menghalangiku untuk tetap berlatih.
Menjadi idola bukan menjadi harapanku, tapi Dewi Fortuna seakan memihak kepadaku. Selain memiliki segudang prestasi, di sekolah aku termasuk lima besar cewek terpopuler. Dengan rambut panjang berkilau yang kumiliki, gigi gingsul yang menghiasi senyumku, dan tubuh proporsional bak model majalah terkenal. Walau mereka tak pernah tau apa yang kurasakan selama ini.
Lokerku selalu penuh dengan surat cinta, boneka, coklat ataupun sekuntum mawar merah. Benar-benar nampak seperti tempat pembuangan sampah. Dan sampai sekarang aku enggan mengenal cinta, kehancuran rumah tangga keluargaku, membuatku takut merasakan cinta.
"Mel, kata Pa Anton mulai hari ini latihan kita pindah ke SMA Pelita Bangsa." Ujar Afril semangat.
SMA Pelita Bangsa, sebuah sekolah menengah atas yang benar-benar serius mengasah bakat dan minat yang dimiliki murid-muridnya dan tetap membuat siswa-siswinya memiliki prestasi di bidang akademik. Keren.
"Gue denger yaa, cowok-cowok di sana keren-keren loh..." Afril menyengaja menyenggol lenganku.
"Ngga Fril..." jawabku.
"Ceileh, Lo mah gitu orangnya." Afril langsung memasang wajah cemberut. Sahabatku satu ini semangat banget kalau nyariin aku seorang pacar. Menyebalkan.
"Gue ngga mau. Titik." Aku melangkah pergi. "Gue tunggu di gerbang jam 13.00 tepat, kalau telat barang lima menit, jangan harap Lo bisa bareng gue..."
"Lo mah yaa, keterlaluan tau ga sih... Miss Perfeksionis banget." Umpat Afril kesal.
Bodo amat, soalnya kalau dia kaga digituin pasti lama. Dan aku paling benci menunggu.
*****
Bruuukkkk....
Setumpuk buku itu berserakan kemana-mana, dan kedua orang itu jatuh bersamaan.
Setumpuk buku itu berserakan kemana-mana, dan kedua orang itu jatuh bersamaan.
"Sorry..." bisikku perlahan. Ketergesaanku membuatku kehilangan fokus. Dan inilah akibatnya, membuat onar di sekolah orang lain. Sifatku yang satu ini benar-benar memalukan.
"Gpp kok, maaf juga gue ngga nglihat kalau Lo buru-buru..."
Aku berhenti membereskan buku-buku itu saat mendengar suaranya. Cowok??? Aku mendongak, seorang cowok tengah tersenyum menatapku. Dan setan mana yang menyelinap ke hatiku, karena secara tiba-tiba tubuhku serasa membeku. Dan hatiku, ada apa ini???
"Loe gpp kan???"
"Ngga, gue gpp." Jawabku simpel. "Maaf sepertinya gue harus pergi."
"Silahkan." Jawabnya ramah.
Aku sempat memperhatikannya, dia tersenyum dan bersikap begitu ramah. Nggak...!!! Kupukul kepalaku berkali-kali, aku ngga boleh kagum sama dia...!!!
"Melodi awas...!!!"
Braakkkkk....!!!
Terlambat... pintu itu berhasil membuatku kembali terjatuh. Burung-burung tampak begitu ceria mengelilingi kepalaku.
Terlambat... pintu itu berhasil membuatku kembali terjatuh. Burung-burung tampak begitu ceria mengelilingi kepalaku.
"Mel, are you okay?" Tanya Pak Anton khawatir.
Aku hanya mengangguk, kulihat sekelilingku, segerombolan orang menatapku dengan iba. Memalukan...!!! Aku hanya bisa meringis, sembari menahan rasa malu.
"Oh jadi Lo yang namanya Melisa," ujar seorang gadis setengah blester saat aku bergabung dengan mereka. "Elo cantik banget...!!!" Pujinya kemudian.
"Thanks..."
Latihan segera dimulai. Ternyata aku satu team dengan mereka untuk perlombaan nanti. Dan itu artinya, tiap hari aku harus berlatih di tempat ini dan bertemu dengan cowok yang kutabrak tadi...???
