Tentang Mimpi dan Perjuangan

  “Bagiku mimpi adalah sebuah pengharapan yang tak perlu dibayar dengan mahal. Mimpi adalah langkah awal perubahan, dan mimpi itulah yang selalu menguatkan ketika keputusasaan mulai menyerang. Mimpi membuatku bangkit dan menemukan langkah-langkah kepastian.”



Terlahir dalam kondisi serba cukup, tentunya bukan menjadi harapan. Namun itulah yang telah ditakdirkan Tuhan. Pasti ada sebuah pelajaran dibalik kepahitan, kesusahan dan kesedihan. Aku terlahir sebagai anak ke-4 dari lima bersaudara, dan disaat aku kecil, Allah menguji keluargaku dengan kesulitan ekonomi. Ayah tak mempunyai pekerjaan tetap yang bisa diandalkan hasilnya.

            Bersekolah tanpa uang saku, menjadi hal yang biasa bagiku dan ketiga kakakku saat itu. Karena bisa makan sehari tiga kali, bagi kami adalah nikmat tersendiri, walau hanya dengan menu makan yang begitu sederhana. Tapi yang membuatku bersyukur, ditengah kesulitan ekonomi itu, Ibu selalu menasehati kami agar tidak menyerah.

            “Ukirlah mimpimu setinggi langit, karena mimpi itu akan menjadi kekuatan untuk kalian bangkit saat terpuruk. Tunjukanlah bahwa kemiskinan tak menghalangi kalian untuk berprestasi.” Kata Ibu saat kami tengah belajar bersama.

            Tahun 2009 adalah tahun tersulit bagiku, saat itu aku duduk di bangku SMP, kondisi ekonomi keluargaku belum juga stabil. Terkadang singkong menjadi makanan pokok disaat tidak bisa membeli beras, dan memasaknya pun harus menggunakan kayu bakar. Karena saat itu minyak tanah sudah mulai langka dan harganya pun melambung tinggi. Sempat terfikir untuk menyerah dan berhenti sekolah, namun ketika melihat tulisan besar di kamarku, semangat itu kembali terpacu. Aku akan menunjukkan bahwa orang miskin sepertiku pun mampu mengukir prestasi. Lagi-lagi mimpi membangkitkan sebuah motivasi. Dan akhirnya saat pengumuman kelulusan, aku mendapat peringkat ketiga dengan rata-rata nilai 8,75.

            Ternyata ujian kepahitan itu tidak hanya sampai disitu, aku harus tinggal di sebuah Panti Asuhan agar tetap bisa melanjutkan sekolah. Masalah demi masalah baru pun mulai bermunculan, mulai dari dimusuhi teman seasrama, hingga harus keluar dari ruangan tes, karena belum membayar iuran sekolah dan juga penyakit kakak pertamaku yang semakin parah. Dan ketika aku pulang untuk meminta uang, Ayah tak mempunyai uang sepersenpun saat itu, dan Ibu sedang ke Bandung untuk mencari pekerjaan. Jujur hatiku hancur saat itu, aku tak tau apa lagi yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa menangis dalam perjalanan kembali ke panti.

            Dan disaat aku benar-benar pasrah, Allah membukakan Jalan-Nya, aku mendapatkan Rangking Pertama selama kelas X, aku terpilih untuk mengikuti berbagai lomba, hingga pernah mendapatkan juara I Olimpiade Ahmad Dahlan Bidang Study Fisika tingkat Kabupaten dan juara II Lomba Cerdas Cermat Pancasila tingkat Kabupaten Karanganyar. Tentunya untuk mendapatkan hal itu harus melewati berbagai rintangan. Aku harus bisa membagi waktu untuk belajar dan bekerja membersihkan Panti. Tangis dan Tawa datang silih berganti. Namun Aku tetap bertahan karena aku memiliki mimpi.

            Keberhasilan demi keberhasilan kecil mulai kuraih, satu demi satu bakatku mulai terasah, meski kondisi keluargaku belum berubah saat itu, namun aku bersyukur karena aku mendapatkan Beasiswa sampai kelas XII. Dan itu sudah cukup membuat kedua orangtuaku bangga. Bahagia rasanya saat pulang ke rumah dan membawa piagam prestasi, bahagia melihat mereka tersenyum penuh arti.

            Semua prestasi yang sempat kuraih, berawal dari mimpi. Dulu dalam tangisku, aku selalu bermimpi menjadi seorang siswa yang berprestasi. Bisa memberikan piala untuk kedua orangtua yang selama ini membesarkanku. Dan satu demi satu mimpi itu mulai terwujud. Bermimpilah, dan temukan sebuah keajaiban dalam setiap langkahmu.


EmoticonEmoticon