Dear Love



Seumur-umur Via belum pernah dirawat di UGD ketika jatuh sakit, apalagi sampai di Ruang Operasi. Ini untuk yang pertama kalinya Via memasuki Pintu Dua Dunia, antara hidup dan mati. Dan ini adalah operasi perdananya.Via berharap setelah semua proses ini selesai, ia tak lagi dihantui rasa bersalah. Gadis itu juga selalu meyakinkan dirinya bahwa ia akan tetap bertahan hidup walau dengan satu organ. Oleh karena itu dia berani mengambil keputusan yang membahayakan ini.
Sejam lagi proses pembedahan akan dimulai, ada sekelumit rasa takut, nyalinya menciut saat mengamati peralatan medis di ruangan steril ini. Beruntung bau alkohol semakin membuatnya mengantuk, mungkin semacam obat bius, karena sesaat kemudian Via kehilangan kesadaran, dan entah kapan mata sipit itu akan kembali terbuka. Sepucuk harapan semuanya akan berjalan dengan lancar.
***
Hari ini hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang yang mengenal Rangga. Semuanya berharap operasi berjalan dengan lancar dan ia bisa terbangun dari tidur panjangnya. Kecelakaan itu hampir saja membuat nyawanya melayang. Persediaan darah yang kosong dan sulitnya mencari darah yang sama dengan miliknya membuat keluarganya pasrah. Namun ada seseorang yang dengan sukarela menyumbangkan darahnya, dan tak ada yang pernah tau siapa malaikat penolong itu. Dan ini untuk yang kedua kalinya kemudahan kembali berpihak pada Rangga.
"Maafin gue Ga, secara ngga langsung gue adalah penyebab kecelakaan ini..." bisik seorang gadis yang duduk di depan ruang operasi. Ia merasa sangat bersalah karna kecelakaan itu terjadi saat Rangga melihatnya berjalan mesra dengan cowok lain.
"Rani...?" Ujar Rangga geram. "Gue baru tau kalau tempat les privat itu di mall...!!!"
"Rangga dengerin gue..." Rani mencoba meraih tangan Rangga.
Cowok itu tersenyum sinis, "Ngga ada yang perlu lo jelasin...!!! Semuanya udah jelas...!!!" Bentak Rangga lalu berlari pergi.
Lima menit setelah kepergiaanya, terdengar dentuman yang begitu keras, dan seseorang terkapar di aspal dengan luka yang cukup parah.
"Semuanya akan baik-baik saja Ran, doakan saja semoga operasi Rangga berjalan dengan lancar..." tangan halus Mama Rangga menghapus air mata gadis cantik itu. Ketulusan Calon Mertuanya, membuat hatinya semakin sakit.
Sebulan lagi mereka akan tunangan, namun ia telah merusak semuanya. Ia takut saat sadar nanti, Rangga akan sangat membencinya dan semua impiannya hidup bersama lelaki pujaannya itu akan pupus. Tangis Rani pecah dalam dekapan Mama Rangga.
“Maafin Rani yaa Mah..."
“Sayang, ini semua sudah menjadi ketetapan dari Tuhan... Kamu yang sabar ya nak..."
***
Suster Tiara mengecek detak jantung Via, semuanya normal. Namun sejak menjalani operasi pengangkatan ginjal dua hari yang lalu gadis cantik itu belum juga sadar.
"Kamu memang seorang malaikat Via..." Suster Tiara membelai rambut panjang Via dengan penuh kasih sayang. "Ketulusan cintamu benar-benar membuatku terharu... Aku mungkin ngga akan sekuat kamu jika aku yang berada di posisimu saat ini... Aku janji, aku akan membantumu menemukan kebahagian sejati yang seharusnya kamu rasakan..."
Gadis yang diajak bicara masih saja diam, berbagai alat bantu masih menempel di tubuhnya. Gadis itu belum melewati masa kritisnya. Namun semua dokter di rumah sakit ini percaya bahwa Via akan bertahan. Kedatangan Via di rumah sakit ini membawa cerita baru. Membuat semua orang yang merawatnya begitu menyayanginya.
***
"Aku sayang kamu Kak, sayang banget malahan... Tapi aku ngga bisa terus-menerus berada disamping kakak, apalagi sebentar lagi kakak bakalan tunangan..." ujar Via sedih. Air mata membanjiri wajahnya yang putih bersinar.
"Maafin Kakak Via..." Rangga menggenggam jemari Via, ia tau pasti perasaan gadis di depannya hancur mendengar kenyataan bahwa Rangga dan Rani akan segera bertunangan. Namun di sisi lain hati Rangga juga hancur melihat orang yang sangat ia sayang menangis karenanya.
