Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel sudah mulai terdengar, pertanda stasiun sudah tidak jauh lagi. Zahra melangkah perlahan-lahan, sesekali ia menyapa orang-orang yang berlalu lalang ataupun yang tengah bercengkerama di depan rumahnya. Jam menunjukkan pukul 08.15, pagi itu. Sang mentari perlahan-lahan mulai naik. Semburat sinarnya mengenai sisa-sisa embun yang masih menempel di dedaunan, indah sekali, tampak seperti permata.
Suasana stasiun Kutoarjo tampak ramai, maklum seminggu yang lalu liburan sedikit panjang. Liburan anak sekolah dan juga libur menyambut Bulan Ramadhan. Zahra duduk di ruang tunggu sembari memperhatikan sekelilingnya. Beberapa orang menawarkan untuk mengangkut barang bawaan mereka, ada beberapa calon penumpang yang menyetuji dan ada pula yang menolak.
"Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, tak peduli meski mengangkut beban berat seperti itu bisa merusak tubuh jika dilakukan terus-menerus. Tapi demi keluarga mereka tetap melakukannya. Seharusnya aku bersyukur, Allah memberikan pekerjaan yang layak untukku. Duduk di depan komputer, tanpa harus mengangkat beban seberat itu dengan bayaran yang tak lebih dari Rp 10.000." Batin Zahra sedih. "Kuatkan mereka yaa Allah, mudahkanlah rezeki mereka di bulan yang penuh berkah ini..."
Zahra menyeka air matanya yang hampir saja terjatuh, dulu ia sempat merasakan hidup dalam kekurangan. Ia bisa merasakan bagaimana perjuangan orang tuanya saat itu, dan ia bersyukur kini ia dan keluarganya bisa hidup lebih layak.
Pengumuman bahwa kereta Kutojaya Selatan jurusan Kutoarjo-Bandung membuyarkan lamunannya. Gadis manis berkerudung merah itu menyiapkan tiket dan bergegas memasuki loket pengecekan pertama.
Tepat pada pukul 09.20 kereta itu meluncur meninggalkan stasiun kutoarjo. Zahra terlihat begitu menikmati perjalanannya kali ini, untuk yang pertama kalinya ia melakukan perjalanan menggunakan kereta saat matahari masih memancarkan sinarnya.
Sebuah senyuman terukir indah di wajahnya saat kereta melewati sawah yang membentang luas, di sana juga terlihat para petani yang tengah bekerja. Bentangan hijau itu tampak seperti permadani hijau. Indah sekali.
"Mau kemana Teh?" Tanya seorang gadis cantik yang duduk berhadapan dengannya. Gadis berambut panjang itu sangat ramah, dan terlihat begitu cantik saat tersenyum. Kalau dilihat dia seumuran dengan Zahra.
"Mau ke Bandung Teh," jawab Zahra tak kalah ramah. "Teteh mau kemana?"
"Mau ke Bandung juga kok, santri Daarut Tauhiid yaa? Perkenalkan saya Dewi."
Zahra mengangguk, ia menjabat tangan Dewi. "Saya Zahra... Teteh kuliah di Bandung?"
Dewi mengangguk, "Sepertinya kita seumuran, panggil nama aja ya biar lebih akrab." Ia tersenyum. "Aku kuliah di UPI jurusan Psikologi semester 4. Kalau kamu?"
"Wahhh psikologi..." ujar Zahra kagum. Dulu ia begitu ingin kuliah di psikologi kedokteran, tapi takdir berkata lain. "Kalau aku udah kerja di Daarut Tauhiid. Asli Bandung?"
"Nggak, sama lah kaya kamu pendatang di Bandung. Wahh seneng yaa udah bisa kerja, udah bisa membiayai hidup sendiri. Di lingkungan pesantren lagi..."
"Alhamdulillah..." jawab Zahra diiringi dengan senyumnya yang manis.
*****
Zahra kembali asyik menikmati pemandangan, sesekali ia mengabadikan lukisan multi dimensi karya Sang Pencipta yang begitu indah.
