Sore itu hujan rintik-rintik mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Karanganyar bagian timur. Membuat udara terasa semakin dingin, mungkin karena efek berada di Lereng gunung. Membuat tingkat kelembaban udara di daerah Tawangmangu cukup tinggi.
Di salah satu rumah di penghujung desa, tampak seorang anak tengah membenarkan perapian. Tak peduli meski asap membuatnya berkali-kali terbatuk. Ia hanya berusaha agar api tidak padam. Sekaligus menghangatkan dirinya yang mungkin kedinginan.
Kelangkaan dan mahalnya harga minyak tanah, membuat keluarga itu kembali menggunakan kayu bakar. Gadis itu terlihat begitu telaten mengganti kayu yang habis terbakar.
"Mbak, kue sumbunyu sudah matang?" Tanya seorang anak laki-laki kecil saat menghampirinya.
"Sebentar lagi ya dek, kamu lapar?"
Anak berusia empat tahun itu mengangguk. Membuat sang Kakak tidak tega melihatnya.
"Kamu tidur dulu ya, nanti kalau kue sumbunya sudah matang, Mba bangunin. Dari pada kamu di sini nanti kamu bau asap."
Aji mengangguk, dan melangkah pergi ke dalam rumah. Rani terdiam, gadis itu terlihat sedih. Keterbatasan ekonomi keluarga, membuat kedua orangtuanya harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan Bapak dan Ibu tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Dan harga sembako yang saat itu melambung tinggi, membuat singkong menjadi makanan pokok pengganti nasi.
Bagi Rani semua itu bukan menjadi masalah, namun ia tidak tega melihat adiknya yang masih kecil harus terus menerus memakan singkong. Atau yang ia kenal dengan kue sumbu itu. Namun dia bisa apa, ia masih kelas tiga SMP, belum mempunyai keahlian untuk bekerja dan menghasilkan uang.
"Ya Allah... sampai kapan kehidupan keluargaku seperti ini?" Sebulir air mengalir dari pelupuk matanya. "Mudahkan rezeki keluarga hamba Yaa Rabb."
***
Rani adalah anak ke empat dari lima bersaudara. Kedua kakaknya sudah bekerja di luar kota. Sedangkan kakak pertamanya menderita sebuah penyakit yang mengharuskannya mendapatkan obat setiap bulannya. Karena kalau tidak, penyakitnya akan kambuh. Dan dia akan terlihat seperti orang kesurupan saat itu. Mungkin itu sejenis obat penenang, dan obat itu bukanlah obat yang murah.
Setiap bulan Ibu harus mengumpulkan uang yang tidak sedikit untuk membiayai pengobatan kakak pertamanya. Rani seringkali menangis, saat jatuh tempo kakak harus berobat dan saat itu orang tuanya tidak memiliki uang sepersen pun. Ia tidak tega melihat Ibunya kesana-kemari mencari pinjaman, itupun tidak selalu dapat.
Hal itu membuatnya rela tidak mendapatkan uang jajan, ia bisa menahan diri untuk tidak jajan. Ia sudah besar dan bisa memahami kondisi ekonomi keluarganya. Tapi tidak untuk adiknya yang masih kecil, ia tidak tega melihat adiknya menangis merengek meminta uang jajan. Karena Aji tidak akan pernah mengerti kalau Ibu tidak mempunyai uang saat itu. Dia masih terlalu kecil untuk memahami keadaan ini.
Kepahitan hidup yang dialaminya selama ini, membiatnya tumbuh menjadi sosok remaja yang kuat. Ia bersyukur memiliki keluarga yang tetap bersabar menghadapi cobaan ini. Dan orang tua yang tak pernah berhenti menyemangatinya untuk terus berprestasi.
"Coba Ran, sepertinya singkongnya sudah matang." Kata Bapak, membuyarkan lamunan Rani.
"Iya Pak." Rani membuka tutup panci dan mengeceknya, ternyata singkongnya memang sudah matang. Ia bergegas memindahkannya ke piring. Dan membawanya masuk.
Adiknya tertidur pulas saat itu. Kasihan sekali dia, pasti dia sangat lapar. "Dek, bangun yuk! Makan dulu, kue sumbunya sudah matang." Bisik Rani dengan penuh kasih sayang. Ia memotong gula aren kecil-kecil dan meletakkannya di meja. Singkong dan gula aren itulah yang mengganjal perut mereka beberapa hari ini.
"Ran, apinya masih nyala?"
"Masih Bu, sepertinya bapak sedang merebus air."
"Tolong petik bayam ya Ran, untuk campuran mie."
"Baik Bu," Rani bergegas ke kebun. Hujan tidak terlalu deras sehingga ia tidak menggunakan payung. "Pasti Ibu kas bon lagi." Batin Rani sedih. Ibunya selalu berusaha agar mereka tetap bisa makan dengan makanan yang layak dan bergizi.
Menu makan malam kali ini Mie Rebus sayur bayam dan singkong, walau dengan menu yang sederhana, nikmatnya begitu terasa. Aji dan Mas Panji terlihat begitu lahap.***
1 comments:
Nama itu mengingatkan pada seseorang..
suasana itu juga mengingatkan di masa waktu aku masih kecil...
EmoticonEmoticon