Pesan Cinta dari Terumbu Karang

"Kau boleh melihatku kapanpun kau mau,
Bahkan ketika kau menyentuhku dengan kelembutan,
Aku takkan melukaimu...
Tapi aku mohon,,,
Jangan biarkan tangan kasarmu merusak lingkungan sekitarku...
Aku pun ingin hidup bebas sepertimu,,,
Bahkan aku ingin membahagiakanmu, dengan keindahanku...
Andaikan kau tau, ada banyak hal yang ingin kusampaikan kepadamu...

Bolehkah aku bercerita....?
Kini kehidupanku sedikit terganggu,
Sejak kehadiran cairan pekat yang meracuni sahabat-sahabatku,
Bahkan melukaiku,,,
Benda-benda yang melayang, yang kupikir temanku,,,
Ternyata tumpukan plastik yang mencemari lingkunganku...
Kenapa kau membuang mereka ke alamku...?
Dimana hatimu...???

Wahai manusia,,,
Jika kau tak mencegah tangan-tangan kasar itu,
Mungkin tak lama lagi lingkunganku akan hancur,
Takkan kau temui lagi keindahan terumbu karang,
Yang membawa pesan cinta dan keindahan..." 


Tetiba ingin menulis puisi ini, terinspirasi dari Perjalanan Wisata ke Pulau Tidung dua hari yang lalu. Tepatnya saat kegiatan snorkling. Masha Allah, ternyata sungguh indahnya dunia Terumbu Karang. Berbagai macam bentuk, beraneka rupa, sungguh menyenangkan ketika mata memandangnya. Dan juga berbagai ragam jenis ikan yang berwarna-warni, membuat pemandangan bawah laut semakin mempesona. Tak henti-hentinya hati ini bersyukur, memiliki kesempatan untuk menyaksikan semua ini secara langsung. 

Keluarga Besar Kopontren DT

Di sana airnya sangat jernih, memang sesekali terlihat plastik mengapung, namun tak separah di Jakarta. Bersyukur rasanya masih ada pantai yang bersih dan menyimpan sejuta keindahannya. Sungguh kontras ketika masih di sekitar pantai di Muara Angke. Sampah bertebaran di mana-mana, bahkan tumpukan sampah itu membentang bagaikan garis pantai. Sungguh menyedihkan, ;(

Orang membuang sampah di laut pun menjadi hal yang biasa, tak terlihat rasa bersalah di wajahnya. Kemarinpun sempat melihat beberapa kali ikan-ikan kecil mati terombang-ambing di bawa ombak. Bukankah itu sebuah peringatan  yang menandakan bahwa alam sudah mulai rusak. Dan ternyata yang merusak alam ini adalah tangan-tangan kasar kita. Astagfirullah...

Andaikan karang, ikan, lautan bisa berbicara, pasti begitu banyak makian yang kita dapatkan. Bacalah pesan alam, maka kamu akan menemukan sebuah pelajaran. Sebuah perjalanan bukan hanya untuk sekedar bersenang-senang dan melepaskan kepenatan karena rutinitas pekerjaan. Namun juga mempelajari, apa yang ingin alam sampaikan. Sehingga kita bisa lebih bijak mengelola alam.

Mungkin bencana tidak menimpamu saat ini, namun apakah kita tega meninggalkan bibit-bibit bencana untuk anak-cucu kita...??? Tak ada salahnya kita memulai hal yang kecil, tak membuang sampah sembarangan conntohnya. Ingat, hal yang besar, adalah tumpukan partikel-partikel kecil yang di hiasi dengan kesungguhan. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi...?
Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi...?
Apabila kamu ingin banyak belajar dari alam, jagalah ia dengan cinta dan kesungguhan. Maka alam akan memberikan kepadamu banyak pelajaran.

Pulau Tidung, 24-25 Mei 2016
Alfia's Journey                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     


EmoticonEmoticon