Terkadang aku ingin pergi, lari
dari kenyataan ini. Namun jika itu aku lakukan, aku hanyalah menjadi seorang
pecundang. Dan bukan itu yang diharapkan keluargaku selama ini. Mereka yang
terus berjuang untukku, berharap agar aku bisa menjadi orang yang berprestasi
dan berguna untuk semua orang yang kutemui.
Kini aku hanya bisa berbagi pada
daun padi yang selalu menyapaku setiap pagi. Bercerita pada angin yang selalu
menyejukkan hatiku. Dan berkeluh kesah pada langit yang tak pernah bosan
mendengar curahan hatiku. Sawah ini, jalan kecil setapak yang tiap hari
kulalui, menjadi saksi perjuanganku tuk menggapai cita-cita yang selama ini
kuukir di langit tertinggi.
***
"Nay, selamat ya. Gue denger
minggu depan Elo mewakili sekolah kita ke perlombaan tingkat Provinsi ya? Keren
Nay...!!!" Puji Riska saat kita berjumpa di pintu gerbang sekolah.
Aku hanya bisa tersenyum, Di
sekolah hampir semua orang memujiku, menghargaiku, dan mereka begitu baik
denganku. Ya Allah, inikah alur kehidupan yang telah Kau takdirkan untukku? Dua
sisi kehidupan yang berbeda yang harus kulalui setiap harinya.
"Nayla...!!!" Alisa
berlari ke arahku. "Ceileh, pagi-pagi udah cemberut." Gadis cantik
itu menarik kedua pipiku sehingga membentuk sebuah senyuman.
"Smile..."
Alisa memang selalu bisa membuatku
tertawa, aku bersyukur mempunyai seorang sahabat sebaik dia. Sahabat yang
selalu memahami keadaanku. Seorang sahabat yang selalu membuatku tersenyum
saatku terluka.
"Lis, gue boleh pinjem hp ga?
Gue kangen sama Mamah nih."
Alisa mengangguk, ia memberikan
handphonenya. "Sejam lima ribu ya." Ia tertawa menggodaku. "Eh
ngga jadi, tapi Lo harus ngerjain PR Fisika gue." Gadis itu melangkah
pergi.
Aku bergegas masuk kelas, suasana
masih sepi sehingga aku bisa leluasa untuk menelfon orangtuaku. Hanya mereka
obat penawar kegalauan hatiku, nasehat mereka yang mampu membuat semangatku
kembali.
"Asalammualaikum Mah, apa kabar?"
"Waalaikumsalam Nak,
Alhamdulillah kabar Mamah baik. Maaf ya, ngga bisa nelfon lama. Masih ada
pesanan yang harus Mama selesaikan. Jangan pernah menyerah Nak, kepahitan hidup
akan membuatmu semakin kuat. Jangan dengarkan apa kata teman-temanmu, terus
melangkah dan tunjukan bahwa kamu bisa berprestasi dan membawa nama baik panti.
Jangan pernah mengeluh, karena itu membuatmu semakin menderita."
Sebulir air mata mengalir dari
pelupuk mataku, saat Mama mengakhiri nasehatnya. Mama benar, mengeluh membuatku
semakin menderita. Masalah demi masalah yang terjadi di panti seharusnya
membuatku semakin kuat. Aku harus bisa menghadapi semuanya.
"Nay, Elo tenang aja. Badai
pasti akan berlalu kok, ini semua Ujian buat Lo Nay. Dan gue yakin Elo pasti
kuat." Alisa memelukku.
"Makasih Al..."
***
"Jadi orang biasa aja dong,
jangan seperti buah kedondong. Luarnya baik, tapi dalemnya busuk!" Ujar
Mels saat semua tengah berkumpul di asrama.
Ya, kata-kata itu yang setiap hari
kudengar. Perumpamaan-perumpamaan yang sengaja ditunjukkan untukku. Dan sampai
sekarangpun aku tak mengerti, apa yang membuat mereka menjauhiku seakan aku ini
virus mematikan yang harus dijauhi.
Mereka tampak baik hanya ketika
ada Ibu, bahkan mereka tak segan-segan menyalahkanku saat Ibu marah. Sebagai seorang
ketua, aku dijadikan sebagai umpan di setiap ada permasalahan. Dua tahun
diperlakukan seperti itu membuatku kuat. Aku yakin pada suatu hari nanti, aku
akan mendapatkan sebuah kebahagiaan tersendiri.
"Bangga banget sih, padahal
cuman mau mengikuti perlombaan tingkat Provinsi!!! Paling juga kalah, bikin
malu panti aja." Suara Mela kembali terdengar. Namun tak ada seorangpun
yang menyahut, mereka tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Kak, sukses yaa buat
lombanya besok!" Ujar Melisa.
"Melisa...!!!" Teriak
Mela marah. "Elo..." cewek itu mulai mengancam.
"Kenapa Kak? Melisa udah muak
dengan semua aturan Kak Mela! Lebih baik berteman dengan Kak Nayla yang udah
jelas memiliki segudang prestasi, dari pada dengan kakak yang selalu
mengajarkan kedengkian." Ujar Melisa. "Silahkan kak Mela mau ngancem
aku, aku ngga peduli. Bahkan kalau sampai harus keluar, gpp aku akan
menjelaskan kepada Ibu apa yang terjadi di asrama ini." Ujar Melisa emosi.
"Ok!!! Itu yang Elo mau! Tapi
temen gue masih banyak Melisa! Dan Elo cuma berdua sama Nayla!"
"Aku ngga yakin deh
Kak," Melisa tersenyum sinis. "Karena kita, terutama kelas X lebih
memilih kak Nayla."