Oh My God...
What's wrong with My Feel...???
What's wrong with My Feel...???
Disaat sedang berlatih, tanpa sengaja tatapan mataku tertuju ke sudut aula. Cowok itu duduk di sana, memperhatikan team dance yang tengah berlatih. Benar-benar membuatku kehilangan konsentrasi. Sehingga saat melakukan gerakan atraksi, aku terjatuh. Wajahku mencium lantai yang dingin, kepalaku pening, dan semuanya gelap.
*****
"Hei... Lo sudah sadar." Teriaknya senang. Terlihat dari caranya tertawa. "Syukurlah..."
Aku mencoba duduk, tapi ia mencegahku. Bibirku terasa perih, dan dibajuku terdapat beberapa bercak darah, sepertinya ada gigi gingsul melukai bibirku. Untuk yang pertama kalinya aku terjatuh saat melakukan atraksi.
"Pasti Lo tadi ngga fokus." Ujar cowok itu memecah kesunyiaan. "Gue Iqbal..." ia memperkenalkan dirinya saat menempelkan hansaplast di keningku.
Aku hanya bisa mengangguk, mengakui ketololanku saat ini. Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan perasaanku saat ini.
"Iqbal..." teriak gadis yang tadi sempat memujiku. Ia menatapku berapa saat, tapi tatapannya tidak seperti tadi. Sepertinya ia membenciku. Dan mungkinkah karena Iqbal menolongku...?
"Gue mau ngomong sama kamu..."
"Gue duluan yaa, semoga lekas sembuh." Iqbal tersenyum menatapku. "Lain kali harus lebih fokus."
*****
Semenjak kejadiaan itu, Nadine, ketua group danceku jadi aneh. Ia tak lagi menyapaku, dan selalu bersikap sinis di depanku. Bahkan terkadang secara terang-terangan ia menyindirku. Hal itu membuatku semakin malas berlatih, apalagi minggu ini sidang perceraian kedua orangtuaku dilaksanakan. Hatiku benar-benar kacau. Tapi tak ada seorangpun yang peduli.
Siang itu aku sengaja tidak mengikuti latihan. Suasana hatiku akan merusak segalanya. Aku berdiam diri di taman belakang SMA Pelita Bangsa. Di saat-saat seperti ini, aku hanya bisa menangis. Kubiarkan air mata mengalir saat mata ini terpejam.
"Gue kira, Lo cewek yang kuat. Ternyata Elo bisa nangis juga."
Kubuka mataku perlahan-lahan, lamat-lamat kulihat sosok Iqbal duduk di sampingku. "Iqbal..."
Cowok itu hanya mengangguk. "Gue ngerti Lo lagi sedih, dan gue termasuk salah satunya pembuat kesedihan itu."
"Maksud Lo?"
"Sikap Nadine berubah bukan? Dan itu semua karena gue ngedeketin Lo. Dia cinta sama gue udah sejak kelas 1 SMA, tapi gue ngga suka. Dan Gue takut dia mencelakakan Lo..."
"Kenapa gue?"
"Karna dia tau selama ini gue ngefens sama Lo..." jawab Iqbal. Pandangannya lurus ke depan, menatap ujung pohon cemara yang bergoyang.
Jawaban Iqbal benar-benar membuatku terkejut. Walau sempat ada perasaan bahagia saat mendengar kejujuran itu. Tapi aku ngga mau jatuh cinta, belum jatuh aja udah dapet masalah.
"Gue bakalan berusaha ngejagain Lo."
"Ngga Bal, ngga perlu."
"Lo ngga akan bisa ngadepin ini sendiri Mel, gue tau hati Lo kacau karena proses perceraian kedua orangtua Lo, apalagi sekarang Lo dapet masalah baru karena gue. Gue ngga akan diam aja."
"Lo tau darimana?!!" Air mata itu mengalir semakin deras.
"Karena Ayah gue pengacara Bokap Lo..."
Sakit sekali rasanya, perceraian itu tak pernah aku harapkan, dan aku benci perpisahan. Kuatkan aku, Tuhan...
Iqbal meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat. "Gue janji, gue bakalan bantuin kamu..."
