Malam semakin larut, namun Ayra tetap duduk di balkon atas sembari menikmati bintang-bintang yang bertebaran.
"Kayaknya lagi galau nih." Ujar Samuel. Ia duduk disamping Ayra sembari memainkan gitar. "Kayaknya lagu ini cocok buat perasaan Lo yang lagi campur aduk rasanya..." Samuel menyanyikan lagu Afgan yang berjudul "Terima Kasih Cinta".
Ayra menghapus air matanya yang terjatuh. "Lo emang bukan kakak yang baik, bukannya menghibur malah bikin gue tambah nangis. Tega banget sih Lo!!!" gadis mungil itu pura-pura marah.
"Yahhh,,, serba salah deh gua! Niatnya mau ngehibur malah dibilang kakak yang ngga baik. Kurang baik gimana coba gua dek? lagian lo kenapa sih?!!"
"Ayra mendesah, Lo pernah jatuh cinta ngga kak?" ia menatap kakak satu-satunya itu.
Samuel hanya menganggukk, "Cinta itu apa yah???" Kapten basket itu pura-pura berfikir.
"Cinta itu dilema..." jawab Ayra sedih.
"Why?"
"Yah, itu sih kak yang gue rasakan. Awalnya emang penuh dengan kebahagiaan, tapi ternyata hanya sebentar. Sementara luka yang ditinggalkan begitu sulit untuk dilupakan. Apalagi masih mencintai orang yang sudah mempunyai kekasih dan orang itu masih menyayangi kita. Rasanya gue pengen amnesia, dan ngga pernah ingat kalau gue pernah mengenal dia..."
Samuel mengacak-acak rambut adik kesayangannya itu. "Ceileh, sampai segitunya."
"Sakit banget kak rasanya," bisik Ayra sedih. Air mata sudah mengintip di pelupuk matanya. "Gue ingin melupakan, gue ingin pergi, dan membuang jauh-jauh perasaan ini. Tapi sampai sekarang gue ngga bisa kak..."
"Gue ngerti apa yang Lo rasain Ay," Samuel memeluk Ayra. Mencoba menghibur dan menenangkan gadis cantik itu. Kisah cinta Ayra memang rumit. Ia masuk ke dalam sebuah kisah cinta segitiga. Dimana Ayra begitu menyayangi Ruvel, sedangkan kini Ruvel sudah memiliki kekasih. Namun cowok itu juga masih mencintai Ayra. Dan kini mereka menjalin sebuah hubungan, tanpa sepengetahuan Mira, kekasih Ruvel yang baru.
"Gue yakin suatu hari nanti Elo bisa mengambil sebuah keputusan, dan Elo akan menemukan sebuah kebahagian dari jalan lain. Bukan dari Ruvel." ujar Samuel. Hanya nasehat yang bisa Samuel berikan untuk adiknnya. Ia belum menemukan cara yang tepat untuk membuat adik kesayangannya terlepas dari dilema ini.
"Thank's yaa Kak, Elo selalu ada buat gue, selalu suport gue, dan buat gue selalu kuat." Ayra menghapus air matanya. "Gue bakalan belajar sedikit demi sedikit untuk melupakan Ruvel, meski semua itu butuh proses."
(Bersambung)
EmoticonEmoticon