"Tapi kakak tenang aja, Via bakalan pergi jauh... Via ngga akan muncul-muncul lagi dalam kehidupan kakak!!!" Gadis itu berlari pergi setelah mengucapkan kata-kata yang membuat hati Rangga semakin sakit.
"Via tunggu...!!!"
Rangga terbangun dari mimpi buruknya. Namun kepalanya mendadak pusing saat ia mencoba bangun.
"Syukurlah Nak, akhirnya kamu sadar juga..." ujar sang Mama.
Rangga mengamati sekelilingnya, ia berada di kamar rumah sakit. Apa yang terjadi dengannya sehingga bisa berada di tempat ini??? Dimana Via??? Kenapa hanya ada Mama dan Rani di ruangan ini...?
"Apa yang terjadi Mah..?"
"Kamu kecelakaan nak..."
Rangga mencoba mengingat sesuatu. Kecelakaan itu bermula saat ia melihat hal yang tak seharusnya dilakukan oleh Rani. Ia marah dan berlari begitu saja tanpa melihat jalanan sehingga sebuah mobil membuatnya terlempar ke jalanan. Tapi bukankah saat itu dia juga bersama Via? Lalu dimana gadis itu sekarang??? Rangga bahkan lupa kalau saat itu dia tidak sendiri. Dia bersama Via.!!!
"Ngga maafin aku..."
"Tinggalin gue Ran, gue pengen istirahat sendirian..."
Rani mendesah kecil, "Baiklah..." ujar gadis itu kemudian melangkah pergi.
Rangga mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Via, namun nomer Via tidak bisa dihubungi. Hal itu membuatnya frustasi. Hari itu ia membuatnya menangis dan dihari itu pula ia meninggalkan Via sendiri. Ia benar-benar jahat.
"Via... kamu dimana...?!! Please Vi, kasih gue kabar... Yaa Allah, lindungilah Via dimanapun gadis itu berada..."
***
Kondisi Rangga semakin membaik, namun tidak untuk kondisi hatinya. Sudah hampir seminggu, namun tak juga ada kabar dari Via. Hal itu membuat Rangga stress, ia merasa bersalah dan juga kehilangan, saat sosok Via tak ada disampingnya.
"Selamat pagi, saya akan memeriksa keadaan anda tuan Rangga..." ujar Suster Tiara. Tanpa sengaja tatapannya tertuju pada sebuah foto di layar hp Rangga.
“Apakah ini saatnya untuk menceritakan semuanya?" Tanya suster dalam hati. "Sepertinya ini waktu yang tepat.."
"Tuan Rangga, ada yang harus saya ceritakan pada anda... ini mengenai Via... Tapi saya mohon anda dengarkan cerita saya baik-baik dan jangan memotong pembicaraan saya..."
"Dimana Via sus..? Kenapa dia begitu tega meninggalkan saya, di saat saya hampir sekarat tanpa sebuah kabar...?
"Anda salah Tuan Rangga, selama anda koma Via yang merawat anda, dan saat Anda kekurangan darah dia juga yang menyumbangkan darahnya. Saat Rani atau keluarga anda yang lain menjaga, ia lebih memilih untuk pergi. Namun saat semuanya pulang Anda tak pernah sendiri, karena dia selalu ada disamping Anda. Hingga pada hari ketiga dokter mengatakan bahwa ginjal Anda mengalami kerusakan yang cukup parah, ia menjadi orang pertama yang mendonorkan ginjalnya. Dia bersikeras agar Anda selamat dan tetap bisa bertunangan, walau nyawa Via terancam kini..." mata suster Tiara mulai berkaca-kaca.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong saat Rangga mendengar penuturan Suster Tiara. Tubuh Rangga menjadi lemas seketika. Air matanya mengalir, berkali-kali ia menampar pipinya, berharap semua ini hanya mimpi. Namun semua ini nyata. Hatinya terasa begitu perih. Ia sempat berprasangka buruk pada gadis kecilnya, namun ternyata kini gadis itu tak berdaya karena mengorbankan salah satu organ penting di tubuhnya.
***
Rangga menatap sosok di depannya, seorang gadis tengah tertidur pulas dengan berbagai alat bantu yang masih menempel di tubuhnnya. Wajahnya pucat pasi, namun bibirnya tetap menyunggingkan sebuah senyuman yang mendamaikan.
