Seumur-umur
Via belum pernah dirawat di UGD ketika jatuh sakit, apalagi sampai di Ruang
Operasi. Ini untuk yang pertama kalinya Via memasuki Pintu Dua Dunia, antara
hidup dan mati. Dan ini adalah operasi perdananya.Via berharap setelah semua proses
ini selesai, ia tak lagi dihantui rasa bersalah. Gadis itu juga selalu
meyakinkan dirinya bahwa ia akan tetap bertahan hidup walau dengan satu organ.
Oleh karena itu dia berani mengambil keputusan yang membahayakan ini.
Sejam lagi proses pembedahan akan dimulai, ada sekelumit
rasa takut, nyalinya menciut saat mengamati peralatan medis di ruangan steril
ini. Beruntung bau alkohol semakin membuatnya mengantuk, mungkin semacam obat
bius, karena sesaat kemudian Via kehilangan kesadaran, dan entah kapan mata
sipit itu akan kembali terbuka. Sepucuk harapan semuanya akan berjalan dengan
lancar.
***
Hari ini hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang yang
mengenal Rangga. Semuanya berharap operasi berjalan dengan lancar dan ia bisa
terbangun dari tidur panjangnya. Kecelakaan itu hampir saja membuat nyawanya
melayang. Persediaan darah yang kosong dan sulitnya mencari darah yang sama
dengan miliknya membuat keluarganya pasrah. Namun ada seseorang yang dengan
sukarela menyumbangkan darahnya, dan tak ada yang pernah tau siapa malaikat
penolong itu. Dan ini untuk yang kedua kalinya kemudahan kembali berpihak pada
Rangga.
"Maafin gue Ga, secara ngga langsung gue adalah
penyebab kecelakaan ini..." bisik seorang gadis yang duduk di depan ruang
operasi. Ia merasa sangat bersalah karna kecelakaan itu terjadi saat Rangga
melihatnya berjalan mesra dengan cowok lain.
"Rani...?" Ujar Rangga
geram. "Gue baru tau kalau tempat les privat itu di mall...!!!"
"Rangga dengerin gue..." Rani mencoba
meraih tangan Rangga.
Cowok itu tersenyum sinis, "Ngga ada yang perlu lo jelasin...!!! Semuanya udah jelas...!!!" Bentak Rangga lalu berlari pergi.
Cowok itu tersenyum sinis, "Ngga ada yang perlu lo jelasin...!!! Semuanya udah jelas...!!!" Bentak Rangga lalu berlari pergi.
Lima menit setelah kepergiaanya, terdengar
dentuman yang begitu keras, dan seseorang terkapar di aspal dengan luka yang
cukup parah.
"Semuanya akan baik-baik saja Ran, doakan saja
semoga operasi Rangga berjalan dengan lancar..." tangan halus Mama Rangga
menghapus air mata gadis cantik itu. Ketulusan Calon Mertuanya, membuat hatinya
semakin sakit.
Sebulan lagi mereka akan tunangan, namun ia telah merusak
semuanya. Ia takut saat sadar nanti, Rangga akan sangat membencinya dan semua
impiannya hidup bersama lelaki pujaannya itu akan pupus. Tangis Rani pecah
dalam dekapan Mama Rangga.
“Maafin
Rani yaa Mah..."
“Sayang, ini semua sudah menjadi ketetapan dari Tuhan... Kamu yang sabar ya nak..."
“Sayang, ini semua sudah menjadi ketetapan dari Tuhan... Kamu yang sabar ya nak..."
***
Suster Tiara mengecek detak jantung Via, semuanya normal.
Namun sejak menjalani operasi pengangkatan ginjal dua hari yang lalu gadis
cantik itu belum juga sadar.
"Kamu memang seorang malaikat Via..." Suster Tiara
membelai rambut panjang Via dengan penuh kasih sayang. "Ketulusan cintamu
benar-benar membuatku terharu... Aku mungkin ngga akan sekuat kamu jika aku
yang berada di posisimu saat ini... Aku janji, aku akan membantumu menemukan
kebahagian sejati yang seharusnya kamu rasakan..."
Gadis yang diajak bicara masih saja diam, berbagai alat
bantu masih menempel di tubuhnya. Gadis itu belum melewati masa kritisnya.
Namun semua dokter di rumah sakit ini percaya bahwa Via akan bertahan.
