Hijrah Cinta

Siluet sore itu tampak begitu indah, angin berhembus sepoi-sepoi, membawa hawa dingin khas pegunungan yang menyejukkan. Burung-burung berkicauan menyambut senja, dan kelelawar-kelelawar kecil mulai keluar dari sarang.

Suara gemricik sungai buatan membuat suasana sore terasa semakin damai. Sayup-sayup terdengar suara Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang sangat merdu dari surau. Suara Zahra, putri bungsu pemilik pesantren ini memang sangat merdu. Sesuai dengan pembawaannya yang sangat tenang. Gadis itu juga sangat cantik, dengan balutan busana syar'i, membuatnya terlihat sangat anggun.

Zahra menghentikan tilawahnya ketika jam menunjukkan pukul 17.00, gadis itu berjalan menuju sungai buatan dan duduk di sebuah saung tua yang terletak di pinggir sungai. Ia membiarkan kakinya basah terkena percikan air sungai yang sangat bersih. Ia mengamati sekelilingnya, pemandangan sore begitu indah.

Gadis itu mendesah, ada kerinduan yang tiba-tiba menyeruap di hatinya. Yahhh, Zahra merindukan masa-masa di pesantren tempatnya belajar dulu. Tiba-tiba ia teringat pada seseorang yang senantiasa mengingatkannya untuk hijrah.

Awalnya Zahra sempat membencinya. Sikapnya yang dingin, membuat gadis itu malas bertemu dengannya. Hingga suatu ketika, entah kenapa dia berubah, sikapnya tak sedingin dulu. Seiring berjalannya waktu, ia sering mengingatkan Zahra lewat media sosialnya. Bahasanya yang santun dan tanpa menggurui, membuat Zahra berani mengambil keputusan untuk berubah. Ia mulai menghapus foto-foto close up di Medsosnya, dan mulai aktif mengikuti kajian-kajian.

Diam-diam Zahra mulai mengaguminya. Rasa benci yang pernah ada, melebur menjadi sebuah rasa yang sulit untuk ditafsirkan lewat kata-kata. Terkadang ada rasa bersalah menyelimuti hatinya, niat hijrahnya mulai ternodai. Namun rasa itu terlanjur melekat di hatinya.

Hingga suatu ketika Zahra mendengar kabar bahwa dia akan segera menikah. Zahra hanya tersenyum saat mendengarnya, namun batinnya menangis. Ada rasa ketidakrelaan yang tiba-tiba muncul. Berhari-hari ia terpuruk dalam kekecewaan. Hingga pada akhirnya ia sadar, ia terlalu jauh berharap pada makhluk. Mungkin Allah cemburu, karna cintanya pada makhluk mengalahkan cinta kepada-Nya. Dan ini bentuk kasih sayang Allah, agar Zahra menyadari kesalahannya dan meluruskan kembali niat hijrahnya. Akhirnya, Zahra memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Mengabdi di pesantren yang di rintis oleh kedua orangtuanya.

"Astagfirullahaladzim..." bisik Zahra ketika mulai membayangkan wajah seseorang yang pernah mendominasi hatinya. "Cinta memang fitrah manusia, namun jangan sampai cinta itu membuat kita buta. Ketika hati lebih mencintai makhluk, di saat itulah kita akan terpuruk. Kutitipkan namanya yaa Rabb, Engkau yang Maha Tahu, mana yang terbaik untukku."

*****

Zahra memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya, ia lebih memilih untuk mengembangkan bakatnya dan membantu kedua orangtuanya mengembangkan program pesantren. Dan menulis adalah salah satu hobi yang terus ia kembangkan. Pengalaman hidupnya, dan secuil kisah tentang hijrahnya menjadi rangkaian cerita yang begitu apik. Seminggu yang lalu, ia telah menyelesaikan satu novel yang menceritakan tentang perjalanan hijrahnya.

"Zahra, sepertinya kamu belum seutuhnya bisa melupakan dia." tanya Umi setelah membaca novel karya putrinya itu.

Zahra hanya tersenyum, "Iya Mi, bagaimanapun juga lewat beliaulah Zahra berani berubah. Tapi Zahra akan terus belajar untuk melupakannya Mi."

Umi membelai putri kesayangannya itu, "Semakin kamu berusaha untuk melupakan, semakin kuat ingatanmu tentangnya. biarlah semua mengalir seperti air. Maafkanlah semua kesalahannya, dan ikhlaskan dia bersanding dengan orang lain. Umi yakin disaat yang tepat, Allah akan mempertemukan dengan pangeran impianmu."

