Ketika Cinta Menyapa di Kereta 2

Langit masih gelap, sang mentari mungkin masih enggan menampakkan sinarnya. Karena samar-samar cahaya bintang masih berkilauan. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa hawa dingin nan menyegarkan. Karena belum terkontaminasi pekatnya asap kendaraan.

Ayra merapatkan jaketnya, jam menunjukkan pukul 05.00 pagi itu. Suasana kota Bandung pun masih lengang, mungkin mereka tengah shalat subuh berjamaah di masjid. Sehingga taksi yang menghantarkannya ke stasiun Bandung, terasa lebih cepat. Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke stasiun.

Meski masih pagi, suasana Stasiun Bandung tampak ramai. Disetiap sudut terlihat orang-orang menanti keberang katan dengan berbagai bentuk bingkisan di sampingnya. Mudik memang selalu membawa cerita. Ayra tersenyum, kenangan setahun yang lalu kembali menyeruap dalam ingatannya. Gadis itu hanya mendesah panjang.

"Semuanya akan baik-baik aja Ayra..." batinnya menguatkan diri.

Namun sekuat apapun Ayra mencoba melupakan, tetap saja bayangan Ruvel yang terbayang. Sudah setahun ia menghilang tanpa kabar, ngga pernah aktif di Facebook. Mereka berdua benar-benar loss kontak.

Tepat jam 06.40 terdengar pengumuman bahwa penumpang bisa menaikki kereta Lodaya Pagi yang tersedia di jalur 5. Ayra melangkah perlahan-lahan, perasaannya masih campur aduk tak menentu. Kereta menyimpan cerita tersendiri untuknya.

***Ayra***

Aku sudah berusaha melupakan, melupakan kenangan yang pernah terlukis di memori otakku. Tapi semakin aku berusaha untuk melupakan, kenangan itu semakin mengakar.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, rasa-rasanya hatiku belum siap untuk menerima inspirasi. Tiba-tiba aku mendapat pesan dari Alfia, ia menyarankan aku mendengarkan Nasyid Mencintai Kehilangan, lagu yang katanya tengah populer saat ini.

Ada-ada aja sahabatku satu itu, dia kan tau aku lagi galau, eh malah disuruh dengerin lagu yang begituan. Awalnya aku ragu, tapi daripada terus-terusan melamun. Dan ternyata... Aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Yahhh, aku harus belajar mengikhlaskan. Meyakinkan hatiku, jika memang Ruvel jodohku, ia akan datang di saat yang tepat. Jadi semakin tertarik mendengarkan musik positive Kang Abay Motivasinger.

***

Akhirnya setelah menempuh perjalanan 10 jam lamanya, sampai juga di Temanggung. Ahhh,,, rindu rasanya berkumpul dengan keluarga.

"Asalammualaikum..." langkahku terhenti di depan pintu. "Ruvel...???" Pekikku terkejut. "Bunda Mala...???"

"Masuk dulu dong sayang," Mama melepaskan tas gendongku, dan menuntunku ke ruang tamu.

"Apa kabar sayang...?" Bunda Mala memelukku dengan erat.

Disampingnya Ruvel tersenyum menatapku. "Kamu emang banyak berubah Ra..."

Aku hanya tersenyum lalu duduk di samping Mamah dan Nenek. Ada apa ini...???

"Jadi gini Ra, maksud kedatangan aku ke sini..." ia menghirup nafas panjang. "Aku mau melamar kamu... Mamah kamu udah mengizinkan kok, dan Bunda juga setuju. Tapi semua keputusan ada di tangan kamu, siapkah kamu menjadi pendamping hidupku...?"

Keterkejutanku tadi belum seutuhnya menghilang, dan kini cowok di depanku ini, membuat debaran ini semakin cepat. Entah apa yang harus aku katakan saat ini. Semua ini bagai mimpi. Seseorang yang telah sekian lama menghilang tanpa kabar, tiba-tiba datang untuk meminang.

"Insha Allah, Ayra siap..." entah darimana, kata-kata itu meluncur begitu saja.

"Alhamdulillah..." ada raut kebahagiaan di wajahnya, di wajah Mama, Bunda Mala, dan juga Nenek.

***Ruvel***

Kutatap diriku di depan kaca, setelan jasko putih ini terasa begitu suci. Akhirnya, hari yang kutunggu-tunggu itu tiba. Setelah sekian lama aku menanti, berjuang menahan rasa ini agar tetap suci.