Kedatangan Via di rumah sakit ini membawa cerita baru. Membuat semua orang yang
merawatnya begitu menyayanginya.
***
"Aku sayang kamu Kak, sayang
banget malahan... Tapi aku ngga bisa terus-menerus berada disamping kakak,
apalagi sebentar lagi kakak bakalan tunangan..." ujar Via sedih. Air mata
membanjiri wajahnya yang putih bersinar.
"Maafin Kakak Via..."
Rangga menggenggam jemari Via, ia tau pasti perasaan gadis di depannya hancur
mendengar kenyataan bahwa Rangga dan Rani akan segera bertunangan. Namun di
sisi lain hati Rangga juga hancur melihat orang yang sangat ia sayang menangis
karenanya.
"Tapi kakak tenang aja, Via
bakalan pergi jauh... Via ngga akan muncul-muncul lagi dalam kehidupan
kakak!!!" Gadis itu berlari pergi setelah mengucapkan kata-kata yang
membuat hati Rangga semakin sakit.
"Via tunggu...!!!"
Rangga terbangun dari mimpi buruknya. Namun kepalanya
mendadak pusing saat ia mencoba bangun.
"Syukurlah Nak, akhirnya kamu sadar juga..."
ujar sang Mama.
Rangga mengamati sekelilingnya, ia berada di kamar rumah
sakit. Apa yang terjadi dengannya sehingga bisa berada di tempat ini??? Dimana
Via??? Kenapa hanya ada Mama dan Rani di ruangan ini...?
"Apa
yang terjadi Mah..?"
"Kamu kecelakaan nak..."
"Kamu kecelakaan nak..."
Rangga mencoba mengingat sesuatu. Kecelakaan itu bermula
saat ia melihat hal yang tak seharusnya dilakukan oleh Rani. Ia marah dan
berlari begitu saja tanpa melihat jalanan sehingga sebuah mobil membuatnya
terlempar ke jalanan. Tapi bukankah saat itu dia juga bersama Via? Lalu dimana
gadis itu sekarang??? Rangga bahkan lupa kalau saat itu dia tidak sendiri. Dia
bersama Via.!!!
"Ngga
maafin aku..."
"Tinggalin gue Ran, gue pengen istirahat sendirian..."
Rani mendesah kecil, "Baiklah..." ujar gadis itu kemudian melangkah pergi.
"Tinggalin gue Ran, gue pengen istirahat sendirian..."
Rani mendesah kecil, "Baiklah..." ujar gadis itu kemudian melangkah pergi.
Rangga
mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Via, namun nomer Via tidak bisa
dihubungi. Hal itu membuatnya frustasi. Hari itu ia membuatnya menangis dan
dihari itu pula ia meninggalkan Via sendiri. Ia benar-benar jahat.
"Via... kamu dimana...?!! Please Vi, kasih gue
kabar... Yaa Allah, lindungilah Via dimanapun gadis itu berada..."
***
Kondisi Rangga semakin membaik, namun tidak untuk kondisi
hatinya. Sudah hampir seminggu, namun tak juga ada kabar dari Via. Hal itu
membuat Rangga stress, ia merasa bersalah dan juga kehilangan, saat sosok Via
tak ada disampingnya.
"Selamat pagi, saya akan memeriksa keadaan anda tuan
Rangga..." ujar Suster Tiara. Tanpa sengaja tatapannya tertuju pada sebuah
foto di layar hp Rangga.
“Apakah ini saatnya untuk menceritakan semuanya?" Tanya suster dalam hati. "Sepertinya ini waktu yang tepat.."
“Apakah ini saatnya untuk menceritakan semuanya?" Tanya suster dalam hati. "Sepertinya ini waktu yang tepat.."
"Tuan Rangga, ada yang harus saya ceritakan pada
anda... ini mengenai Via... Tapi saya mohon anda dengarkan cerita saya
baik-baik dan jangan memotong pembicaraan saya..."
"Dimana Via sus..? Kenapa dia begitu tega
meninggalkan saya, di saat saya hampir sekarat tanpa sebuah kabar...?