"Insha Allah, doakan Zahra Umi... semoga hati ini senantiasa Ridho dengan segala TakdirNya."

"Teruslah berkarya, Nak. Semoga kesibukanmu bisa mengalihkan ingatanmu tentangnya. Dan ingat, novel yang kamu buat sudah mulai beredar, bukan hal yang tak mungkin kamu akan menjadi orang yang populer. Tapi, Tetaplah menjadi Zahra yang rendah hati..."

***

Setahun berlalu, kini Zahra tak hanya menjadi novelis, ia mulai merambah dunia motivator. Namanya sudah mulai dikenal oleh publik. Ceritanya yang inspiratif memang mampu menyedot perhatiaan masyarakat. Ia sering keliling kota untuk mengisi talk show. Jadwalnya semakin padat kini.

Di tengah kesibukannya, Zahra menyempatkan diri untuk berkunjung ke pesantren yang menjadi jalan Ia hijrah. Ada sebuah keinginan yang selama ini ia pendam, di sudut hatinya masih tersimpan sebuah nama. Dan ia berharap bisa berjumpa, namun rupanya Allah mengatur skenarioNya dengan sangat indah. Sehari sebelum kedatangan Zahra, beliau pergi ke luar kota.

"Yaa Allah kenapa rasa ini mengakar begitu kuat, hamba takut yaa Rabb, ia lebih mendominasi hati hamba. Tunjukkan jalan terbaikMu yaa Rabb." Bisik Zahra di penghujung malamnya.

"Teteh punten, ada titipan surat buat teteh..." Mei memberikan sepucuk surat untukku. Mei adalah sahabat Zahra dulu ketika nyantri, dan sampai sekarang ia masih setia mengabdi di tempat ini.

Sepucuk surat beramplop pink shoft, bergambar bunga mawar, indah sekali. Zahra tertegun, siapakah pemilik surat ini? Kenapa tiba-tiba hatinya bergemuruh? Dan bulir-bulir air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Mungkinkah...?

Asalammualaikum Ukhti,

Bunga yang terindah adalah bunga yang tersimpan jauh di dalam hutan. Ia tersembunyi dan tak terlihat oleh kasat mata. Hanya mata hati yang bisa menemukannya. Bunga itu terlindungi, tak semua orang bisa menikmati keindahannya. Dan betapa bahagianya seseorang yang bisa mengambil bunga itu, pasti ia akan menjaga bunga itu baik-baik. Namun semua itu pilihan. Tapi saya yakin ukhti bisa memilih yang terbaik.

Jangan sampai popularitas dan duniawi menyibukkan diri, hingga melupakan keluarga ataupun kewajiban utama. Ukhti pernah berjanji, menghidupkan pesantren itu. Sudahkah dipenuhi? Cerita hijrah yang begitu inspiratif, akankah hanya menjadi sebuah kisah masa lalu?? Tanyakan pada hati, dengarkan pilihannya dan pernah takut untuk kembali...

Wassalam.

Aliran air semakin deras dari pelupuk matanya. Mungkin inilah jawaban terbaik dari Allah. Tak terasa sudah enam bulan Zahra tidak pulang ke pesantren, hanya berkomunikasi dengan kedua orangtuanya via handphone. Ia sibuk memberi pencerahan kepada orang lain, namun ia tak pernah menyadari jika cahaya hatinya mulai redup. Kesibukan menyita waktunya untuk bertafakur. Dan hampir saja ia melupakan janji yang pernah terucap.

"Teteh, semoga Allah memberikan yang terbaik." Bisik Mei sebelum Zahra pulang. "Doakan, jika memang dia yang terbaik. Lambat laun Allah akan mempersatukan."

Zahra memeluk sahabat kesayangannya itu, "Nuhun yaa Mei, doakan yaa semoga Allah memberikan yang terbaik."

"Aamiin. Hati-hati yaa teh, salam untuk Umi dan Abi. Insha Allah kalau ada waktu Mei maen ke sana."

"Diantos yaa Mei, aku pergi dulu. Asalammualaikum..."

"Waalaikumsalam teteh..."

Sepanjang perjalanan Zahra termenung, berkali-kali ia membaca surat itu. "Masih ada kepedulian," sebuah senyum simpul menghiasi wajahnya.