"Maafkan aku Via..." sebulir air mata menetes dan jatuh di tangan Via. "Kehadiranku membuat hidupmu menderita, berkali-kali aku menyakitimu namun kau tetap saja tulus menyayangiku dan kini kau mengorbankan nyawamu untukku..." Rangga menggenggam jemari Via.
"Bangunlah Vi, jangan membuatku semakin merasa bersalah... Via sayang, aku masih butuh kamu, bangun yaa dek..."
Tiba-tiba alarm di kamar Via berbunyi nyaring.
"Maaf Tuan kami harus memeriksa Via, karena kondisi kesehatannya semakin drop..." ujar suster Tiara panik. "Via harus mendapatkan perawatan intensif di ruang UGD..."
Beberapa suster turut membantu proses pemindahan Via, detak jantungnya semakin lemah dan terjadi penyumbatan pembuluh darah di beberapa bagian tubuhnya pasca operasi pengangkatan salah satu ginjalnya.
"Bertahanlah Vi, izinkanlah aku kembali menjagamu..." bisik Rangga sedih.
Tanpa Rangga sadari Rani mendengar semua pembicaraan Rangga dengan Suster Tiara. Ia baru menyadari bahwa sesungguhnya Rangga dan Via masih saling menyayangi. Bahkan Via rela mengorbankan salah satu organ penting tubuhnya demi keselamatan Rangga. Dan sekarang kondisi gadis itu kritis. Rasa marah, benci, rasa bersalah, berkecamuk menjadi satu di hati Rani. Ia bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang. Ia hanya bisa pasrah dengan apapun yang terjadi nantinya
***
Akhirnya setelah melalui beberapa operasi kecil, kondisi kesehatan Via kembali stabil. Bahkan gadis manis itu sudah sadar dari komanya.
"Suster, bagaimana keadaan Kak Rangga? Dia sudah sembuh kan..?" tanya Via saat menikmati sarapan paginya.
"Via,,, bukannya menanyakan bagaimana kondisi kesehatan kamu, malah orang lain yang kamu pertanyakan..."
"Via udah sehat suster lihatlah..." Via tersenyum senang.
"Kamu bisa seceria itu Via? Padahal kamu tau kamu kehilangan kemampuan berjalan..." ujar Suster Tiara sedih.
"Hanya ngga bisa berjalan suster,,, Via masih bisa bernafas, masih bisa bercuap-cuap ria dan masih bisa bertemu kak Rangga tentunya..."
Senyum Via mengembang saat mengucapkan nama Rangga. Sepertinya gadis itu begitu merindukan sosok Rangga.
"Baiklah, kita ke kamar kak Rangga yuk..." suster Tiara membantu Via duduk di kursi roda dan membawanya ke kamar pasien dimana Rangga dirawat.
"Kak Rangga...!!!" Teriak Via senang saat melihat keadaan kakak kesayangannya sudah hampir pulih 100%.
"Via... aku merindukanmu sayang..." Rangga langsung memeluk Via. "Akhirnya kamu bangun juga, nyenyak banget sih tidurnya, mimpiin kakak yaa..."
Via tersenyum, "Mimpiin kakak ngga yaa...?" Via pura-pura berfikir.
"Tuh kan..." Rangga pura-pura cemberut. "Oh jadi udah ada orang lain,? Ok... Fine...!!!" Ujar Rangga pura-pura marah.
"Iya kak Rangga yang ganteng, Via selalu memimpikan kakak kok! Puas..??"
Rangga mencubit pipi Via dengan gemas. Akhirnya malaikat kecilnya kembali berada di dekatnya. " Kita ke taman yuk..."
Via mengangguk setuju, sudah lama ia tidak merasakan dunia luar. Rangga mengajaknya ke taman rumah sakit. Mereka bermain-main sebentar, kemudian beristirahat di bawah pohon beringin yang cukup rindang.
"Vi, maafin kakak ya, gara-gara kakak kamu jadi kaya gini..." 
"Kakak ngomong apa sih? Kan kakak butuh bantuan kan, yaa Via sebagai adik yang baik harus membantu dong..." gadis itu tersenyum.
"Kak Rangga jangan cengeng dong..." Via menghapus air mata Rangga. "Jangan bikin benteng pertahanan Via hancur kak, tetaplah tersenyum kalau Kak Rangga sayang sama Via..." mata Via mulai berkaca-kaca.
"Selama ini kakak selalu membuatmu menangis dan terluka Vi, tapi kenapa kamu tetap menyayangi kakak dengan tulus? Kamu rela menjadi kekasih gelap kakak, kamu rela cemburu saat kakak jalan sama Rani, bahkan kamu rela mengorbankan separuh nyawamu demi terlaksana pertunangan itu Vi..."