"Anda salah Tuan Rangga, selama anda koma Via yang
merawat anda, dan saat Anda kekurangan darah dia juga yang menyumbangkan
darahnya. Saat Rani atau keluarga anda yang lain menjaga, ia lebih memilih
untuk pergi. Namun saat semuanya pulang Anda tak pernah sendiri, karena dia
selalu ada disamping Anda. Hingga pada hari ketiga dokter mengatakan bahwa
ginjal Anda mengalami kerusakan yang cukup parah, ia menjadi orang pertama yang
mendonorkan ginjalnya. Dia bersikeras agar Anda selamat dan tetap bisa
bertunangan, walau nyawa Via terancam kini..." mata suster Tiara mulai
berkaca-kaca.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong saat Rangga
mendengar penuturan Suster Tiara. Tubuh Rangga menjadi lemas seketika. Air
matanya mengalir, berkali-kali ia menampar pipinya, berharap semua ini hanya
mimpi. Namun semua ini nyata. Hatinya terasa begitu perih. Ia sempat
berprasangka buruk pada gadis kecilnya, namun ternyata kini gadis itu tak
berdaya karena mengorbankan salah satu organ penting di tubuhnya.
***
Rangga menatap sosok di depannya, seorang gadis tengah
tertidur pulas dengan berbagai alat bantu yang masih menempel di tubuhnnya.
Wajahnya pucat pasi, namun bibirnya tetap menyunggingkan sebuah senyuman yang
mendamaikan.
"Maafkan aku Via..." sebulir air mata menetes
dan jatuh di tangan Via. "Kehadiranku membuat hidupmu menderita,
berkali-kali aku menyakitimu namun kau tetap saja tulus menyayangiku dan kini
kau mengorbankan nyawamu untukku..." Rangga menggenggam jemari Via.
"Bangunlah Vi, jangan membuatku semakin merasa
bersalah... Via sayang, aku masih butuh kamu, bangun yaa dek..."
Tiba-tiba alarm di kamar Via berbunyi nyaring.
"Maaf Tuan kami harus memeriksa Via, karena kondisi
kesehatannya semakin drop..." ujar suster Tiara panik. "Via harus
mendapatkan perawatan intensif di ruang UGD..."
Beberapa suster turut membantu proses pemindahan Via,
detak jantungnya semakin lemah dan terjadi penyumbatan pembuluh darah di
beberapa bagian tubuhnya pasca operasi pengangkatan salah satu ginjalnya.
"Bertahanlah Vi, izinkanlah aku kembali
menjagamu..." bisik Rangga sedih.
Tanpa Rangga sadari Rani mendengar semua pembicaraan
Rangga dengan Suster Tiara. Ia baru menyadari bahwa sesungguhnya Rangga dan Via
masih saling menyayangi. Bahkan Via rela mengorbankan salah satu organ penting
tubuhnya demi keselamatan Rangga. Dan sekarang kondisi gadis itu kritis. Rasa
marah, benci, rasa bersalah, berkecamuk menjadi satu di hati Rani. Ia bingung,
apa yang harus dia lakukan sekarang. Ia hanya bisa pasrah dengan apapun yang
terjadi nantinya
***
Akhirnya setelah melalui beberapa operasi kecil, kondisi
kesehatan Via kembali stabil. Bahkan gadis manis itu sudah sadar dari komanya.
"Suster, bagaimana keadaan Kak Rangga? Dia sudah
sembuh kan..?" tanya Via saat menikmati sarapan paginya.
"Via,,, bukannya menanyakan bagaimana kondisi
kesehatan kamu, malah orang lain yang kamu pertanyakan..."
"Via udah sehat suster lihatlah..." Via
tersenyum senang.
"Kamu bisa seceria itu Via? Padahal kamu tau kamu
kehilangan kemampuan berjalan..." ujar
Suster Tiara sedih.
"Hanya ngga bisa berjalan suster,,, Via masih bisa
bernafas, masih bisa bercuap-cuap ria dan masih bisa bertemu kak Rangga
tentunya..."
Senyum
Via mengembang saat mengucapkan nama Rangga.
Sepertinya gadis itu begitu merindukan sosok Rangga.
"Baiklah, kita ke kamar kak Rangga yuk..."
suster Tiara membantu Via duduk di kursi roda dan membawanya ke kamar pasien
dimana Rangga dirawat.
"Kak Rangga...!!!" Teriak Via senang saat
melihat keadaan kakak kesayangannya sudah hampir pulih 100%.
"Via... aku merindukanmu sayang..." Rangga
langsung memeluk Via. "Akhirnya kamu bangun juga, nyenyak banget sih
tidurnya, mimpiin kakak yaa..."