Genggaman itu begitu hangat, dan berhasil menguatkan hatiku. Untuk yang pertama kalinya aku merasakan semua ini. Mungkinkah aku telah jatuh cinta?
"Thanks Bal..." tangisku pecah dalam dekapan Iqbal.
*****
"Gue ngga suka Lo ngedeketin Iqbal...!!!" Teriak Nadine emosi. "Dan kenapa sih, Iqbal jatuh cintanya sama Lo? Kenapa ngga sama gue...?!!"
Plakkkk...
Pipi kiriku panas, tamparan itu terasa begitu menyakitkan. Aku hanya bisa diam dalam posisi terikat seperti ini. Dua jam lagi perlombaan akan segera dimulai, tapi sepertinya Nadine takkan membiarkanku mengikuti lomba itu.
Pipi kiriku panas, tamparan itu terasa begitu menyakitkan. Aku hanya bisa diam dalam posisi terikat seperti ini. Dua jam lagi perlombaan akan segera dimulai, tapi sepertinya Nadine takkan membiarkanku mengikuti lomba itu.
"Tolong gue Bal..." sebulir air mata mengalir dari pelupuk mataku.
"Iqbal ngga akan pernah ke sini bodoh...!!!" Nadine menendang kakiku. Sakit sekali rasanya. "Gue benci sama Lo Melodi...!!!" Untuk yang kedua kalinya kakiku terkena tendangannya.
"Gue bakalan menang, dan menggantikan posisi Lo di hati Iqbal...!!!" Teriaknya sebelum gadis itu pergi.
Mungkin mimpi itu harus sirna, harapanku bisa membawa piala bergilir pupus sudah. Maafkan aku Mah, Pah belum bisa memberikan prestasi terbaikku untuk kalian.
"Mel..." Iqbal melepaskan ikatan yang membelitku. "Masih ada kesempatan buat Lo tampil...!!!" Sebulir air mata terjatuh di lengan kiriku.
"Tapi kaki gue sakit Bal, gue udah ngga bisa bergerak dengan leluasa."
"Lo pasti bisa Mel, tahan rasa sakit Lo, dan raih mimpi yang selama ini Lo ukir...!!! Gue tau Lo ngga akan menyerah gitu aja." Iqbal memapahku.
Aku hanya bisa diam, kakiku sakit sekali. Memar biru terlihat begitu jelas. Tapi saat aku melihat Iqbal menangis, tiba-tiba semangat itu kembali muncul. Akan kuberikan yang terbaik Bal.
Kutahan rasa sakitku dan aku bergegas ke panggung, Nadine tampak terkejut melihatku. Namun kuacuhkan semuanya, kumaksimalkan gerakanku, dan di saat semuanya selesai, disaat itulah sakit itu semakin parah. Aku berhasil melakukan atraksi dengan sempurna. Dan saat para komentator menilai, disaat itu juga aku terjatuh. Kakiku terasa kaku, dan mungkin aku kembali pingsan karena keadaan kembali gelap.
*****
"Selamat pagi jagoanku..." sapa Iqbal saat aku membuka mata. Ia tersenyum, manis sekali. "Eittsss, ngga boleh bangun, kaki kamu masih sakit sayang..." ujarnya gemas.
Geli rasanya saat Iqbal mengucapkan kata sayang dan penuh penekanan itu. Tapi aku bahagia, hidupku yerasa berbeda sejak kehadirannya.
"Ciiee yang dapat piala bergilir..."
"Serius Bal...???" Pekikku tak percaya.
"Iya sayang, mana mungkin Iqbal bohong." Sepasang kekasih terlihat begitu mesra dengan membawa sebuah piala yang selama ini aku impikan.
"Mama... Papa..." teriakku tak percaya. Mereka langsung memelukku.
"Maafkan Mama ama Papa ya sayang, kita janji ngga akan pernah biarin kamu sendiri lagi... Makasih juga yaa Iqbal...."
"Loh kok Iqbal siihh....?"
"Ada deh..." Iqbal mencubit pipiku. "Apapun bakal aku lakuin asal kamu bahagia..."
"Ciiee... aki kamu ciiee...." aku langsung memeluk Iqbal. Yah aku rasa aku jatuh cinta pada penggemar rahasiaku.😍
EmoticonEmoticon