"Kau tau, indonesiaku begitu indah. Lihatlah pematang sawah itu, lihatlah burung-burung kecil yang berterbangan saat petani menggoyangkan boneka swah, dengarlah gemricik air sungai yang merdu itu, dan tataplah birunya langit, juga pandanglah bukit-bukit hijau yang berdiri dengan kokoh. Temukan juga orang-orangnya yang ramah, yang tersenyum kepadamu dan menyapamu dengan ramah, meski kalian belum saling mengenal." Tulis Zahra di account Facebooknya.
"Zahra, kamu suka nulis yaa?" Tanya Dewi lagi.
"Iyaa, kok kamu tau?"
"Dari tadi aku perhatikan kamu begitu larut dalam menikmati pemandangan. Pasti banyak inspirasi yang kau dapatkan. Kakakku juga seorang penulis, dan ia juga melakukan hal yang sama sepertimu saat kami melakukan perjalanan."
"Oh yaaa...??? Iya Wi, perjalanan membuat imajinasiku melanglang buana. Banyak ide yang bisa kita temukan dari berbagai sudut."
"Wahhhh keren dong... dalam ilmu psikologi menulis adalah salah satu terapi untuk mengobati stress, kalau menurutmu apakah itu benar?"
"Bagiku semua itu benar Wi, soalnya nih ya kalau aku lagi BT, lagi banyak masalah, aku nulis aja, temanya juga seputar permasalahan yang aku hadapi, ketika menceritakan masalah itu, aku juga harus tau jalan keluarnya. Secara tidak langsung aku tau apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan masalahku."
"Oke aku paham, terus apa esensi yang kamu dapatkan dalam sebuah perjalanan?"
"Kalau kata Adeda mah ya, perjalanan itu melatih rasa empati. Misal nih ya, kita melihat seorang polisi yang tengah mengatur lalu lintas. Kalau kita biasa saja kita tidak akan menemukan sebuah pelajaran, tapi ketika kita berniat untuk mencari hikmah, akan ada secuil kisah yang akan kita dapatkan. Pernah ngga terfikir di benakmu, begitu beratnya tugas seorang polisi, ia harus mengorbankan waktunya bersama keluarga, bekerja dibawah terik matahari, dll."
"Tapi itukan tugas mereka, bukankah setiap pekerjaan memiliki konsekuensi?"
"Benar katamu, pekerjaan apapun memiliki resiko. Tapi disitulah kita belajar mengasah rasa empati kita. Ketika kita sudah bisa memiliki empati, kita tidak mudah menghujat ketika mereka melakukan suatu kesalahan. Empati membuat kita bisa menghargai dan menghormati orang lain."
Dewi terdiam, mencoba memahami penjelasan Zahra. Seorang penulis memang selalu bisa mengambil pelajaran dari sisi lain.
"Maaf aku terlalu banyak bercerita." Zahra tersenyum.
"Gpp Zahra, aku seneng bisa ngobrol sama kamu. Seneng yaa kalau bisa mengambil hikmah di setiap kejadian. Seperti Aa Gym atuh yaa..."
"Aku juga belajar dari Aa Gym, beliau selalu bisa mengambil hikmah di setiap kejadian sekecil apapun. Dan menjadi inspirasi untuk kami semua..."
"Baiklah, aku akan belajar mencari hikmah dibalik sebuah kejadian. Sepertinya aku mengantuk Zahra, silahkan kembali mentafakuri ciptaan Sang Maha Indah..."
Zahra tersenyum, dan ia kembali larut dalam indahnya pemandangan alam. Selain sawah, zahra juga melihat sungai di daerah Purwokerto yang lebar dan panjang. Ia tertidur ketika merasa lelah.
"Terima kasih ya Allah, Kau memberikan sebuah kesempatan kepadaku untuk menikmati keajaiban ciptaanMu, dan juga Kau pertemukan aku dengan orang-orang yang menjadi jalan kuperoleh inspirasi." Bisik Zahra sebelum ia terlelap dalam mimpi.
EmoticonEmoticon