Via tersenyum, "Mimpiin kakak ngga yaa...?" Via
pura-pura berfikir.
"Tuh kan..." Rangga pura-pura cemberut.
"Oh jadi udah ada orang lain,? Ok... Fine...!!!" Ujar Rangga
pura-pura marah.
"Iya kak Rangga yang ganteng, Via selalu memimpikan
kakak kok! Puas..??"
Rangga
mencubit pipi Via dengan gemas. Akhirnya malaikat kecilnya kembali berada di
dekatnya. " Kita ke taman yuk..."
Via mengangguk setuju, sudah lama ia tidak merasakan dunia luar. Rangga mengajaknya ke taman rumah sakit. Mereka bermain-main sebentar, kemudian beristirahat di bawah pohon beringin yang cukup rindang.
Via mengangguk setuju, sudah lama ia tidak merasakan dunia luar. Rangga mengajaknya ke taman rumah sakit. Mereka bermain-main sebentar, kemudian beristirahat di bawah pohon beringin yang cukup rindang.
"Vi,
maafin kakak ya, gara-gara kakak kamu jadi kaya gini..."
"Kakak ngomong apa sih? Kan kakak butuh bantuan kan,
yaa Via sebagai adik yang baik harus membantu dong..." gadis itu
tersenyum.
"Kak Rangga jangan cengeng dong..." Via
menghapus air mata Rangga. "Jangan bikin benteng pertahanan Via hancur
kak, tetaplah tersenyum kalau Kak Rangga sayang sama Via..." mata Via
mulai berkaca-kaca.
"Selama ini kakak selalu membuatmu menangis dan
terluka Vi, tapi kenapa kamu tetap menyayangi kakak dengan tulus? Kamu rela
menjadi kekasih gelap kakak, kamu rela cemburu saat kakak jalan sama Rani,
bahkan kamu rela mengorbankan separuh nyawamu demi terlaksana pertunangan itu
Vi..."
Air mata Via mulai berjatuhan, benteng yang selama ini
dia bangun hancur berantakan. "Kalau Via menuruti keegoisan Via, bisa saja
Via menghancurkan hubungan kakak dengan Kak Rani agar kak Rangga seutuhnya
menjadi milik Via. Tapi cinta tak seperti itu kak, cinta itu suci, jangan
dinodai dengan kejahatan. Via sayang sama kakak, sayang banget malahan. Via
ingin memiliki kakak, tapi Via sadar kakak sudah memiliki pilihan. Dan cinta
menghargai semua itu kak..."
"Tapi Vi..."
"Kak percaya sama Via, kak Rani itu cinta pertama
dan terakhir kakak. Via ikhlas kok dan Via bahagia melihat Kak Rangga bahagia.
Lagian Via akan pergi kak, Via ngga akan pernah muncul dalam kehidupan kakak
lagi..."
"Maksud Via...?"
Via tersenyum, pandangannya menerawang ke awan. "Ada
pembengkakan aliran darah di tubuh Via pasca operasi, dan dokter memprediksi
umur Via ngga akan lama lagi. Oleh karena itu Via mohon, percepat pertunangan
itu agar Via dapat melihat kakak bahagia..."
"Ngga Via, kamu ngga boleh pergi...!!! Kamu harus
sembuh...!!!"
Via
menggeleng, "permintaan Via cuma satu Kak, percepat pertunangan itu kalau
kakak emang sayang sama Via. Minggu depan Via ulang tahun dan mungkin itu
moment yang tepat untuk kakak melaksanakan pesta pertunangan itu...Biarkan Via
pergi dengan kebahagiaan Kak, bukan dengan sebuah kekecewaan..."
***
Malam itu suasana di rumah Rangga begitu berbeda, taman
belakang yang cukup luas disulap menjadi Garden Party. Hari ini adalah acara
tunangan Rangga & Rani dan juga ultah Via yang ke-20. Konsep acara tampak
begitu mewah dengan nuansa Peach dan Pink yang mendominasi.
Rani dan Vania mengenakan gaun yang sama, sebuah gaun
pesta berwarna Peach dengan taburan mutiara di beberapa bagian, mereka
mebiarkan rambut panjangnya tergerai dihiasi mahkota bunga dengan warna yang
senada, kedua gadis itu tampak seperti bidadari, cantik sekali.