Air mata Via mulai berjatuhan, benteng yang selama ini dia bangun hancur berantakan. "Kalau Via menuruti keegoisan Via, bisa saja Via menghancurkan hubungan kakak dengan Kak Rani agar kak Rangga seutuhnya menjadi milik Via. Tapi cinta tak seperti itu kak, cinta itu suci, jangan dinodai dengan kejahatan. Via sayang sama kakak, sayang banget malahan. Via ingin memiliki kakak, tapi Via sadar kakak sudah memiliki pilihan. Dan cinta menghargai semua itu kak..."
"Tapi Vi..."
"Kak percaya sama Via, kak Rani itu cinta pertama dan terakhir kakak. Via ikhlas kok dan Via bahagia melihat Kak Rangga bahagia. Lagian Via akan pergi kak, Via ngga akan pernah muncul dalam kehidupan kakak lagi..."
"Maksud Via...?"
Via tersenyum, pandangannya menerawang ke awan. "Ada pembengkakan aliran darah di tubuh Via pasca operasi, dan dokter memprediksi umur Via ngga akan lama lagi. Oleh karena itu Via mohon, percepat pertunangan itu agar Via dapat melihat kakak bahagia..."
"Ngga Via, kamu ngga boleh pergi...!!! Kamu harus sembuh...!!!"
Via menggeleng, "permintaan Via cuma satu Kak, percepat pertunangan itu kalau kakak emang sayang sama Via. Minggu depan Via ulang tahun dan mungkin itu moment yang tepat untuk kakak melaksanakan pesta pertunangan itu...Biarkan Via pergi dengan kebahagiaan Kak, bukan dengan sebuah kekecewaan..."
***
Malam itu suasana di rumah Rangga begitu berbeda, taman belakang yang cukup luas disulap menjadi Garden Party. Hari ini adalah acara tunangan Rangga & Rani dan juga ultah Via yang ke-20. Konsep acara tampak begitu mewah dengan nuansa Peach dan Pink yang mendominasi.
Rani dan Vania mengenakan gaun yang sama, sebuah gaun pesta berwarna Peach dengan taburan mutiara di beberapa bagian, mereka mebiarkan rambut panjangnya tergerai dihiasi mahkota bunga dengan warna yang senada, kedua gadis itu tampak seperti bidadari, cantik sekali.
Rani tampak begitu bahagia, wajahnya merona, akhirnya semua yang ia harapkan menjadi kenyataan. Menjadi calon Ibu bagi anak-anak Rangga kelak. Dan ia juga sangat berterima kasih pada Via yang membuat mereka bersatu kembali.
"Via setelah ini kamu harus menjadi adik aku, tinggalah bersamaku agar aku tak kesepian di rumah..."
Via hanya tersenyum menanggapi permintaan Rani.
"Ayolah Via, izinkan Aku membalas semua kebaikanmu..." Rani menggenggam tangan Via. "Maafin aku Via, dulu aku sempat benci sama kamu dan berfikir kamulah yang merusak semuanya..."
"Seharusnya Via yang minta maaf Kak Rani, Via udah masuk dalam hubungan kak Rani sama Kak Rangga..."
"Tapi sekarang kamu boleh kok tetap mencintai Rangga Vi..."
Via menggeleng, "Ngga lagi Kak, cinta Kak Rangga akan seutuhnya untuk Kak Rani. Titip kak Rangga ya kak, jangan pernah sakiti hatinya lagi. Kakak mau kan janji sama Via..?"
"Janji deh..." Rani tersenyum. "Yuk kita turun, sepertinya mereka sudah menunggu..." Rani mendorong kursi roda Vania perlahan-lahan.
Semua mata tertuju pada kedua gadis cantik itu saat keduanya memasuki ruang utama. Rangga menatap Via, gadis kecilnya itu tampak begitu cantik. Namun hatinya nyeri karena ia tak akan lagi melihat wajah manis penuh canda itu. Kemudian tatapannya beralih ke Rani, calon istrinya itu tampak begitu dewasa dengan gaun yang ia kenakan. Ia bahagia mengenal dua gadis baik yang begitu tulus menyayanginya.
"Ciiie yang mau tunangan..." goda Via. "Awas aja ya kalau sampai ketahuan nglirik cewek lain, arwah Via ngga segan-segan membantai Ka Rangga...!!!" Ancam Via serius.
"Arwah...???" Tanya Rani terkejut, "Maksud Via...?"
Via menepuk jidatnya perlahan, bodohnya dia bisa keceplosan. "Hehehe, bercanda kak Rani sayang..."
