![]() |
| Karena Hujan Mempertemukan Kita |
Siang itu langit tampak gelap.
Sepertinya tak lama lagi hujan akan turun dengan deras. Terbukti dengan suara
gemuruh yang menggelegar, disertai kilat putih yang menyambar di belakang
bukit. Angin berhembus sedikit kencang, menyapu daun-daun kering yang
berguguran tadi siang, membuat daun-daun kuning itu berterbangan di halaman.
Via terlihat asyik menikmati pemandangan itu, sebuah senyuman menghiasi wajah
ayunya. Gadis manis, kelas 2 SMA itu begitu menyukai hujan.
"Via, kenapa sih Lo suka
banget sama hujan?" Tanya Nabila disela-sela pelajaran Biologi.
"Hujan itu anugrah, Bil.
Bunga-bunga yang gue rawat bisa tumbuh dengan subur, dan itulah yang gue
tunggu-tunggu selama ini. Dan hujan juga yang menyembunyikan kesedihan yang gue
rasakan selama ini." Ujar Via bahagia, karena hujan mulai turun."Oh
iya, Bil. Kalian nanti duluan aja ya. Kayaknya gue masih ada bimbingan
deh."
"Oke Vi..." Nabila
kembali mencatat materi Biologi.
***
Langit sudah mulai menguning saat
Via selesai bimbingan mapel Fisika untuk perlombaan minggu depan. Namun hujan
belum juga reda. Via menengadahkan tangannya ke langit, bulir-bulir air hujan
menetes ke telapak tangannya. Gadis itu tersenyum, ia berniat menerobos hujan
yang cukup deras, namun tiba-tiba ada seseorang yang memayunginya.
Via menoleh, seorang cowok dengan
tinggi badan kira-kira 180 cm, bertubuh kekar, berambut cepak, memiliki gigi
gingsul dan dua lesung pipit di pipinya. Cakep. Cowok itu tersenyum menatap
Via. "Kalau Elo berniat menjadi juara, Lo ngga boleh hujan-hujanan."
Via tersenyum, "Kok kakak tau
kalau gue mau lomba?" Tanya Via heran, ia memanggil kakak karena cowok
yang berdiri di depannya adalah seniornya. Terlihat dari seragam yang ia
kenakan.
"Gue nglihat Lo keluar dari
Lab Fisika sesore ini, sendirian pula." Jawabnya simpel. "Dari pada
Lo ujan-ujanan dan jatuh sakit, mending pulang bareng Gue. Seenggaknya Lo ngga
kehujanan sampai halte."
Via mengangguk setuju, keduanya
berjalan beriringan menerobos hujan yang semakin deras. Kedua siswa itu
berjalan dalam diam. Sesekali Via membiarkan telapak tangannya basah terkena
air hujan. Dan cowok itu hanya tersenyum melihat apa yang Via lakukan.
"Hati-hati di jalan ya."
Ujar kakak kelasnya, saat mereka sampai di halte.
"Loh, kakak ngga naik bus?"
Cowok itu menggeleng, "Rumah
gue deket sekolah kok." Ia tersenyum. "Bye..."
Via menatap kepergian kakak
kelasnya hingga hilang di perempatan jalan. "Jadi dia ke halte cuman
nganterin gue? Dan bodohnya, gue mau aja. Padahal kan gue ngga pernah naik
bus!" Via menepuk jidatnya. Ia bergegas menghubungi supir ayahnya untuk
segera menjemputnya.
"Oh My God, gue sampai lupa!!! Ngga nanya
namanya siapa, bahkan gue belum sempat mengucapkan terima kasih. Duhhh...
kenapa gue jadi lemot gini sih?"
***
Via melangkah perlahan-lahan saat
menyusuri koridor kelas menuju perpustakaan. Gadis itu selalu memanfaatkan jam
kosong untuk membaca di perpustakaan.
"Hei..." bisik seseorang
saat Via mengambil novel.
Gadis cantik itu menoleh,
"Kakak...!!!" Pekiknya karna kaget.
Cowok itu langsung membungkam
mulut Via dengan tangan kanannya. "Ini perpustakaan Non, bukan
lapangan!!!"
"Maaf..." Via hanya
meringis. Dan juga salah tingkah, karena tiba-tiba ada rasa aneh yang
menyelinap dalam hatinya. "Kakak ngapain di sini?" Tanya Via
berbisik.
"Belajar atuh Non, masa makan
sih!!! Gue mau belajar Fisika, sepertinya gue butuh bantuan Lo deh..."
"Oke deh, itung-itung balas
budi kemarin. Oiya Kak, gue Via." Ia mengulurkan tangannya.
"Gue Rangga." Cowok itu
menjabat tangan Via. Keduanya tertawa kecil lalu bergegas ke ruang baca. Via
menerangkan pelajaran Fisika kelas XII dengan lancar, bahkan dia bisa membuat
cara kreatif untuk menghafal rumus. Dan penjelasan Via membuat Rangga lebih
paham sekarang. Namun bel pergantian pelajaran memaksa mereka untuk berhenti.
"Makasih ya Vi, sepertinya
gue harus privat sama Lo!" Ujar Rangga takjub. "Elo cocok jadi
dosen..."