"Kalian semua pengkhianat!!!
Munafik!!! Gue benci sama kalian!" Mela membanting pintu asrama dan
bergegas pergi.
"Maafin kita ya, Kak."
Ujar Melisa mewakili teman-temannya. "Selama ini kita udah jahat sama Kak
Nayla. Jujur Kak, kami iri sama Kakak. Kak Nay bisa dekat dengan Ibu, kak Nay
memiliki prestasi yang membanggakan, selain itu kak Nay juga cantik."
Aku hanya bisa tersenyum. Dan
ternyata mereka menjauhiku karna iri dengan apa yang kumiliki. Dan aku baru
menyadarinya. Untuk yang pertama kalinya aku merasa memiliki keluarga di asrama
ini.
"Kita juga minta maaf
Nay." Ujar Lisa diikuti anggukan Desi, Maya, dan Amel. Mereka teman
seangkatanku. Mereka juga sering menyindirku, tapi ngga separah Mela.
"Kedengkian membuat kita begitu jahat."
Air mata mengalir dari pelupuk
mataku, terima kasih ya Allah. Engkau telah memberiku kesempatan untuk dekat
dengan mereka di penghujung waktuku berada di sini. Mereka yang sempat menjadi
motivator agar aku tetap kuat, mereka yang sempat membenci kelebihan yang
kumiliki. Namun sesungguhnya hati mereka lembut, selembut awan di angkasa.
***
Akhirnya Olimpiade Sains Nasional
Fisika tingkat Provinsi telah usai, dan aku berhasil menyabet juara pertama.
Satu demi satu mimpi-mimpi kecilku mulai terwujud. Allah begitu adil mengatur
hidupku. Aku dilatih untuk tetap bersabar menghadapi kepahitan yang selama tiga
tahun ini menyiksaku. Namun aku juga dipertemukan dengan orang-orang hebat yang
membuatku terus termotivasi untuk tetap berprestasi. Mereka yang setia
menuntunku menggapai mimpi-mimpi kecilku.
"Selamat ya, Nak." Pak
Handoko memakaikan medali emas yang kuperoleh. "Perjuanganmu masih
panjang! Terus belajar dan pantang menyerah!"
"Saat kau menangis, hatimu
akan menjadi lemah. Jadi, tetaplah tersenyum, karena senyuman itu membuatmu
kuat." Ujar Bu Naya.
"Ciie, akhirnya bisa juga
jadi juara!" Alisa memelukku. "Nayla yang cengeng, akhirnya bisa bikin
gue bangga." Bisik Alisa. "Baik-baik disana ya, ngga boleh pasang
status galau! Ingat itu...!" Sebulir air mata mengalir dari pelupuk mata
Alisa. Ini untuk yang pertama kalinya aku melihat gadis itu menangis.
"Makasih ya Al, Loe selalu
bikin hidup gue lebih berarti. Elo tenang aja, jarak takkan pernah bisa
memisahkan persahabatan kita." Kami kembali berpelukan.
***
Saat kita memiliki kesempatan,
maka gunakanlah waktu sebaik mungkin. Karena kita tak pernah tau kapan malaikat
maut menjemput kita. Memaafkan orang lain yang pernah membuat kita terluka
memang bukan hal yang mudah, namun ketika kita bisa melakukannya, kita akan
menemukan sebuah keajaiban yang tak terduga.
Hari-hariku terasa bermakna kini,
akhirnya aku bisa merasakan indahnya kebersamaan anak panti. Bahagia saat
mereka menjadikanku sebagai seorang sahabat, dan seorang kakak bagi adik
angkatanku. Senang, saat kita bisa berbagi cerita dan bercanda bersama.
Dan ketika kebersamaan itu telah
terbangun, aku harus pergi meninggalkan semuanya. Ya begitulah kehidupan. Aku
yakin setelah ini, kerikil tajam yang lain sudah siap untuk kupijak. Namun aku
juga yakin, akan menemukan kebahagian lain yang akan menyapa di setiap
langkahku.
"Kamu beneran mau pergi
Nay?" Tanya Lisa tak percaya. "Apakah kepergianmu karena sikap kita
yang begitu jahat kepadamu?"
"Ngga Lis, semua ini ngga ada
sangkut pautnya dengan semua itu. Aku masih memiliki mimpi yang ingin aku
wujudkan. Maafin aku ya..."
"Tapi kak, kenapa secepat
itu? Baru seminggu kita baikan." Ujar Melisa sedih.
"Sekali lagi maaf ya Mel, aku
mendapatkan beasiswa di Jerman. Dan aku memang harus pergi sekarang. Lain
waktu, jika masih ada kesempatan Insha Allah kita akan kembali bertemu."
"Selamat ya, nak. Ibu bangga
sama kamu, terima kasih telah membawa nama baik Panti kita. Semoga Allah
memudahkan semua langkahmu."
Aku memeluk Ibu, beliaulah yang
mengajariku begitu banyak hal di panti ini. "Terima kasih Bu, dan maafkan
semua kesalahan Nayla selama berada di panti ini." Kuberikan sebuah
bingkisan kenang-kenangan.
Mimpi-mimpi yang selama ini
kuukir, seolah membentuk harmoni yang begitu indah. Bertahan saat kita
menghadapi kepahitan, membuat kita yakin bahwa kebahagian tengah menanti, walau
kita tak mengetahui batas waktunya. Dan pada akhirnya kita bisa mensyukuri, betapa
nikmatnya kebahagiaan setelah lika-liku kehidupan bisa kita lalui.
*****

EmoticonEmoticon