Via melirik ke arah Rangga, tatapan kakaknya kali ini terlihat begitu tajam. Via menunduk ketakutan, ia mendesah lega saat MC mengumumkan acara akan segera dimulai, dan Kak Rangga serta Kak Rani yang mulai melangkah meninggalkannya.
"Kamu bahagia Via...?" Tanya suster Tiara.
Via tersenyum, "Yaa suster sangat-sangat bahagia. Lihatlah mereka tampak begitu serasi." Ujar Via saat keduanya saling memakaikan cincin.
"Dear Love...
Kebersamaanku dengan kak Rangga memang cukup singkat, namun kebersamaan itu benar-benar membuatku menyayanginya. Aku tetap mencintainya walau saat itu kak Rangga telah berpacaran dengan Kak Rani. Bahkan aku rela menjadi kekasih gelapnya, karena aku tau kita masih memiliki rasa yang sama. Terkadang aku punya fikiran jahat untuk memisahkan mereka, dan Kak Rangga menjadi milikku seutuhnya. Tapi aku sadar semua ini terlalu egois. Apalagi saat aku mendengar Kak Rangga dan Kak Rani akan segera bertunangan. Hatiku sempat hancur saat itu, rasanya aku ingin menghilang dari dunia saat itu juga. Namun aku sadar, aku tak boleh menodai cinta suci yang tumbuh dihatiku.
Hingga suatu malam Kak Rangga melihat Kak Rani bergandengan mesra dengan cowok lain di mall yang sama. Kak Rangga menghampiri Kak Rani dengan emosi, entah apa yang mereka bicarakan, karena saat itu aku tetap bersembunyi. Dan kemudian Kak Rangga pergi meninggalkanku, dan di saat itu pula aku tau Kak Rangga kecelakaan dengan kondisi yang sangat parah. Aku melihat penyesalan Kak Rani saat di rumah sakit, karena saat itu diam-diam aku yang merawat kak Ranggaku, dan disaat itulah aku mengalah. Aku ingin menjadi orang pertama yang menjadi jalan agar Kak Rangga sembuh dan tetap melangsungkan pertunangannya. Dan akhirnya hari ini semua itu terlaksana. Aku sadar cinta tak harus memiliki, dan kurasa berkorban untuk cinta membawa makna tersendiri untukku..."
"Happy birthday Viaku sayang..." Rangga mencium kening Via.
"Kita foto dulu yuk..." ujar Kak Rani antusias sebelum Via meniup lilin. Ketiganya tampak begitu bahagia, terutama Via, wajahnya memancarkan aura kebahagiaan yang mendamaikan.
"Kak Rani, bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk berdua dengan kak Rangga?" Tanya Via setelah memotong kue.
"Silahkan Via sayang..." ujar Kak Rani tulus. Setelah mencium kening Via dan memeluk gadis manis itu, Rani melangkah meninggalkan Rangga dan Via. Bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Rangga membawa Via ke taman samping, tempat favorit Via, karena disana bunga mawar tumbuh dengan suburnya. Keduanya sama-sama diam, tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Menikmati alunan musik klasik yang mendamaikan.
"Kak Rangga... makasih yaaa buat semuanya. Kakak membuatku mengerti makna cinta yang sesungguhnya..."
"Via, sampai saat inipun Kakak masih sangat menyayangi Via..."
"Iya Via tau kok... begitupun Via. Tapi berjanjilah untuk selalu ada disamping Kak Rani apapun yang terjadi...Jangan pernah ada Via kedua setelah ini yaa!!!"
"Iya Via bawel...!!! Hei kamu sudah berusia 20 tahun loh, tapi sikapmu masih saja seperti anak-anak..."
Via tertawa, "Terus masalah buat kakak?"
"Yaaa setidaknya kamu akan membuat kakak rindu saat Via ngga ada di samping kakak..."
"Kakak tenang aja, meski raga Via ngga ada. Namun Via akan selalu ada di sini, di hati Kak Rangga..."
"Terimakasih malaikat kecilku..." Rangga membantu Via berdiri dan memeluknya.
"Aku mencintaimu Via, sangat menyayangimu... I Love you so much..."
"Begitupun aku kak, Love you too..." bisik Via lemah.
"Via, kamu...."
"Tetaplah seperti ini Kak, Via mohon..." ujar Via terbata-bata, nafasnya mulai tidak teratur. Rangga begitu khawatir, namun ia juga tak bisa menolak permintaan Via. Ia tetap memeluk gadis kecilnya itu.
*****


EmoticonEmoticon