***

Zahra tak lagi menerima tawaran untuk menjadi motivator dan bintang tamu. Semua tabungannya pun ia sumbangkan untuk memakmurkan pesantren. Kini, ia lebih fokus menjadi pendamping santri menghafalkan Al-Qur'an. Dan ia terlihat lebih bahagia sekarang.

Suatu sore Umi mengajak Zahra mengobrol di Sura. Sudah lama mereka tak bersua karna kesibukan.

"Umi, maafkan Zahra. Jika ketenaran membuat Zahra lupa diri."

"Iya Nak, apa yang telah berlalu harus menjadi sebuah pelajaran. Umi ingin tau, jawab dari hati Zahra yang terdalam. Apa sih sebenarnya yang kamu inginkan?"

Zahra terdiam, "Niat Zahra salah Umi, bukan lagi untuk dakwah. Zahra ingin terkenal sehingga dia tau, jika Zahra sudah sukses sekarang. Karena sampai saat ini Zahra belum bisa melupakannya, Umi. Zahra fikir, setelah Zahra bisa seperti ini, beliau akan..."

"Bukan kepopuleran yang saya inginkan, tetapi sebuah kesederhanaan dan qanaah. Dan ketika saya diberi kesempatan untuk memilih, saya lebih memilih bunga mawar yang tersembunyi di hutan dari pada bunga yang berada di tepi jalan."

Zahra terdiam, kata-kata itu. Gadis itu tak berani menoleh. Meski dalam hati bertanya-tanya, kenapa dia ada di sini? Bukankah ia sedang berada di luar kota?

"Allah telah menjawab semua doa-doamu di waktu yang tepat." Ujar Abi seolah mengetahui apa yang putrinya fikirkan. "Dia yang kamu inginkan akan menjadi pendampingmu."

Mendengar penuturan sang Ayah, sebuah senyuman tersungging di wajah ayunya. "Alhamdulillah..." bisik Zahra dalam dekapan kedua orangtuanya.

***

"Saya terima nikahnya, Fatimah Az-Zahra binti Aryadi dengan seperangkat alat shalat dibayar tunai."

"Sah...?"

"Sah..." jawab hadirin serentak. "Alhamdulillah..."

Zahra bersujud syukur saat ia telah sah menjadi istri Syaiful. Rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya yang berseri-seri. Penantian itu terjawab sudah. skenario Allah sungguh sangat indah.

Hari ini gadis manis itu terlihat seperti bidadari, dengan gaun biru langit yang ia kenakan dan make up tipis yang menempel di wajahnya. Zahra yang tidak pernah memoles wajahnya, terlihat sangat berbeda kali ini.

"Ciie teteh, akhirnya... Barakallah sholehah." Ujar Mei. "Janji Mei sudah terpenuhi yaa, Mei udah dateng ke rumah. Afwan yaa teh, sebenarnya mah semua ini udah di rencanain sama Kak Iful. Dari awal mah beliau udah suka sama teteh, da sering cerita sama Mei. Kak Iful kan sepupu Mei..."

"Loh kok Mei ngga pernah cerita?"

Mei hanya tersenyum, "Tapi kan teh, ceritanya lebih indah sekarang."

"Alhamdulillah Mei, Subhanallah bahagia banget rasanya. Memendam rasa 2 tahun Mei, akhirnya terjawab juga."

"Padahal yang berniat menjadikan ia sebagai putri banyak, tapi ternyata dia masih menunggu yang di Bandung." Ujar Iful, membuat pipi Zahra merah merona. "Ini pipi atau tomat sih?" Iful mencubit pipi Zahra.

"Kak Iful...!!" Teriak Zahra kaget. Mungkin ia lupa jika Iful telah sah menjadi suaminya. "Oh iyaa lupa, kan udah sah yaa..." ujarnya sembari nyengir kuda.

"Ciie yang udah sah mah beda euyy... jadi obat nyamuk deh." Celetuk Mei lalu melangkah pergi.

Zahra dan Iful hanya tersenyum, keduanya saling memandang. Ada sorot kerinduan di mata keduanya. "Maukah kau menjadi pacar halalku?"

Gadis manis itu mengangguk. "Jadilah imam yang senantiasa membimbing langkahku." Bisik Zahra dalam dekapan suaminya.

"Maaf jika selama ini aku terkesan menjauhimu, karna aku tak mau membuatmu menunggu dalam ketidakpastian. Dan terima kasih karna kamu memilihku untuk menyempurnakan separoh agamamu."

*****


EmoticonEmoticon