Saat Kau dan Aku Menjadi Kita

Ada yang berbeda saat dia hadir dalam kehidupan. Dia yang berani meminta kepada orangtua, dia yang memberikan mahar terbaiknya, dia yang datang pertama tanpa cinta dan tanpa perasaan suka, dan dialah yang berniat membangun rumah tangga sesuai perintah-Nya.

Kehadiarannya membuat hidup semakin bermakna, karena ia telah menyempurnakan setengah agama. Ia sang Imam, yang senantiasa menasehati istri dengan lembut, dengan kesederhanaan, dan dengan keteladanannya. Saat bersamanya surga terasa dekat. Bercanda dengannya berbuah pahala, Bergandengan tangan dengannya penggugur dosa, Membersamainya, memperoleh sakinah dari Sang Maha Cinta.

Lelah sang suami ketika mencari nafkah terhitung jihad jika ikhlas, Letih sang istri mengurus rumah tangga adalah pernak-pernik untuk menjadi Bidadari Surga. Kenapa masih menunda?

Menikah membuka mata kita, mengasah hati untuk peka,  dan menuntut kita untuk mempelajari warna-warni dunia.  Setiap detik, setiap kejadian, seulas senyum, setetes air mata, menjadi media pembelajaran yang syarat akan makna. Saat dua hati memiliki visi dan misi yang sama, sebuah luka bisa menjadi bahagia, setiap kesusahan menjadi ladang amal bersama, dan semangat berbuat baik senantiasa menggelora, demi meraih Ridho-Nya.

Tatkala badai ujian menerpa, coba periksa dalam-dalam, tak ada salahnya kembali ke masa lalu, mencari kesalahan-kesalahan yang harus kita taubati. Mungkin ada cara yang salah, atau mungkin karena pernikahan bukan lagi Lillah. Ada yang mengatakan menikah karena saling jatuh cinta, tidak masalah sebenarnya, namun bukankah Allah yang mampu membolak-balik hati hamba? Maka, menikahlah dengan tujuan mencari Keridhoan Sang Maha Cinta.

Harus kita pahami bahwa kepahitan yang menimpa, diundang dari dosa-dosa yang belum kita taubati. Yakinilah bahwa kepedihan yang menimpa menjadi penggugur dosa jika keikhlasan memenuhi hati. Tidak ada yang berat dalam hidup ini, jika Allah menolong. 🙌Jangan takut untuk menikah.


EmoticonEmoticon