Jam menunjukkan pukul 20.30, suasana stasiun sedikit ramai malam itu. Ayra melangkah perlahan-lahan menuju kereta yang akan menghantarkannya ke kampung halaman. Sebuah senyuman tersungging di wajah ayunya.
"Selamat malam..." sapa seseorang dengan ramah. Ayra hanya tersenyum dan mengangguk untuk menghargai keramahnnya. Siapa lagi kalau bukan petugas, karena Ayra tidak mengenal siapapun di stasiun ini.
"Akhirnya, gue bisa pulang." Pekik Ayra dalam hati. Bahagia. Yah itulah yang dirasakan gadis berkulit sawo matang, bermata biru dan memiliki lesung pipit saat tersenyum. Manis. Sudah dua tahun ia merantau di Bandung. Dan hari ini, kereta Kutojaya Selatan akan menghantarkannya menuju kampung halaman yang selama ini dia rindukan.
Sayup-sayup terdengar suara peluit, pertanda kereta akan segera berangkat. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel mulai terdengar. Ayra memandang keluar, meski gelap namun cahaya-cahaya kecil itu nampak indah. Dan Ayra menyukainya, baginya perjalanan adalah saat yang terbaik untuk mencari inspirasi.
"Allah menciptakan mata untuk memandang, dan malam ini aku benar-benar merasakan begitu pentingnya mata ini. Aku bersyukur, terlahir dengan normal sehingga bisa menikmati Maha Karya sang Pencipta yang indah ini. Terima kasih yaa Allah." Batin Ayra saat melihat lampu-lampu kecil itu bertebaran di bukit. Tampak seperti bukit berbintang.
Tiba saatnya pengecekan tiket, tanpa sengaja matanya beradu pandang dengan salah satu dari petugas yang mengecek tiket. Satu, Dua, Lima... Sepuluh. Keduanya sama-sama mengalihkan pandangannya. Ayra menyerahkan tiketnya dengan gugup, entah kenapa secara tiba-tiba dadanya bergemuruh. Sorot mata itu...
Dia mengecek tiket Ayra sedikit lama, diam-diam Ayra memperhatikannya. Cowok dengan tinggi badan kira-kira 180 cm, berbulu mata lentik, berkulit sawo matang, dan memiliki gigi gingsul, terbalut dengan setelan jas petugas pengecekan tiket. Keren. Kalau dilihat, kira-kira dia berusia 22 tahun. Namanya Ruvel.
"Terima kasih..." Ruvel mengembalikan tiket Ayra. Dan meninggalkan sebuah senyuman yang begitu manis.
Ayra terdiam, ia meletakkan tangannya di dada. Detak jantungnya terasa lebih cepat. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. Walau ia masih bingung dengan apa yang ia rasakan. Mungkinkah ada rasa saat pandangan pertama???
Gadis itu mengambil handphonenya, membiarkan lagu-lagu menemani khayalannya malam itu. Ia sengaja tidak tidur, menyiapkan hati dan pikirannya untuk mengolah imajinasi.
"Siapapun kamu, jika memang takdirnya kita bertemu, pasti kita akan saling mengenal. Dan jika kamu adalah cinta yang selama ini aku cari, dimensi jarak dan waktu takkan bisa menghalangi pertemuan itu." Tulis Ayra dalam status facebooknya.
*****
"Ngga tidur?"
Ayra hanya menggeleng, bibirnya seolah kelu untuk berkata-kata. Ia hanya bisa tersenyum, saat cowok yang saat ini memenuhi otaknya menyapanya. Lagi-lagi dia tersenyum.
Di setiap stasiun ada penumpang yang baru, sehingga Ruvel bolak-balik untuk mengecek tiket. Dan ia selalu tersenyum saat melewati tempat duduk Ayra. Sebuah senyuman yang membuat Ayra gila.
"Senyum misteriusmu membuatku terpaku, membuatku berharap bisa mengenalmu lebih jauh." Batin Ayra. Lagu yang dibawakan oleh Mikha Tambayong membuat angannya semakin melayang.
Tiba-tiba hpnya bergetar, ada satu permintaan pertemanan di Facebooknya. Mata Ayra membelalak saat melihat namanya. Ruvel Martadinata. Mungkinkah itu facebook milik petugas pengecek tiket itu? Ayra langsung mengkonfirmasinya. Dan memang benar, facebook itu milik Ruvel. Ayra ingin berteriak saking bahagianya, tapi dia sadar ia berada di tengah-tengah keramaian.
"Maaf ya, aku ngeadd facebook kamu. Tadi pas ngecek tiket aku sempet ngafalin nama kamu, untung pas aku nyari di Facebook ada. Maaf kalau aku lancang. Salam kenal Ayra cantik." Tulis Ruvel di inbox. Dan cowok itu juga mengelike status yang Ayra buat.
"Salam kenal juga Ruvel. :)" balas Ayra.
Hatinya benar-benar berbunga-bunga malam ini. Ingin rasanya kereta ini berjalan lambat, namun harapannya pupus saat petugas mengumumkan kalau lima belas menit lagi kereta akan tiba di stasiun Kutoarjo. Ayra mendesah kecewa.
Tapi sedetik kemudian ia tersenyum saat membaca status Ruvel. "Jangan bersedih, rasa aneh yang tiba-tiba datang menyerang hatiku saat pertama kali melihatmu akan kujaga. Dan aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu, aku akan mencarimu. Satu jalan sudah terbuka, aku yakin akan ada jalan lain yang akan mempertemukan kita. Terimakasih untuk sebuah senyuman manis itu. Ayra."
"Rasa ini datang begitu cepat, dalam hitungan detik dia berhasil mencuri hatiku. Senyuman manis dan wajahnya yang teduh membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Akan kutunggu janjinya, aku yakin jarak dan waktu akan menjawab semuanya di waktu yang tepat. Sampai bertemu, ingatlah dimanapun kita berada, kita memandang langit yang sama." Ayra kembali meninggalkan sebuah status yang langsung dilike oleh Ruvel.
*****
Ayra melangkah perlahan-lahan saat meninggalkan stasiun, ia menoleh, terlihat Ruvel melambaikan tangannya seolah memintanya untuk tetap tinggal. Ayra berhenti berjalan, menunggu Ruvel yang berlari kecil menghampirinya.
Keduanya saling menatap dalam bingkai senyuman.
"Suatu hari nanti aku akan menemukanmu."
Ayra hanya mengangguk, "Aku akan menunggu hari indah itu."
"Terima kasih, maaf aku harus pergi." Ruvel memberikan setangkai bunga dan bergegas pergi saat sang masinis sudah memanggil namanya.
"Semoga kau senang dengan bunga itu..." teriaknya sebelum naik ke kereta.
Ayra tersenyum, ia baru beranjak saat kereta itu sudah tak nampak.
"Mungkin ini terlalu cepat, meski aku belum seutuhnya mengenal dia, tapi rasa ini begitu kuat. Dan jika dia memang yang terbaik, aku yakin dia akan memenuhi janjinya. Jika tidak mungkin ini hanya sebuah sandiwara. Sebuah episode tentang cinta."
Baca : Ketika Cinta Menyapa di Kereta 2
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

EmoticonEmoticon