Dulu, aku sempat berfikir untuk menjadikannya seorang kekasih. Dia yang baik, cantik, dan mempesona. Namun aku takut, karena saat itu Dia tengah belajar memperdalam ilmu agamanya, ia tengah menjadi seorang santri yang tengah berjuang memperbaikki diri. Bagaimana mungkin, aku tega merusak konsentrasinya dengan cinta yang belum halal ini...?

Mungkin terasa menyakitkan baginya, karena dulu aku pernah mengungkapkan sebuah rasa. Mungkin saat itu dia membenciku, karena tetiba menghilang begitu saja. Walau kenyataannya, selama ini diam-diam aku memperhatikannya.

Dan aku pun berusaha melakukan hal yang sama, berusaha memperbaikki diriku, memantaskan diri ini agar suatu hari nanti bisa bersanding denganmu. Aku hanya berani memintamu dalam doa-doaku.

Hingga suatu ketika, kamu bertemu dengan Ibundaku, itu bukan sebuah kebetulan, itu semua skenario yang selama ini kususun. Dan ternyata Bunda sangat menyayangimu. Sikapmu yang lembut, Tutur katamu yang sopan dan menyenangkan, Tulusnya kasih sayangmu, membuat Bunda jatuh hati kepadamu.

Dari Bunda aku tau, aku masih tersimpan di hatimu. Kamu berhasil membingkai namaku dengan indah di hatimu. Setahun bukanlah waktu yang sebentar, namun selama itu kita sama-sama memantaskan diri, sama-sama mendoakan dalam diam, hingga akhirnya kita dipertemukan di pelaminan. Semoga, cerita ini menjadi sebuah kenangan yang indah untuk di kenang.

***Ayra***

"Ciiie, akhirnya...!!!" Alfia memelukku dengan erat. "Bahagia banget rasanya..."

"Makasih yaa Fi, selama ini kamu selalu support aku, bantu aku, ahhh,,, pokoknya kamu sahabat terbaik aku...!!!" Kubalas pelukannya. Hangat rasanya. Gadis ini yang selama ini membuatku nyaman, meski terkadang sifatnya menyebalkan.
"Jadi kamu kapan...?"

Alfia hanya nyengir kuda, "Doain aja yaa, yang terbaik pokoknya mah..."

"Ciie yang udah di khitbah,,," godaku, membuat pipi gadis yang di depanku ini merona merah. Cerita sahabatku satu ini tak kalah seru, perjuangannya luar biasa deh.😃

"Ciie yang lagi deg-degan...!!!" Sepertinya ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ruvel beruntung dapetin kamu, kamu cantik banget hari ini...!!!"

"Berarti selama ini aku ngga cantik..??"

"Engga...!!!" Alfia tersenyum puas melihat perubahan wajahku.

Untung ada Alfia, sehingga aku tak segugup tadi. setidaknya ada teman berbagi, sedikit membuatku lebih tenang. Aku baru tau, kenapa selama ini Ruvel menghilang tanpa kabar. Memang dulu aku sempat kecewa, bahkan membencinya. Cowok yang pernah kucap sebagai pemberi harapan palsu. Namun seandainya saat itu ia datang, mungkin kisahku takkan seindah ini.

Aku semakin percaya, bahwa rencana-Nyalah yang terindah.

***

Lagu Pernikahan Impian mengalun merdu memenuhi gedung itu. Di pelaminan, sepasang kekasih terlihat begitu mesra. Kebahagiaan terpancar kuat dari wajah mereka. Seolah terungkap kata, "Akhirnya halal juga..."

"Mentari pagi tersenyum tenangkan hati
Sebuah kisah akhirnya berakhir indah
Doa rinduku terjawab karena hadirmu
Kita bersama melangkah bahagia

Meski kita dipertemukan tak sengaja
Tapi ku yakin rencanaNya yang terindah
Untuk kita, lewatinya...

Aku menikahimu karena Allah mau
Telah lama ku menanti kehadiranmu dihati
Aku menikahimu karena cinta sejati
Ada dalam pernikahan impianku bersanding denganmu
Hoooo....hmmm

Kita kan saling menguatkan
Bersama sama membangun cinta
Meniti jalan ridhoNya..."

Untukmu yang tengah menanti, ketika ia belum juga nampak, kuatkanlah niat suci itu. Mungkin, Allah belum juga mempertemukan karena niat kita belum benar.


EmoticonEmoticon