Rani tampak begitu bahagia, wajahnya merona, akhirnya
semua yang ia harapkan menjadi kenyataan. Menjadi calon Ibu bagi anak-anak
Rangga kelak. Dan ia juga sangat berterima kasih pada Via yang membuat mereka
bersatu kembali.
"Via
setelah ini kamu harus menjadi adik aku, tinggalah bersamaku agar aku tak
kesepian di rumah..."
Via hanya tersenyum menanggapi permintaan Rani.
"Ayolah Via, izinkan Aku membalas semua
kebaikanmu..." Rani menggenggam tangan Via. "Maafin aku Via, dulu aku
sempat benci sama kamu dan berfikir kamulah yang merusak semuanya..."
"Seharusnya Via yang minta maaf Kak Rani, Via udah
masuk dalam hubungan kak Rani sama Kak Rangga..."
"Tapi sekarang kamu boleh kok tetap mencintai Rangga
Vi..."
Via menggeleng, "Ngga lagi Kak, cinta Kak Rangga
akan seutuhnya untuk Kak Rani. Titip kak Rangga ya kak, jangan pernah sakiti
hatinya lagi. Kakak mau kan janji sama Via..?"
"Janji deh..." Rani tersenyum. "Yuk kita
turun, sepertinya mereka sudah menunggu..." Rani mendorong kursi roda
Vania perlahan-lahan.
Semua mata tertuju pada kedua gadis cantik itu saat
keduanya memasuki ruang utama. Rangga menatap Via, gadis kecilnya itu tampak
begitu cantik. Namun hatinya nyeri karena ia tak akan lagi melihat wajah manis
penuh canda itu. Kemudian tatapannya beralih ke Rani, calon istrinya itu tampak
begitu dewasa dengan gaun yang ia kenakan. Ia bahagia mengenal dua gadis baik
yang begitu tulus menyayanginya.
"Ciiie yang mau tunangan..." goda Via.
"Awas aja ya kalau sampai ketahuan nglirik cewek lain, arwah Via ngga
segan-segan membantai Ka Rangga...!!!" Ancam Via serius.
"Arwah...???" Tanya Rani terkejut, "Maksud
Via...?"
Via
menepuk jidatnya perlahan, bodohnya dia bisa keceplosan. "Hehehe, bercanda
kak Rani sayang..."
Via melirik ke arah Rangga, tatapan kakaknya kali ini
terlihat begitu tajam. Via menunduk ketakutan, ia mendesah lega saat MC
mengumumkan acara akan segera dimulai, dan Kak Rangga serta Kak Rani yang mulai
melangkah meninggalkannya.
"Kamu
bahagia Via...?" Tanya suster Tiara.
Via
tersenyum, "Yaa suster sangat-sangat bahagia. Lihatlah mereka tampak
begitu serasi." Ujar Via saat keduanya saling
memakaikan cincin.
"Dear Love...
Kebersamaanku dengan kak Rangga memang cukup singkat, namun kebersamaan itu benar-benar membuatku menyayanginya. Aku tetap mencintainya walau saat itu kak Rangga telah berpacaran dengan Kak Rani. Bahkan aku rela menjadi kekasih gelapnya, karena aku tau kita masih memiliki rasa yang sama. Terkadang aku punya fikiran jahat untuk memisahkan mereka, dan Kak Rangga menjadi milikku seutuhnya. Tapi aku sadar semua ini terlalu egois. Apalagi saat aku mendengar Kak Rangga dan Kak Rani akan segera bertunangan. Hatiku sempat hancur saat itu, rasanya aku ingin menghilang dari dunia saat itu juga. Namun aku sadar, aku tak boleh menodai cinta suci yang tumbuh dihatiku.
Hingga suatu malam Kak Rangga melihat Kak Rani bergandengan mesra dengan cowok lain di mall yang sama. Kak Rangga menghampiri Kak Rani dengan emosi, entah apa yang mereka bicarakan, karena saat itu aku tetap bersembunyi. Dan kemudian Kak Rangga pergi meninggalkanku, dan di saat itu pula aku tau Kak Rangga kecelakaan dengan kondisi yang sangat parah. Aku melihat penyesalan Kak Rani saat di rumah sakit, karena saat itu diam-diam aku yang merawat kak Ranggaku, dan disaat itulah aku mengalah. Aku ingin menjadi orang pertama yang menjadi jalan agar Kak Rangga sembuh dan tetap melangsungkan pertunangannya. Dan akhirnya hari ini semua itu terlaksana. Aku sadar cinta tak harus memiliki, dan kurasa berkorban untuk cinta membawa makna tersendiri untukku..."