"Amiiin..." Via
tersenyum. "Oke, kalau kakak butuh bantuan, dengan senang hati Via akan
bantu..." ujar Via saat mereka berjalan menuju kelas.
"Oiya, gue boleh minta pin
atau nomer Lo ga?" Tanya Rangga saat Via akan masuk kelas.
"Boleh..." Via
memberikan handphonenya.
Rangga mencatat nomor Via,
"Makasih buat hari ini. Bye...!!!"
***
"Ciie...ciie... gebetan
baru!!!" Goda Nabila. "Udah jalan bareng lagi, wahhh sejak kapan Lo
kenal cowok terus ngga cerita sama gue?!!"
"Bil, gue baru kenal Kak
Rangga kemaren. Dan tadi ngga sengaja ketemu di perpus. Jadi gini nih
ceritanya..." Via menceritakan semua yang terjadi kemarin.
"Ihhh... so sweet banget sih Vi!!!"
Teriak Nabila histeris. "Karena hujan yang mempertemukan, ciie...
lagi-lagi Lo punya cerita tentang hujan..."
Via tersenyum. Pertemuan itu
memang tak terduga dan terjadi begitu saja. Namun membekas di hati gadis manis
itu. Mungkin perasaan itu muncul terlalu cepat, namun Via juga tak mengerti
mengapa secepat itu perasaan aneh itu hadir menyapanya.
"Cakep kok Vi, cocok banget
sama Lo!!!"
"Apaan sih Bil..." pipi
Via memerah.
"Ga usah bohong deh, tuh pipi
ngga bisa ngeles keless...!!!" Bisik Nabila saat Bu Ratna sudah berdiri di
depan kelas.
***
Sejak saat itu, Via dan Rangga
semakin akrab. Mereka sering belajar bersama, bahkan mereka semakin dekat. Dan
mengenai Olimpiade, Via mendapatkan Medali Emas dalam OSN Fisika tingkat
Provinsi. Sebuah prestasi yang membanggakan.
Dan nilai-nilai try out Fisika
Rangga juga meningkat drastis. Nilainya selalu di atas delapan sejak ia belajar
bersama Via. Kebersamaan itu mungkin menumbuhkan benih-benih cinta, namun
keduanya sama-sama memendam perasaan dalam diam.
***
![]() |
| Semoga Hujan Hanya Mempertemukan |
Hari ini pengumuman kelulusan,
Rangga meminta Via untuk menemaninya mengambil hasil perjuangannya selama tiga
tahun.
"Gue ngga tau harus seneng
atau sedih hari ini, seneng karena akhirnya Kak Rangga bisa melewati ujiannya
dengan lancar, sedih karena setelah menerima pengumuman ini, mungkin kita
bakalan jarang ketemu..." batin Via dalam hati.
"Vi... Lo kenapa?" Tanya
Rangga khawatir saat melihat raut wajah Via yang tiba-tiba berubah menjadi
sedih.
Via mencoba tersenyum, "Gue
gpp kok Kak, cuman kelilipan aja." Ia menghapus air matanya yang mulai
mengalir.
"Vi, Elo jangan bohong... Elo
kenapa?"
Via terdiam, ia bingung harus
menjawab apa. Panggilan untuk semua kelas XII mengakhiri penderitaannya. Dan
tangisnya pecah saat Rangga melangkah meninggalkannya.
"Gue belum siap buat jauh
sama Kamu Kak, gue takut kehilangan kamu..." bisik Via nanar.
Langit yang sejak tadi mendung,
mulai menumpahkan airnya. Dan bumi pun menangis, seolah mengerti apa yang
tengah Via rasakan. Via menengadahkan tangannya ke langit, memutar memorinya
saat mereka pertama kali bertemu.
"Semoga hujan hanya
mempertemukan, dan tidak akan memisahkan..." ujar Via penuh harap.
"Gue lulus Via...!!!"
Teriak Rangga lalu memeluk Via. "Makasih ya berkat Lo, gue bisa memperoleh
nilai sempurna di bidang study Fisika...!"
"Serius Kak...?!!" Via
merebut kertas pengumuman Rangga. Tiga nilai sempurna menghiasi selembar kertas
itu. "Selamat ya Kak, Via bangga sama kakak!!!"
Rangga menarik tangan Via menuju
halaman, bergabung bersama teman-temannya yang lain. Menikmati kelulusan mereka
dengan guyuran air hujan.
"Lo masih inget ngga...?!!
Hujan yang mempertemukan kita sore itu..."
Via mengangguk, "Dan apakah
hujan juga yang akan memisahkan?"
Rangga menggeleng, "Ngga akan
ada yang memisahkan kita. Aku dan Kamu harus tetap menjadi Kita. Via, gue
sayang sama Lo..." Rangga menggenggam tangan Via. "Lo mau kan jadi
pacar gue...?"
Via tersenyum bahagia saat Rangga
menembaknya. Ia bersyukur, karena hujan hanya mempertemukan dan menyatukan
mereka. Secuil memori kembali terjadi saat hujan, dan hal itu membuatnya
semakin menyukai hujan.
*****
Author : Fatimah Alfi Ahsani


EmoticonEmoticon