Kebersamaanku dengan kak Rangga memang cukup singkat, namun kebersamaan itu benar-benar membuatku menyayanginya. Aku tetap mencintainya walau saat itu kak Rangga telah berpacaran dengan Kak Rani. Bahkan aku rela menjadi kekasih gelapnya, karena aku tau kita masih memiliki rasa yang sama. Terkadang aku punya fikiran jahat untuk memisahkan mereka, dan Kak Rangga menjadi milikku seutuhnya. Tapi aku sadar semua ini terlalu egois. Apalagi saat aku mendengar Kak Rangga dan Kak Rani akan segera bertunangan. Hatiku sempat hancur saat itu, rasanya aku ingin menghilang dari dunia saat itu juga. Namun aku sadar, aku tak boleh menodai cinta suci yang tumbuh dihatiku.
Hingga suatu malam Kak Rangga melihat Kak Rani bergandengan mesra dengan cowok lain di mall yang sama. Kak Rangga menghampiri Kak Rani dengan emosi, entah apa yang mereka bicarakan, karena saat itu aku tetap bersembunyi. Dan kemudian Kak Rangga pergi meninggalkanku, dan di saat itu pula aku tau Kak Rangga kecelakaan dengan kondisi yang sangat parah. Aku melihat penyesalan Kak Rani saat di rumah sakit, karena saat itu diam-diam aku yang merawat kak Ranggaku, dan disaat itulah aku mengalah. Aku ingin menjadi orang pertama yang menjadi jalan agar Kak Rangga sembuh dan tetap melangsungkan pertunangannya. Dan akhirnya hari ini semua itu terlaksana. Aku sadar cinta tak harus memiliki, dan kurasa berkorban untuk cinta membawa makna tersendiri untukku..."
"Happy birthday Viaku sayang..." Rangga mencium
kening Via.
"Kita foto dulu yuk..." ujar Kak Rani antusias
sebelum Via meniup lilin. Ketiganya tampak begitu bahagia, terutama Via,
wajahnya memancarkan aura kebahagiaan yang mendamaikan.
"Kak
Rani, bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk berdua dengan kak Rangga?"
Tanya Via setelah memotong kue.
"Silahkan Via sayang..." ujar Kak Rani tulus.
Setelah mencium kening Via dan memeluk gadis manis itu, Rani melangkah
meninggalkan Rangga dan Via. Bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Rangga membawa Via ke taman samping, tempat favorit Via,
karena disana bunga mawar tumbuh dengan suburnya. Keduanya sama-sama diam,
tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Menikmati alunan musik klasik yang
mendamaikan.
"Kak Rangga... makasih yaaa buat semuanya. Kakak
membuatku mengerti makna cinta yang sesungguhnya..."
"Via, sampai saat inipun Kakak masih sangat
menyayangi Via..."
"Iya
Via tau kok... begitupun Via. Tapi berjanjilah untuk selalu ada disamping Kak
Rani apapun yang terjadi...Jangan pernah ada Via kedua setelah ini yaa!!!"
"Iya Via bawel...!!! Hei kamu sudah berusia 20 tahun
loh, tapi sikapmu masih saja seperti anak-anak..."
Via tertawa, "Terus masalah buat kakak?"
"Yaaa setidaknya kamu akan membuat kakak rindu saat
Via ngga ada di samping kakak..."
"Kakak tenang aja, meski raga Via ngga ada. Namun
Via akan selalu ada di sini, di hati Kak Rangga..."
"Terimakasih malaikat kecilku..." Rangga membantu
Via berdiri dan memeluknya.
"Aku mencintaimu Via, sangat menyayangimu... I Love
you so much..."
"Begitupun aku kak, Love you too..." bisik Via
lemah.
"Via, kamu...."
"Tetaplah seperti ini Kak, Via mohon..." ujar
Via terbata-bata, nafasnya mulai tidak teratur. Rangga begitu khawatir, namun
ia juga tak bisa menolak permintaan Via. Ia tetap memeluk gadis kecilnya itu.
*****
EmoticonEmoticon